APAKAH             FESTIVAL           OWLERY

 

Yang Terindah

by: ms_wazlib

Tipe: One shot
Rating: PG
Genre: Drama
Karakter: Trio, Ginny, Dobby
Bahasa: Indonesia
Disclaimer: JK Rowling


Sarapan di aula besar pada hari ulang tahunnya yang ke 18 belum pernah seasik ini bagi Hermione. Burung-burung hantu tiada hentinya mengirimkan kado dan surat ataupun kartu ucapan untuknya. Mr. dan Mrs. Weasley mengiriminya pai daging, Hagrid menghadiahinya tar karamel buatannya sendiri, Fred dan George memberikan barang-barang dari toko mereka (Hermione tidak begitu suka ini), dan orang tuanya mengirimkan kartu dan beberapa foto mereka selama liburan di Italia. Viktor Krum bahkan jauh-jauh mengiriminya kartu ucapan. Ia mengatakan ia sangat berharap bisa berkunjung lagi ke Hogwarts untuk menemui Hermione. Harry membelikan Hermione sebuah tas sekolah baru dan Ron menghadiahinya sebuah bros berbentuk mawar. Hermione langsung menyematkannya di samping lencana Ketua Muridnya. Ron tampak sangat tersanjung.

Harry dan Ron sedang larut dalam percakapan mengenai Piala Dunia Quidditch yang akan diselenggarakan di Australia. Mereka memperkirakan kemungkinan Inggris untuk memenangkan Piala Dunia kali ini.Tiba-tiba saja seekor burung hantu lain menjatuhkan sehelai perkamen di meja di hadapan Hermione. Ia langsung membacanya.
“Selamat ulang tahun. Temui aku malam ini di Kamar Kebutuhan jam 8.”

Hermione buru-buru menggulung perkamennya lagi, tetapi deretan tulisan rapi itu terus menerus menghantui pikirannya. Tulisan itu begitu rapi sehingga terkesan diketik. Tidak banyak yang tahu tentang Kamar Kebutuhan, dan tulisan itu terlihat familiar. Mungkinkah...

“Dari siapa?” Tanya Ron sambil mengunyah rotinya.

“Bill dan Fleur.” Hermione berbohong. Ia menghindari pandangan Harry dan Ron.
Rupanya Harry dan Ron tidak begitu peduli. Dalam sekejap mereka sudah seru mendiskusikan Oliver Wood yang menjadi keeper cadangan Inggris.



Hermione tampak tidak bergairah hari itu. Tampaknya Ia kehilangan kebiasaannya memborong semua pertanyaan guru dan menyumbangkan banyak sekali angka untuk Gryffindor.

Profesor Slughorn sedang seru menceritakan mantan muridnya yang bernama Lybapas Brapfu. Dengkur Ron bisa terdengar paling tidak di radius tiga meter.

“Kau ini kenapa sih? Ceria sedikit donk, ini kan hari ulang tahunmu.” Tanya Harry.

“Tidak apa-apa.” Jawab Hermione tegas. Ia berusaha menyembunyikan perasaannya saat itu, yang tampaknya gagal ia lakukan.

“Tidak mungkin...” Kata Harry sambil memandang Hermione serius. “Ayolah, kita kan teman.” Desaknya.

“Bukankah sudah kubilang aku tidak apa-apa?” Hermione melempar pandangan galak pada Harry.

Ron mendengkur pelan.

Harry mengangkat bahunya. “Ya sudah kalau tidak mau cerita.” Ia membetulkan posisi duduknya. “Dasar cewek.” Gumamnya.
Sedetik kemudian Hermione merasa bersalah pada Harry yang telah berbaik hati mau membantunya. Ketika ia menoleh, ingin memberitahu Harry. Harry sudah bergabung bersama Ron di alam mimpi.



Harry dan Ron tidak muncul waktu makan malam karena ada latihan Quidditch. Hermione pada akhirnya memutuskan untuk pergi. Tidak akan ada yang berani macam-macam di Hogwarts, apalagi dia adalah Ketua Murid dan lebih-lebih, ia rasanya mengenal tulisan itu.

Hermione melirik ke arlojinya. Sudah waktunya. Ia langsung bergegas menuju ke Kamar Kebutuhan.

Ia menarik napas dalam-dalam sebelum memasuki Kamar Kebutuhan. Tidak akan terjadi apa-apa. Ia membatin dalam hati.

Ia melangkah masuk ke dalam Kamar Kebutuhan, dan seketika saja ruangan itu dipenuhi oleh teriakan “KEJUTAN!”

Benar-benar tidak disangka! Harry, Ron, Ginny, dan Dobby berdiri di tengah ruangan yang sudah ditempeli balon dan pita warna-warni di mana-mana. Hermione menutup mulutnya dengan tangannya dan tiba-tiba saja matanya sudah banjir air mata.

“Oh! Kalian!” Pekik Hermione seraya Dobby mendekat ke arahnya.

“Dobby mengucapkan selamat ulang tahun kepada Miss Granger.” Dobby menunduk begitu dalam sehingga hidungnya yang panjang menyentuh lantai. “Dobby dan peri-peri rumah lainnya di dapur telah membuatkan hadiah spesial untuk Miss Granger. Lihat!” Dobby menarik tangan Hermione ke sebuah meja di tengah-tengah ruangan. Di situ terpampang kue tar yang bersusun-susun, dihiasi oleh strawberry yang sudah disihir menjadi berwarna-warni.

“Baik sekali kalian!” Seru Hermione. Ia terpaku pada kue itu dan sedikit merasa bersalah karena itu membuat para peri rumah bekerja ekstra. Ia membelai kepala Dobby yang botak dan Dobby gemetar saking senangnya.

“Miss Granger membelai kepala Dobby... Miss Granger membelai kepala Dobby... Dobby tidak akan mandi berhari-hari!” Pekik Dobby. “Mr. Wheezy-lah yang memerintahkan kami untuk memakai strawberi, katanya Miss Granger suka sekali dengan strawberi! Jadi kami pikir menambahkan sedikit warna akan memperindah suasana!”
Hermione menoleh kepada Ron yang sedang mengamati Dobby mengelus-elus kepalanya. Ada senyum di wajah Ron yang jarang sekali dilihat Hermione. “Oh Ron! Kau membuat mereka bekerja ekstra!” Seru Hermione, tapi ia sama sekali tidak terkesan marah.

Harry dan Ginny senggol-senggolan dan terkikik pelan. Mereka memberi tanda kepada Ron, kemudian Ron mengedipkan matanya. Ron berbalik ke Dobby dan menganggukan kepalanya.

Dobby kemudian mengeluarkan biola entah darimana dan kemudian memainkannya. Permainan yang sangat buruk, tapi setidaknya suasana romantis yang hendak disampaikan bisa dirasakan sedikit.

Hermione mengernyitkan dahinya. Ron melambaikan tongkatnya dan muncullah tulisan-tulisan berwarna emas di udara.
“Tiada yang lebih kuiinginkan daripada menjadi bagian dari hidupmu selamanya. Maka kini jawablah aku, maukah kau juga menjadi bagian dari hidupku?”

Hermione menunduk. Badannya bergetar. Harry dan Ginny nyengir sementara Ron berharap-harap cemas. Akhirnya setelah jeda yang lumayan lama, Hermione menengadahkan kepalanya. Wajahnya penuh dengan air mata.

“OH RON!” Pekiknya. “Kau memang orang yang paling menyebalkan di seluruh dunia!”

Cengiran di wajah Harry dan Ginny lenyap. Sekarang gantian Ron yang gemetaran. Ia menoleh pada Harry dan Ginny untuk meminta pertolongan dan Harry dan Ginny malahan tidak membantu sama sekali.
“Sudah bertahun-tahun kau menjadi teman baikku! Dan baru sekarang kau mengatakan hal ini! Kau benar-benar keterlaluan Ron! Aku hampir mati saking kesalnya! Sebegitu susahkah mengatakan hal ini padaku?” Jerit Hermione.

Dobby menghentikan permainan biolanya dan langsung berdisapparate tanpa pamit. Harry dan Ginny mengelus dada dan kembali tersenyum lebar.

“Jadi...” Tanya Ron gagap. “J-jadi... maukah kau?” Ron mengumpulkan keberanian untuk menyelesaikan kalimatnya.

“Tentu saja aku mau, bodoh!” Hermione langsung melempar dirinya ke pelukan Ron. Ginny menari-nari seperti orang baru memenangkan lotere.

“Kau tahu, Hermione... Aku dan Harry sudah berusaha sekuat tenaga untuk membuat emosi Ron lebih lebar sedikit... Paling tidak sebesar sendok makan lah...” Kata Ginny sambil nyengir. Hermione yang sekarang menggandeng tangan Ron tersenyum tolol. Entah apa yang harus ia jawab.

“Baiklah. Sudah cukup tugas kami sebagai pendorong semangat dan saksi. Kami tadinya tidak mau datang, kau tahu. Tapi Ron memaksa.” Kata Harry. “Dah...” Harry dan Ginny melambai dan berjalan bergandengan keluar Kamar Kebutuhan, meninggalkan Hermione dan Ron yang sedang berdiri canggung.




Di luar Kamar Kebutuhan, Harry mengeluarkan jubah gaib dan Peta Perampoknya. Berusaha mencari-cari jalan paling aman yang bebas dari Mrs. Norris dan Filch untuk kembali ke menara Gryffindor.

“Tunggu, Harry!” Seru Ginny sambil memegang tangan Harry. Tangan satunya lagi mencari-cari dalam kantongnya. Kemudian ia mengeluarkan Telinga Terjulur dan menempelkannya pada pintu Kamar Kebutuhan. “Aku ingin tahu apakah Ron melakukan apa yang kita perintahkan.”

“Sudahlah Ginny, tinggalkan mereka berdua.” Kata Harry lembut. “Ron akan memberitahukan segalanya. Meskipun aku tak yakin 100%.”
Harry dan Ginny saling pandang selama beberapa detik, kemudian Ginny mengangguk, dan mereka kembali ke menara Gryffindor.


***

comments pls! Smile

Kembali

Hosted by www.Geocities.ws

1