CHAPTER X: THE TWO SEEKERS
Dua minggu telah berlalu semenjak pertempuran hebat di
Azkaban yang merenggut nyawa sebanyak dua puluh tujuh orang
tersebut.
Pada hari ini di gedung Kementrian Sihir sedang berlangsung
pertemuan tahunan antara seluruh pemimpin-pemimpin negara
sihir seluruh Eropa. Dan sesuai rencana, Menteri Sihir Rufus
Scrimgeour sedang berusaha agar negara-negara tetangga
bersedia membantu Kementrian Sihir Inggris dalam melewati
masa-masa gelap ini.
“....Maka kesimpulannya, maraknya aktifitas dari
Dia-yang-namanya-tak-boleh-disebut bukan hanya masalah dari
Kementrian Sihir Inggris, tapi juga seluruh Pemerintahan di
benua ini. Terima kasih,” Scrimgeour menutup pidatonya.
“Menteri Scrimgeour akan menjawab beberapa pertanyaan,”
moderator pertemuan ini berkata pada pemimpin-pemimpin eropa
yang hadir.
Yang mendapat kesempatan pertama untuk mengajukan pertanyaan
adalah Menteri Sihir negara Belgia. “Pak Menteri, apa
sebenarnya yang telah dilakukan oleh pemerintahan anda untuk
mengatasi masalah ini?”
Scrimgeour menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan lugas dan
tenang. Dia mengatakan bahwa dia telah memerintahkan untuk
memperketat pengawasan para auror di tempat-tempat strategis.
Departemen Sihir Penegak Hukum juga telah menambah jumlah
auror dengan mempermudah syarat perekrutan.
Yang berikutnya mengajukan pertanyaan adalah wakil Menteri
Sihir Perancis. “Menurut rumor yang beredar, orang yang
dijuluki sebagai yang terpilih, atau The Chosen One untuk
mengalahkan Lord ... kau tahu yang kumaksud, telah
menyeberang ke pihak kegelapan. Apa ini benar? Dan apa
tindakan anda dalam menyikapi hal ini?”
Raut wajah Scrimgeour langsung berubah tegang mendengar
pertanyaan ini. Dia tahu cepat atau lambat akan ada yang
menanyakan hal ini. “Justru julukan Sang Terpilihlah yang
hanya rumor belaka. Tapi kami membenarkan bahwa memang ada
indikasi Harry Potter terlibat kegiatan pelanggaran hukum.
Saat ini kami berusaha semaksimal mungkin mencari Mr Potter
dan mengklarifikasikan hal ini.”
Seseorang yang duduk di bangku tamu mendengus mendengar
penjelasan dari Scrimgeour. “Tidak perlu ada klarifikasi,
langsung saja jebloskan si Potter sialan itu ke Azkaban.”
Seorang penyihir pria yang duduk di sebelahnya mendengar
perkataan tersebut. “Anda yakin Potter benar-benar telah
menjadi Death Eater, miss Umbridge?”
“Kenapa tidak? Dari dulu aku sudah yakin anak itu bermasalah.
Berteman dengan setengah raksasa dan werewolf. Aku tidak
akan terkejut kalau suatu saat nanti bocah itu akan menjadi
dark lord selanjutnya. Bahkan saat ini aku yakin dia telah
menjadi tangan kanan kau-tahu-siapa.” Dolores Umbridge
berkata dengan penuh kebencian.
“Tetapi banyak yang percaya hanya dia yang mampu mengalahkan
kau-tahu-siapa. Dia pernah melakukannya sekali. Kurasa dia
bisa melakukannya lagi.”
“Kau sangat naif, Smith. Segala omong kosong tentang dia
adalah Sang Terpilih itu pasti hanya trik Potter untuk
mendapatkan lebih banyak perhatian lagi. Kau tidak tahu
Potter. Aku sendiri pernah menjadi pengajarnya. Dia hanyalah
orang yang haus perhatian dan akan mendapatkan apa saja
untuk mendapatkannya termasuk bergabung menjadi Death
Eater.”
Smith tidak ingin meneruskan argumennya. Maka dia kembali
memusatkan perhatiannya pada sesi tanya jawab yang sedang
berlangsung. Tapi dia teringat sesuatu, “miss Umbridge,
kenapa putrimu tidak hadir?”
“Kau belum dengar? Dia sekarang bekerja di Departemen
Misteri. Itu terjadi satu tahun yang lalu”
“Kenapa? Wanita muda penuh potensial seperti dia kenapa
menyia-nyiakan kemampuannya di tempat seperti Departemen
Misteri?”
“Itu yang kukatakan,” gerutu Umbridge, “dia sepertinya kesal
dengan perlakuan Menteri Fudge dua tahun yang lalu pada
Dumbledore dan Harry Potter. Si Allison dari dulu memang
terlalu mengagumi Dumbledore.”
“Tapi seharusnya Allison mengerti kalau waktu itu memang
buktinya kurang. Aku sendiri tidak percaya kau-tahu-siapa
sudah kembali.” Kata Smith.
“Benarkah?” Umbridge menatap Smith, “kalau begitu kenapa
nama anakmu terdapat pada daftar anggota kelompok terlarang
yang bernama D.A?”
Smith mengangkat bahunya, “aku sendiri tidak tahu. Kukira
Zack juga setuju denganku pada saat itu. Mungkin dia hanya
ikut-ikutan.”
“Kalau Allison masih di Hogwarts pada saat itu, kurasa
namanya juga akan ada di daftar tersebut,” ucap Umbridge.
“Kenapa kau berpikiran begitu?” tanya Smith.
“Karena dia bersahabat baik dengan Cedric Diggory.”
“Oh,” ucap Smith. “Tapi bukankah mereka berada di tahun yang
berbeda?”
Umbridge mengangguk, “Allison satu tahun di atas Diggory.
Mereka berdua Hufflepuff sama seperti putramu.”
Perhatian mereka berdua sempat teralihkan ketika seorang
pejabat tinggi dari Kementrian Sihir Jerman mengajukan
usulannya untuk melakukan pencarian terhadap Harry Potter di
negara mereka masing-masing karena siapa tahu
The-Boy-Who-Lived tersebut telah kabur ke luar negeri.
“Bah,” ejek Umbridge, “anak kecil seperti Potter tidak akan
bisa menghindar dari auror, apalagi kalau sampai kabur ke
luar negeri.
Pada kenyataannya, Harry Potter memang sudah tidak berada di
daratan Inggris lagi karena kini dia sedang berdiri di depan
sebuah gerbang besar yang berlambang sekolah Durmstrang.
‘Fiuhh, sampai juga.’ Harry memang tidak pernah melakukan
perjalanan sejauh ini. Tidak hanya jauh, waktu yang
dibutuhkan untuk sampai ke salah satu sekolah sihir terbesar
di dunia ini juga sangat lama.
Atas petunjuk dari Croake, satu-satunya cara untuk melakukan
perjalanan kemari tanpa terdeteksi oleh auror adalah dengan
cara muggle.
Pertama-tama Harry harus menyelinap keluar dari Knockturn
Alley dengan jubah gaibnya dan keluar menuju muggle London.
Setelah itu dia menggunakan jasa taksi untuk membawanya ke
bandara.
Di bandara Heathrow International, seperti muggle pada
umumnya dia memesan tiket British Airways untuk membawanya
ke Moskow, Rusia.
Cara perjalanan muggle ini sukses dilakukannya karena tidak
seperti waktu Sirius kabur dari Azkaban, Kementrian tidak
melibatkan pihak muggle dalam pencarian mereka atas Harry.
Waktu yang dipilih oleh Croake juga amat tepat karena saat
ini kesatuan auror sibuk menjaga pertemuan para pepimpin
sihir Eropa di gedung Kementrian.
Ketika dia telah sampai di bandara internasional Simferopol
Moskow, barulah dia bisa melakukan perjalanan layaknya
seorang penyihir. Harry menggunakan versi Rusia dari Bus
Ksatria untuk membawanya ke Durmstrang. Hanya saja alat
transportasi khusus penyihir ini bukanlah sebuah bus, tapi
sebuah perahu kapal yang mampu memuat setidaknya dua puluh
orang penumpang.
Perahu Ksatria ini melayang di beberapa senti di atas tanah.
Pertama Harry tidak mengerti kenapa harus berbentuk perahu.
Tapi kemudian dia mengerti karena untuk sampai ke Durmstrang,
seseorang harus menyebrangi lautan karena sekolah sihir
tersebut berada di tengah lautan di atas sebuah pulau besar.
Walaupun kini dia telah berdiri di depan gerbang utama
Durmstrang, tetapi Harry tidak bisa melihat bangunan sekolah
sekolah Durmstrang. Harry hanya dapat melihat sebuah jalan
setapak lurus ke depan yang saking jauhnya dia tidak dapat
melihat ujungnya. Jalan itu diapit oleh hutan yang lebat di
kanan kirinya. Tampaknya untuk mencapai Durmstrang masih
harus berjalan cukup jauh meskipun telah melewati gerbangnya.
Dan sekarang Harry bingung bagaimana selanjutnya. Tidak ada
orang di sekelilingnya, dan gerbang masuk tampak terkunci
rapat. Petunjuk dari Mr Croake juga tidak mencakup tentang
apa yang harus dilakukannya setelah sampai di sini.
Kemudian Harry teringat cara yang dilakukan oleh Tonks tahun
lalu ketika gerbang Hogwarts telah tertutup. ‘Expecto
Patronum.’ Harry mengirimkan sebuah patronus kecil dengan
tanpa suara.
Rusa perak tersebut masuk ke dalam gerbang dan terus
melayang hingga sampai tidak terlihat oleh Harry. Dia
berharap patronusnya tidak hilang sebelum mencapai tujuannya.
Harry tidak tahu berapa lama dia menunggu seseorang untuk
datang ke gerbang. Mungkin sepuluh atau lima belas menit.
Dia hanya duduk di tanah sambil melingkarkan tangannya ke
badannya karena suhu udara yang teramat dingin.
Harry memutuskan untuk mengirimkan lagi sebuah patronus.
Tetapi ketika dia baru berdiri, Harry melihat sesuatu yang
kecil dari ujung jalan setapak. Lama kelamaan yang
dilihatnya itu menjadi semakin besar dan dekat.
Kemudian dia melihat sebuah pemandangan aneh. Seseorang
mengendarai sebuah gerobak. Orang tersebut tampak tua dengan
rambut dan janggutnya yang putih. Sementara itu gerobak yang
ditungganginya berjalan cukup cepat sampai akhirnya sampai
di depan gerbang.
Orang tua itu melihat Harry dari atas ke bawah dan
mengatakan sesuatu dalam bahasa yang tidak dimengerti Harry.
“Maaf, apa anda bisa bahasa Inggris?” Tanya Harry.
Orang di hadapannya menggerutu. “Ada perlu apa?”
“Aku ingin bertemu dengan Viktor Krum. Namaku Harry Potter.”
Orang yang kelihatannya seorang penjaga kunci Durmstrang
seperti Hagridnya Hogwarts itu menyipitkan matanya ketika
mendengar nama Harry dan matanya kini tertuju pada bekas
luka di dahinya.
“Ada perlu apa kau kemari? Hanya murid Durmstrang yang boleh
kemari.” Nama terkenal tampaknya tidak membuat orang itu
terkesan.
“Aku ada keperluan dengan dia, penting sekali. Bisakah anda
mengatakan padanya aku ingin bertemu? Dia kenal aku.”
“Tunggu di sini,” si penjaga kunci berbalik dan menunggangi
gerobaknya kembali meninggalkan Harry masih di luar gerbang
yang terkunci.
“Kasar sekali orang itu,” keluh Harry.
Sekarang Harry haus menunggu untuk yang kedua kalinya di
suhu dingin yang serasa menusuk sampai tulang. Matahari
hampir tenggelam.
Ternyata Harry tidak harus menunggu terlalu lama karena
gerobak yang tadi membawa pergi orang tua itu kembali lagi.
Dari kejauhan, gerobak itu terlihat membawa dua orang.
Semangat Harry kembali lagi setelah melihat siapa yang
berada di samping si penjaga kunci, seeker Bulgaria Viktor
Krum yang wajah galaknya pertama kali Harry lihat di salah
satu tenda penonton Piala Dunia Quidditch.
Ketika turun dari gerobak, Krum terlihat terkejut melihat
Harry. “Potter?”
Harry mengangguk dan Krum mengatakan sesuatu pada si penjaga
kunci yang dengan segera membuka gembok gerbang.
Krum mengatakan sesuatu pada penjaga kunci yang tua itu dan
berikutnya si penjaga kunci menaiki gerobaknya dan pergi
meninggalkan mereka.
“Harry Potter. Bagaimana kabarmu?” Krum menjulurkan
tangannya.
Harry masuk melewati gerbang dan menjabat tangan Krum. “Aku
baik-baik saja, termia kasih.”
“Apa yang kau lakukan di sini? Bagaimana kabar Hermionny?”
Krum tersenyum.
“Oh. Hermione baik-baik saja. Dan aku...” Harry melihat
sekelilingnya, “apakah aman kita bicara di sini?”
Krum memandang curiga pada Harry, “memangnya apa yang hendak
kau bicarakan?”
Harry merasa canggung juga setelah kini dia bertemu dengan
Krum. Dia sebenarnya belum memikirkan bagaimana cara terbaik
untuk berbicara dengannya. Dia belum begitu mengenal Krum.
‘Coba saja ada Hermione.’
“Begini... aku ingin menanyakan apa kau punya teman yang
bernama Stanislav?” Apapun yang telah diperkirakan oleh Krum
keluar dari mulut Harry, tampaknya bukan ini salah satunya.
“Stanislav? Maksudmu Stanislav Shovskovsky?” Tanya Krum
dengan bingung.
“Mungkin,” Harry gemetar kedinginan ketika angin mengembus.
“Apa ini Stanislav yang sama dengan yang pergi denganmu ke
Hogwarts dua tahun lalu?”
“Ya, tapi...” Krum makin bingung, “apa sebenarnya maksudmu
bertanya tentang dia?”
Harry berpikir memberikan setengah kebenaran merupakan cara
yang terbaik. “Lucius Malfoy mengatakan dia memberikan
sesuatu padanya ketika kalian hendak meninggalkan Hogwarts.
Dan sekarang aku ingin tahu keberadaan benda itu.”
“Lucius Malfoy?” Krum tampak sedang berpikir. Dia melihat ke
arah kanannya, “ayo kesini.” Dia mengajak Harry masuk ke
dalam hutan.
Setelah mereka masuk cukup dalam, Harry mulai heran kenapa
dia harus masuk kemari, “Viktor, kenapa kita kemari?”
Krum berhenti dan melihat Harry. “Kau bilang Malfoy
memberikan sesuatu pada Stanislav?” melihat anggukan dari
Harry, dia melanjutkan, “itu tidak mungkin. Stanislav
sahabat karibku. Dia pasti memberitahuku apabila dia
berbicara dengan orang seperti Lucius Malfoy. Apalagi kalau
sampai Malfoy memberikan sesuatu padanya.”
Tampaknya metoda setengah kebenaran ini tidak berhasil.
Harry berpikir keras apa yang harus dia lakukan selanjutnya.
“Kau menyembunyikan sesuatu, Potter,” Krum berkata. “Katakan
padaku yang sebenarnya atau aku akan mengusirmu keluar,”
ucap Krum dengan nada tegas.
Harry terkejut melihat sikap kasar dari Viktor Krum.
“Maaf kalau aku agak kasar. Tapi ini menyangkut sahabatku.
Aku perlu tahu apa yang dilakukan oleh Stanislav dengan
penyihir hitam seperti Malfoy.”
Setelah Krum mengatakan itu, Harry kini mengerti kenapa Krum
bersikap seperti itu dan dia memutuskan untuk mengatakan
semuanya.
“Baiklah, sebenarnya Lucius Malfoy tidak benar-benar
memberikannya pada Stanislav. Tapi lebih tepatnya
menyelipkannya pada salah satu koper milik Stanislav ketika
kau sedang berbicara dengan temanmu itu.”
“Bagaimana kau bisa tahu hal itu?” tanya Krum.
“Malfoy memberikan ingatannya padaku apa yang terjadi hari
itu. Aku melihatnya di pensieve.”
“Apa sebenarnya yang kau lihat,” Krum membalikkan badannya
dari Harry. “Tolong ceritakan dengan lengkap.”
“Baiklah.” Kemudian selama beberapa menit kedepan Harry
menceritakan kepada Krum tentang ingatan yang dia liat mulai
dari perbincangan tak berarti antara Krum dan Malfoy yang
melibatkan kelelawar Transylvania dan juga ketika Malfoy
menyelipkan sebuah sarung tangan ke dalam salah satu koper
milik Stanislav.
Krum kembali melihat Harry. “Sarung tangan apa itu? Apa
istimewanya?”
“Kurasa Malfoy mendapatkan sarung tangan itu dari
Voldemort,” Krum berjengit, “dia pernah melakukan hal yang
serupa pada tahun keduaku di Hogwarts ketika dia menyelipkan
buku hariannya Voldemort muda di kualinya temanku.”
“Jadi sarung tangan itu milik Pangeran Kegelapan?” Krum
memandang ke bawah dan menggaruk-garuk dagunya.
“Karena itu aku ingin tahu di mana benda itu berada kini.
Sarung tangan itu sangat berbahaya,” kata Harry.
“Seberapa berbahaya?” tanya Krum.
Walaupun ingin, tapi Harry benar-benar tidak bisa mengatakan
pada Krum kalau sarung tangan itu adalah sebuah horcrux.
Jadi dia memutuskan untuk menggunakan taktik setengah
kebenaran lagi.
“Aku tidak begitu tahu. Yang kutahu hanyalah sarung tangan
itu merupakan peninggalan salah satu pendiri Hogwarts dan
memiliki suatu kekuatan sihir.”
Harry mencemaskan Krum tidak akan puas dengan penjelasannya
ini dan akan menuntut lebih banyak lagi. Tapi dugaannya
salah.
“Baiklah. Ikuti aku. Stanislav ada di kastil. Silakan.” Krum
berkata sambil mempersilakan Harry untuk jalan duluan.
Perasaan senang Harry menguburkan rasa curiga kenapa Krum
tidak menuntut penjelasan lebih lanjut dari Harry. Maka
Harry berjalan ke arah dari mana tadi dia datang dengan
Viktor Krum berjalan di belakangnya.
Baru berjalan beberapa langkah, sebuah suara terdengar dari
belakangnya, “stupefy.”
Harry pun tersungkur tak sadarkan diri di tanah.
***
Kembali
Next
Previous |