APAKAH             FESTIVAL           OWLERY

 

Tidak, Untukmu

by: Ireth Halliwell

* Rating: PG for kissing scene
* Genre: Romance
* Tokoh Utama: Bill Weasley dan Fleur Delacour
* Disclaimer: Tokoh adalah milik J.K. Rowling

Suasana malam itu di rumah keluarga Weasley begitu hangat. Semuanya berkumpul, bahkan Mrs. Weasley mengundang Harry dan Hermione untuk menginap di Burrow. Semuanya. Kecuali Bill.

Aneh bukan? Kini malah Percy—yang biasanya meringkuk di Kementrian Sihir untuk menghindari keluarganya—sedang duduk manis di kursinya sambil menertawakan Fred dan George yang melempari Ron dengan sawi.

Bill, sebaliknya, sekarang sedang di luar negeri dan sedang mengunjungi kekasihnya yang keturunan Veela itu. Rasanya sangat ganjil kalau Bill lebih memilih pergi ke Perancis dan bertemu Fleur Delacour daripada ikut makan malam yang hangat di rumahnya. Lalu apa yang sebenarnya terjadi?

“Sayang, aku zenang zekali kau bisa datang,” Fleur yang malam itu memakai gaun merah terbaiknya, menyapa Bill yang tiba di depan pintu rumahnya. Lalu mengecupnya di bibir. “Masuklah.”

Sebenarnya, rumah Fleur lebih mirip kastil. Karena rumahnya hampir seluas dua kali lipat lapangan Quidditch. Lantainya dari marmer Italia, dengan pilar-pilar tinggi menopang langit-langit yang dicat warna krem. Gorden di jendela semuanya dikirim langsung dari Tunisia. Sofa-sofa yang dilapisi kulit asli dan perapian dari batu bata terbaik. Kau hampir bisa mencium aroma campuran batu bata dan kayu terbakar menjadi satu.

Bill melangkah masuk dan melepaskan jubahnya. Ia meletakkan jubahnya di gantungan di dekat pintu. Wajahnya terlihat tidak terlalu gembira. Fleur tiba-tiba memeluknya setelah menutup pintu. Bill sedikit terkejut, tapi ia membalas pelukan Fleur.

“Aku zenang kita bisa berduaan di zini. Aku benar-benar merindukanmu, Bill,” ucap Fleur riang. Lalu ia melepaskan pelukannya.

“Aku juga senang bisa bertemu denganmu lagi,” balas Bill. “Kau tak mempersilakan aku untuk duduk?”

“Astaga! Duduklah, sayang. Kubuatkan coklat hangat untukmu, kau kelihatan kedinginan sekali,” Fleur mengantar Bill duduk di ruang tamu lalu memanggil salah satu pelayannya untuk membuatkan coklat hangat.

“Nah, zebentar lagi coklat hangatmu tiba,” kata Fleur lalu duduk di samping Bill.

“Kukira kau yang akan membuatkanku?” tanya Bill heran. Fleur mengernyitkan dahinya.

“Ya, maksudku...”

“Lupakan saja,” potong Bill. Mereka terdiam sejenak. Lalu Bill bereaksi, “Fleur, aku lelah.”

“Oh dear, aku zudah ziapkan kamarmu. Kamar paling bagus di rumah ini. Kuantar?” Fleur berdiri dan mengulurkan tangannya pada Bill. Bill menggapainya.

“Kali ini kau sendiri yang mengantar?” tanya Bill. Fleur malah melandaskan bibirnya pada bibir Bill. Kemudian ia menarik lengan Bill dan membawanya ke lantai dua.

“Ini dia!” setiba di kamar yang disediakan untuk Bill, Fleur melambaikan lengannya ke seluruh ruangan dan memaksa Bill untuk terpana dengan pemandangannya.

Kamar yang Fleur tunjukkan memang bagus dan luas. Ada tempat tidur yang cukup untuk empat orang di ujung ruangan, lemari baju yang besar di ujung yang satu lagi, sebuah cermin ekstra besar di sampingnya, lukisan Fleur sedang tersenyum dengan ukuran raksasa, dan sebuah pintu yang sepertinya menuju ke kamar mandi di ujung satunya lagi. Ada empat pojokan, dan semuanya terisi.

Rasanya Bill bisa membayangkan ia akan membutuhkan waktu setidaknya dua menit untuk melangkah dari kamar mandi ke lemari pakaian lalu bercermin.

“Kau menyukainya?” tanya Fleur. Bill hanya menjawabnya dengan anggukan.

“Selamat malam, Fleur,” Bill mengecup Fleur, “sampai ketemu besok pagi.” Lalu Bill menutup pintu kamarnya.

**

“Zelamat pagi!” pintu kamar Bill terbuka dengan satu hentakan. Fleur menerobos masuk dan berjalan dengan anggun seperti biasa. Ia membawa sebuah nampan dengan sebuah cangkir yang berasap di atasnya.

Bill terbangun dengan jantungnya berdebar-debar. Sepertinya ia mengalami kesulitan tidur semalam, di bawah matanya terdapat lingkaran hitam dan wajahnya sedikit pucat. “P-pagi,” ucap Bill setengah hati.

“Sayang, kemarin kau belum zempat meminum coklat hangatmu. Ini kubuatkan lagi. Kali ini aku membuatnya zendiri. Khusus untukmu,” Fleur duduk di samping Bill di tempat tidur dan meletakkan nampannya di pangkuannya.

Dengan kepala masih berat, Bill berusaha bangun dan duduk. Fleur menyodorkan coklat hangatnya. Setengah berbisik, Bill mengucapkan terima kasih lalu menyeruput minumannya.

“Uhuk!” Bill tersedak.

“Pelan-pelan minumnya,” kata Fleur sambil menepuk pelan punggung Bill. “Kurasa masih panas, nanti saja minumnya. Bill mengangguk.

Fleur memandangi Bill sebentar kemudian mengernyit. Tangannya menyentuh dahi Bill. Tidak panas.

“Bill? Kau tidak apa-apa? Kau pucat sekali, padahal suhu tubuhmu baik-baik saja,” ujar Fleur gusar. Ini pertama kalinya Fleur terlihat khawatir.

Bill menyentuh pipi Fleur dan menatapnya lekat, “Aku tak apa-apa. Cuma butuh istirahat. Aku ingin bicara denganmu, tapi nanti saja. Sekarang maukah kau meninggalkanku sebentar?”

Fleur membalas dengan tatapan tidak rela. Ia memeluk Bill lalu pergi begitu saja. Dan Bill pun kembali terlelap.

**

Fleur sedang duduk di sebuah kursi di balkon. Ia sedang menikmati kesejukan hari itu. Matahari bersinar cerah, tapi tidak menyengat. Pemandangan kota Perancis di siang hari pun terlihat begitu menakjubkan dengan bangunan-bangunan lainnya yang ditempa matahari. Fleur terdiam, memperhatikan apa yang dilihatnya.

Sebuah sentuhan mendarat di bahunya. Lalu sebuah kecupan, diikuti sebuah bisikan, “Sudah kuduga kau akan berada di sini.” Bill memutar tubuhnya melewati Fleur lalu duduk di kursi yang kosong di samping Fleur.

“Indah sekali, bukan? Zungguh sebuah keajaiban, aku bisa menyaksikan semua pemandangan ini. Dan dengan kau bersamaku, aku zudah merasa zangat bahagia,” kata Fleur, menoleh dan memandang Bill, sebelum memalingkan wajahnya lagi dari Bill. “Tapi entah, zaat ini aku merasakan zesuatu. Tadi aku membaca daun teh, mengerikan zekali. Kau tahu hasilnya? Tikus. Itu artinya aku akan kehilangan zesuatu yang zangat aku sayangi. Kuharap itu bukan kau.”

Jantung Bill berdegup kencang saat Fleur mengucapkan kalimatnya yang terakhir. Tapi Bill tidak berkomentar apapun. Ia tetap diam. Menunggu Fleur terus berbicara. Hingga akhirnya tidak ada yang berbicara, karena Bill hanya terus memandangi wajah Fleur yang serius.

“Fleur,” ucap Bill tiba-tiba lalu berdiri.. Ia membelakangi Fleur dan menyandar di balkon. “Aku ingin mengatakan sesuatu.”

“Apa?” tanya Fleur pendek. Hal ini justru membuat Bill salah tingkah. Ia ingin mengaku, tapi ia tidak ingin ada yang kecewa.

“Aku ingin kau tahu, aku sangat bahagia bisa bersamamu selama ini. Dan aku senang kalau aku bisa membantu melancarkan bahasa Inggrismu,” Bill berbalik membelakangi balkon dan kini mendekati Fleur. “Tapi aku ingin mengatakan tidak.”

Wajah Fleur bertanya-tanya, “Apa maksudmu?”

“Maksudku, seharusnya aku tidak pernah kemari. Seharusnya kemarin aku ikut makan malam bersama keluargaku. Kau tahu, Percy sudah kembali dan harusnya aku ikut bersenang-senang. Sudah lama aku tidak berkumpul dengan keluargaku. Seandainya saja dulu aku tidak pernah terpikat olehmu.”

“Apa maksudmu!” saat ini Fleur sudah berdiri dan menjauhi Bill. Wajahnya terlihat buruk sekali dan basah karena air mata. Untunglah dia bukan Veela asli.

Bill tidak melakukan apa-apa. Ia hanya terdiam dan membiarkan Fleur menangis, berteriak sepuasnya. Suara tangisan Fleur hampir seperti tangisan Banshee.

“Aku mencintaimu, Bill,” ujar Fleur setelah tangisnya mereda. “Kenapa kau berkata zeperti itu? Kenapa kau berharap kau tak pernah terpikat olehku? Kau jahat zekali.”

“Maaf, Fleur. Aku bukan orang yang pandai berkata-kata, jadi sebaiknya kukatakan saja apa yang kurasakan. Maaf kalau aku menyakiti hatimu,” kata Bill. Ia mendekati Fleur lalu menyentuh lembut pipinya. “Aku akan pulang ke Burrow.”

Bill berjalan ke arah pintu dan menghilang di baliknya. Dia tahu bahwa ini adalah keputusan terbaik baginya dan bagi Fleur. Setelah sekian lama memendam perasaan terhadap Fleur, akhirnya ia tahu bahwa sebenarnya bukan Fleur yang dia inginkan.

Dengan sekali ayun, tongkat sihirnya telah membawanya kembali ke halaman rumahnya. Bill mengetuk pintu rumahnya dan disambut ceria oleh Ginny yang membukakan pintu. Seluruh keluarganya sedang berkumpul di dapur bersama Harry dan Hermione. “Selamat datang, Bill!” sambut keluarganya. Bill tersenyum lega. Inilah yang ia inginkan.

**

 

Kembali

Hosted by www.Geocities.ws

1