|
Twelve
by:
Devspar_Zero
Rating : R kali...
Genre : Nyampur-nyampur...
Chapter One : Genocide Begins...
Eropa, dini hari...
Badai salju yang lebat memaksa para orang untuk tetap diam
di rumah. Tak ada orang yang cukup berani untuk ke luar
rumah, siaran radio dan televisi lumpuh akibat badai yang
berkepanjangan. Seluruh komunitas mauggle terisolasi. Namun
hal itulah yang paling diinginkan oleh Voldermort. Dia tak
ingin ada gangguan dari para Muggle rendahan itu.
Muggle-Muggle tak tahu sihir yang kerjanya hanya bisa
mengotori dunia ini dengan darah lumpur mereka. Pandangannya
kemudian beralih dari jendela menuju jejeran tabung-tabung
raksasa seukuran tubuh manusia yang berisi cairan berwarna
hijau.
Di sampingnya berdiri seorang Muggle yang memakai jas putih.
Jari jemarinya dengan tangkas mengetikkan rumus dan angka ke
dalam layar super-komputernya.
"Bagaimana hasilnya, muggle?", mata ular dari Voldemort sama
sekali tidak melirik ke arahnya, pertanda bahwa kalau saja
muggle ini tidak memiliki kemampuan yang diperlukannya,
Voldemort sudah pasti akan membunuhnya.
"Tahap pertama sudah selesai, my lord. Sebentar lagi
hasilnya akan tampak."
"Bagus."
Dan untuk pertama kalinya, Voldemort tertawa, tertawa puas.
***
Sahara, tengah hari...
Craw berdiri di tengah gurun pasir tersebut. Rintik-rintik
hujan yang turun secara perlahan mulai membasahi jubah
hitamnya. Di pinggangnya terselip sebuah pedang hitam dengan
urat-urat yang berdenyut hidup yang tergrafir di
sisi-sisinya, dan di hadapannya sebuah makhluk yang tidak
kalah garang, seekor Emperor Wurm setinggi 20 meter, dengan
mulut melingkar yang dihiasi gigi-gigi tajam yang mampu
melubangi sebuah kapal tanker dengan sekali lahap.
"Kau yakin ini Wurm-nya, Alphos?", suara Craw dibawa oleh
sebuah earphone mini di telinganya, menuju ke sebuah satelit
yang berada di ketinggian 5 kilometer di atas atmosfer bumi,
untuk kemudian dipantulkan kembali ke sebuah gedung di
Amerika Serikat.
"Lakukan saja tugasmu, Craw. Kamu tidak dibayar untuk
bertanya."
"..."
Craw menekan sebuah tombol kecil di earphonenya untuk
memutuskan hubungan satelit. Emperor Wurm itu, menggeliat
liar, dan langsung menerkam ke arah Craw begitu mencium
baunya.
"Bodoh."
Belum sempat Emperor Wurm itu menelannya, tubuh cacing
raksasa itu sudah terbelah menjadi ratusan bagian akibat
angin penyayat yang dikeluarkan oleh berpuluh tebasan pedang
yang amat cepat. Hujan darah berwarna hijau membasahi pasir,
mengubah padang itu menjadi kuburan seekor Emperor Wurm.
Craw membersihkan jubahnya dari darah hijau lengket yang
berasal dari makhluk yang baru dibunuhnya, ketika
rintik-rintik hujan itu mulai berubah menjadi hujan deras.
Mata hitam dari Craw menatap ke atas seakan meminta
penjelasan.
"Genocide telah dimulai...", gumam Craw.
Sebuah mimpi...
Sebuah mimpi bisa berarti banyak hal.
Ada kesenangan, kesedihan, kasih sayang dan kebencian.
Apakah kamu masih mengenalku?
Apakah kamu masih mengingatku?
Craw?
"Dia bertahan."
<Tidak.>
"Dia terus mempertahankan kehidupan lamanya seolah-olah
semua itu berarti."
<Jangan lagi.>
"Tapi sebentar lagi dia akan mengerti."
<Jangan mimpi ini lagi. Tolong siapapun juga, hentikan mimpi
ini.>
"Sebentar lagi kalian semua akan mengerti."
<AAHHHH!>
Craw terbangun dari tidurnya. Tubuhnya penuh dengan keringat
dingin akibat mimpi buruk barusan. Dalam kegelapan,
tangannya meraih tape recorder mini yang terletak di atas
meja di samping tempat tidurnya.
"Jam 3 lewat 5 menit. Mimpi buruk itu terulang kembali.
Dokter mengatakan supaya aku tetap mengkonsumsi SD (Surpressor
Drug, sebuah obat kimia yang membuat pengkonsumsi mengalami
tidur tanpa mimpi), tapi aku yakin mimpi-mimpi ini berarti
sesuatu."
"Mimpi buruk ini semakin lama semakin jelas dan semakin
panjang. Apakah ini adalah masa laluku yang terlupakan
ataukah masa depan yang pasti terjadi. Aku tak tahu. Tidak
ada petunjuk yang jelas di dalam mimpi tersebut. Mula-mula
hanya kegelapan, kemudian adanya cahaya, dan setelah itu...
entahlah, ingatanku terkadang dikaburkan oleh kabut. Kabut
yang entah kenapa selalu menghalangiku untuk mengingat
sesuatu yang penting."
Sebuah kesunyian melanda sementara Craw mencoba untuk
mencari kata-kata berikutnya, namun tidak ada satupun yang
terpikirkan. Jemari Craw mengarah ke tombol off.
"Rekaman berakhir."
Craw menekan tombol off di recordernya, dan dengan malas
berjalan menuju kamar mandi. Telepon yang terletak di
dinding spontan berbunyi. Tidak mempedulikannya, pemuda
bermata hitam itu meneruskan mandinya. Semenit kemudian,
terdengar suara dari telepon tersebut.
"Craw? Kamu disana? Ada kasus baru, kementerian menyuruh
kita untuk menyelidiki tentang hilangnya beberapa penyihir
mereka. Jika kamu bersedia. Semua yang kamu perlukan ada di
tempat biasa. KLIK."
"Hmph... Kelihatannya kuda pekerja seperti aku tak akan
pernah bisa beristirahat."
Kembali |