CHAPTER
VIII: LOVE FOR McGONAGALL
Grimmauld Place
“Apa? Apa maksudmu Harry ada di sana?!” Molly Weasley
bertanya dengan nada tinggi pada suaminya.
“Harry ada di Azkaban, Molly. Beberapa orang melihatnya.”
Jawab Arthur Weasley dengan tenang.
“Tapi apa yang dia lakukan di sana?”
“Dia...” Mr Weasley merasa ragu apakah dia harus mengatakan
apa yang dia tahu. Dia sebenarnya hanya mendengar bisikan
beberapa orang anggota yang melihatnya, dan dia tidak ingin
mempercayai perkataan mereka. Untunglah beberapa saat
kemudian orang-orang telah mulai berkumpul dan Lupin memulai
pertemuan.
“Baiklah. Seperti yang kalian tahu, siang tadi pasukan
Voldemort menyerang Azkaban.” Anggota order di hadapannya
yang berjumlah hampir tiga puluh orang hampir semuanya
berjengit mendengar nama Voldemort.
“Sejauh ini diperkirakan tujuan utama mereka adalah ingin
mengambil alih penjara tersebut untuk menjadi salah satu
markas mereka. Beruntung kesatuan auror bisa bertahan
sebelum kita tiba di sana dan korban yang jatuh tidak
terlalu banyak.”
Lupin menghela napas panjang sebelum melanjutkan. “Tapi,
tetap saja kita kehilangan beberapa anggota terbaik kita.
Mari kita angkat gelas kita untuk Dedalus Giggle, Hestia
Jones, dan Michael Tolland. Semoga kita yang tersisa ini
mampu melanjutkan perjuangan mereka sehingga kematian mereka
tidak sia-sia. Untuk Dedalus, Hestia, dan Michael.”
Seluruh anggota order mengikuti Lupin mengangkat gelasnya
dan mengucapkan nama mereka yang tewas.
“Baiklah. Berikutnya, aku ingin tahu apakah di antara kalian
ada yang ingin kalian laporkan?”
Ada beberapa anggota yang mengangkat tangannya, tapi Mrs
Weasley mendahului mereka semua. “Aku ingin tanya Remus. Apa
benar Harry ada di Azkaban?”
Remus menyipitkan matanya. “Benarkah? Aku baru tahu itu. Kau
tahu dari siapa Molly?”
“Itu benar, Lupin.” Moody menjawab. Beberapa orang kini
melihat ke arahnya.
‘Apa tadi yang melakukan kutukan palu Thor itu Harry? Tidak
mungkin. Tentunya James tidak sempat mengajarkan itu pada
Harry. Apa Sirius yang mengajarkannya?’ Pikir Lupin
“Potter memang terlibat dalam pertarungan di Azkaban. Bukan
hanya itu, dia bekerjasama dengan Draco Malfoy untuk
membebaskan ayahnya Lucius dari penjara. Dan mereka berhasil.”
“APA?!” Mrs Weasley berteriak. Para anggota order yang lain
juga bergumam-gumam tidak percaya.
“Apa kau yakin dengan yang kau lihat Mad-Eye?” Tanya Lupin
dengan tidak percaya.
“Yakin sekali.” Geram Moody. “Aku lihat sendiri Potter
mengawal Lucius Malfoy yang bersembunyi di balik jubah gaib
yang kuasumsikan adalah jubah gaibnya Potter. Dan lebih
buruk lagi, ketika aku hendak menghalangi Potter, Snape
membantunya dengan menyerangku.”
Terdengar lagi gumam-gumam, kali ini lebih keras. Yang
paling keras terdengar adalah “apa Potter menjadi Death
Eater?”
“Tenang!” Lupin menginstruksikan. “Apa ada yang bisa
mengkonfirmasi hal ini?”
Seorang anggota order mengangkat tangannya. “Ya, Herbert?
Kau melihat apa yang dilihat Mad-Eye?” Tanya Lupin.
“Aku tidak melihat Lucius Malfoy ataupun Potter. Tapi aku
melihat Mad-Eye menghalangi dua orang berpakaian auror,
salah satunya Draco Malfoy, dan satunya lagi berkacamata dan
mengenakan bandana di kepalanya. Mungkin itu Potter yang
berusaha menyembunyikan bekas lukanya.”
“Harry memakai baju auror? Darimana dia bisa mendapatkan
baju auror? Dan lebih penting lagi bagaimana dia bisa ada di
Azkaban?” Lupin bertanya pelan lebih kepada dirinya sendiri.
“Sebenarnya Remus....” Tonks yang mendengar pertanyaan Lupin
menjawab dengan malu-malu. “....aku tahu bagaimana Harry
bisa ada di sana dan bagaimana dia mendapatkan baju auror.”
“Benarkah? Bagaimana kau tahu?” Tanya Lupin penuh selidik.
“K-karena akulah yang membawa dia kesana dan aku juga yang
memberikan pada dia baju auror tersebut.” Tonks menundukkan
kepalanya.
“APA?! APA YANG KAU PIKIRKAN TONKS? KENAPA KAU MEMBAWA ANAK
KECIL KE AZKABAN. KENAPA KAU....” Mr Weasley langsung
membekap mulut istrinya supaya diam. “Tenang, Molly. Aku
yakin Tonks punya alasan yang kuat.”
“Tonks. Kau membawa Harry ke Azkaban?” Lupin bertanya dengan
darah yang mulai naik ke kepalanya.
“Tak ada yang bisa kulakukan, Remus. Dia ada di markas auror
ketika diumumkan Azkaban diserang. Dan dia memaksa untuk
ikut membantu. Jadinya ya, aku membawa dia.”
“Apa yang dilakukan Harry di markas auror?” Tanya Lupin lagi,
kali ini dengan nada yang lebih tenang.
“Aku tidak tahu jelas. Dia hanya mengatakan tentang dia
mengalahkan tiga orang Death Eater dan auror O’Brien dan
Gibbons.”
“Apa maksudnya?”
“Aku tidak tahu. Dia juga mengatakan alasan lain dia ke
Azkaban adalah untuk berbicara dengan Lucius Malfoy dan ini
menyangkut tentang misi terakhir dari Dumbledore.”
Mendengar ini Lupin tersenyum dan mengangguk. “Baiklah. Kita
tidak usah mencemaskan Harry lagi. Ayo kita lanjutkan.”
“Tunggu dulu, Lupin. Kau tidak bisa begitu saja berpaling
muka dalam hal ini. Potter baru saja membebaskan Lucius
Malfoy. Lucius Malfoy.” Moody menekankan.
“Apa yang kau mau aku lakukan, Mad-Eye?”
“Pertama-tama kau harus mengatakan pada kita apa maksud
Potter membebaskan Malfoy. Kau tenang-tenang saja berarti
kau tahu maksud dari Potter.”
“Kau dengar sendiri dari Tonks kalau ini menyangkut misi
dari Dumbledore.” Jawab Lupin.
“Dan misi apa itu? Aku yakin anggota yang lain juga ingin
tahu.” Beberapa anggota menganggukkan kepala mereka.
“Aku sendiri tidak tahu. Tapi aku percaya pada Harry.”
“Kalau begitu kita lebih baik bertanya pada temannya Granger
dan Weasley.”
“Kurasa itu tidak perlu, Mad-Eye.” Ucap Mrs Weasley. “Mereka
masih terlalu muda untuk ikut rapat order.”
“Mereka sudah cukup umur. Kurasa itu keputusan mereka
sendiri apa mereka mau ikut rapat atau tidak. Bagaimana
Lupin?” Tanya Mad-Eye.
Lupin mengangguk dan menyuruh Tonks untuk memanggil Ron dan
Hermione.
Selama mereka menunggu, ada seorang anggota order lagi yang
mengatakan bahwa dia juga melihat Harry.
“Apa tepatnya yang kau lihat Rickman?” Tanya Lupin.
“Awalnya aku tidak tahu kalau auror berbandana itu Potter
sebelum mendengar Herbert tadi. Tapi yang jelas aku melihat
auror berbandana itulah yang mengeluarkan kutukan sangat
kuat yang sempat membuat kita terdiam sejenak. Kalian ingat
itu?”
Terdapat anggukan dari sana sini.
“Apa? Maksudmu yang melakukan kutukan yang membunuh tiga
orang Death Eater itu Harry?” Ucap Mr Weasley tak percaya.
“Tapi kutukan apa itu?” Tanya salah seorang anggota.
“Itu kutukan yang hanya diturunkan pada anggota keluarga
Potter. Tapi James mengajarkannya padaku, Sirius, dan Peter.
Itu kutukan yang digunakan Peter ketika membunuh tiga belas
orang muggle enam belas tahun yang lalu.” Para anggota
terkejut mendengar hal ini.
“Bagaimana bisa Harry menguasai kutukan itu? Apa kau
mengajarinya, Remus?” Tanya Molly.
Lupin menggelengkan kepalanya. “Kita tidak perlu
mengkhawatirkan itu. Justru yang perlu kita khawatirkan
adalah bagaimana kondisi mental Harry setelah dia tahu kalau
dia telah membunuh tiga orang itu. Pembunuhan pertama adalah
yang tersulit.”
Tak ada yang berbicara sampai Ron dan Hermione masuk ke
ruang pertemuan. Hermione tampak gugup berada dalam satu
ruangan penyihir-penyihir dewasa yang memperhatikan dirinya
dengan seksama. Sedangkan Ron kebalikannya, berdiri di
ruangan ini adalah seperti mimpi indah yang terwujud bagi
dia.
“Silakan duduk dulu Hermione, Ron.” Ucap Lupin dengan ramah.
Setelah mereka berdua duduk, Lupin mengatakan pada mereka
semuanya tentang apa yang baru mereka diskusikan kecuali
fakta bahwa Harry baru saja membunuh tiga orang.
Setelah selesai, kedua sahabat Harry Potter hanya bisa duduk
terpaku dengan mulut menganga.
“Katakanlah sesuatu kalian berdua.” Mad-Eye kehilangan
kesabarannya.
Hermione yang pertama bicara. “H-Harry ada di Azkaban? Dan
dia membebaskan Lucius Malfoy?”
“Tunggu dulu. Itu mustahil. Belum juga ditambah dia dibantu
oleh Snape? Aku tahu, ini pasti lelucon. Fred, George, ini
pasti ide kalian. Lucu sekali, ha-ha-ha...” Melihat wajah
serius anggota-anggota order, membuat Ron tutup mulut dengan
muka merah karena malu.
“Hermione, Ron, apa kira-kira kau tahu alasan Harry
membebaskan Lucius Malfoy?” Tanya Mr Weasley. Hermione
menggelengkan kepalanya, begitu pula Ron.
“Bagaimana dengan misi terakhir dari Dumbledore yang dia
katakan padaku?” Tanya Tonks.
“Oh, itu...” Ron langsung berhenti ngomong setelah kakinya
ditendang Hermione.
“Maaf. Kami tidak bisa memberitahu soal itu. Harry belum
memberi kami ijin untuk menceritakan hal itu pada orang
lain.” Ucap Hermione tegas.
“Ayolah Granger. Bagaimana kami bisa melindungi Potter kalau
kami tidak tahu apa sebenarnya tujuan dia.” Ucap Mad-Eye.
“Harry tidak membutuhkan perlindungan Order. Dia mengatakan
itu di suratnya.”
Moody mendengus. “Potter akan membutuhkan bantuan kami
setelah tindakannya di Azkaban. Kementrian pasti sudah tahu
tentang perbuatannya membebaskan Malfoy.”
“Mungkin saja. Tapi kami tetap tidak bisa mengatakannya.
Karena ini bukanlah rahasia kami. Kami berdua tidak punya
hak untuk mengatakannya pada orang lain.” Hermione berdiri
sambil menarik Ron.
“Tunggu, Granger.” Peringat Moody.
“Tidak. Kurasa perbincangan kita sudah cukup. Ayo Ron.” Ron
ditarik paksa oleh Hermione keluar dari ruangan.
Moody ingin menahan mereka tapi dilarang Lupin. “Biarkan
mereka pergi. Jangan pernah memaksa orang melanggar janjinya
kepada sahabat mereka.”
“Tapi Lupin. Kita tidak bisa membiarkan Potter begitu saja.
Bagaimana kita harus bertindak tanpa tahu di pihak mana
sebenarnya dia berada?”
Lupin mengeluarkan selembar perkamen dan berkata dengan
penuh keyakinan. “Aku tahu jelas Harry ada di pihak mana.
Tadi pagi dia mengirim daftar nama-nama anggota Death Eater
dan sasaran-sasaran potensial Voldemort. Kurasa ini sudah
cukup membuktikan loyalitas Harry pada pihak yang benar.”
“Darimana dia bisa mendapatkan itu?” Tanya Fred, atau
mungkin juga George.
Lupin mengangkat bahunya. “Seekor burung hantu hitam
mengantarkannya.”
“Bukan Hedwig?” Mrs Weasley.
“Bukan. Hedwig ada di kamarku. Harry tidak membawa serta
Hedwig. Mungkin dia tahu kalau Hedwig terlalu mudah dikenali
sebagai burung hantunya Harry Potter.”
***
Hermione masuk terlebih dahulu ke dalam salah satu kamar di
lantai dua. Ron mengikuti di belakangnya.
“Kau tegas sekali tadi, Hermione. Walau kurasa bukan ide
yang baik bicara seperti itu pada Mad-Eye Moody. Dia bisa
mengubahmu jadi musang seperti Malfoy.” Ron tertawa kecil.
Tapi Hermione tidak menanggapinya. Justru Ron mendengar
sebuah isakan dari Hermione.
“Mione? Kau tak apa-apa?” Ron menyentuh bahu Hermione dan
mencoba membalikkan badannya.
“Kenapa?” Ucap Hermione.
“Kenapa apa?”
Hermione membalikkan badannya, air mata menetes di kedua
pipinya. “Kenapa Harry tidak mengajak kita? Apa dia tidak
mempercayai kita? Kenapa dia tega melakukan ini semua?”
Tanpa sadar apa yang dilakukannya, Ron mencoba menenangkan
Hermione dengan menariknya dalam pelukan. “Kau pasti ingat
pesan Harry. Dia ingin kita untuk hidup sepenuhnya. Dia
tidak ingin kita terjebak dalam situasi seperti yang tadi
dialami Harry. Dia sangat menyayangi kita, Hermy.”
Baju Ron mulai basah karena air mata Hermione. “Hidup
sepenuhnya? Tidakkah dia tahu hidup kita tidak bisa penuh
tanpa dirinya? Seharusnya dia sadar kita tidak bisa bahagia
tanpa Harry.”
Ron tidak bisa berkata apa-apa lagi. Mereka tetap dalam
kondisi ini selama beberapa menit. Walaupun rambut lebat
Hermione menggelitik dagu Ron, dia tidak tampak terganggu
sama sekali.
Setelah Hermione berhenti meneteskan air matanya, mereka
baru sadar posisi intim mereka sekarang. Tapi tidak satupun
yang melepaskan pegangannya. Semuanya terasa benar dan pas.
Mata biru dan coklat saling menatap dengan penuh pengertian.
Tak berapa lama, bibir kering Ron dilembabkan oleh bibir
basah Hermione.
***
Potter’s residence, 1976
Hujan mengguyur deras pada saat seorang penyihir berusia
enam belas tahun mengetuk pintu sebuah rumah.
“James. Bukakan pintu.”
“Oke, oke.” James membukakan pintu dan melihat dalam kondisi
basah kuyup, sahabatnya.
“Sirius.” Seru James. “Apa yang kau lakukan di sini?”
“Huh, kukira kata pertamamu akan mengajakku berlindung dari
hujan deras ini, James. Aku terlalu berharap banyak
rupanya.” Sirius tersenyum.
“Tentu saja. Sorry, masuk, masuk.”
James melihat Sirius masuk sambil menjinjing peti kopernya.
“Kau kabur dari rumah?”
“Aku sudah tidak tahan, James. Satu hari lagi saja di rumah
itu, aku pasti sudah masuk St.Mungos bagian sakit jiwa.
Karena itu, aku ingin tahu apa aku boleh....”
“Apa? Tinggal di sini?”
“Aku mengerti kalau tidak boleh. Lagipula aku...” Sirius
menggumam.
“Sirius. Tentu saja kau boleh tinggal di sini. Orangtuaku
juga pasti setuju. Kau seperti bicara sama orang asing
saja.” James memukul pelan bahu Sirius.
“Benarkah? Aku boleh tinggal di sini?” Ucap Sirius dengan
wajah cerah.
“James. Siapa yang datang?” Ucap Mrs Potter sambil berjalan
ke arah mereka. Dia lalu melihat Sirius.
“Kaukah itu Sirius? Demi Merlin, kau basah kuyup. Sini
kukeringkan dulu.” Mrs Potter mengeringkan Sirius dengan
tongkatnya.
“Terima kasih, Mrs Potter.”
“Mum. Sirius mau tinggal di sini selama musim panas. Boleh
kan?”
Mrs Potter melihat Sirius dan peti kopernya. Dia tersenyum.
“Tentu saja boleh. Kau sudah seperti saudara bagi James.
James, antar dia ke kamar tamu.”
“Aku tidak akan melupakan kebaikan kalian, Mrs Potter. Dan
jangan khawatir, aku akan membayar sendiri untuk makananku.
Pamanku Alphard memberiku uang yang cukup.” Ucap Sirius.
“Jangan konyol, Sirius. Kau tidak perlu mengeluarkan uang
sedikitpun.” Kata Mrs Potter.
Saat James dan Sirius hendak naik ke lantai dua, Mrs Potter
bertanya. “Tunggu dulu. Yang kau maksud Alphard tadi apakah
Alphard Dodge? Yang ketua Liga Pertahanan Terhadap Ilmu
Hitam?”
Sirius mengangguk. “Benar. Anda mengenalnya, Mrs Potter?”
“Aku kenal baik dengan dia.” Mrs Potter kembali ke dapur.
“Ini dia Sirius. Selamat datang di ‘casa the Potter’.” Ucap
James dengan dramatis.
“Kamar yang ... menarik.” Sirius melihat sekelilingnya.
“Kenapa dekorasinya sangat Hufflepuff?”
James tertawa kecil. “Ini ide ayahku. Dia ingin menekankan
kalau semua asrama Hogwarts sama saja. Rumah ini ada empat
kamar tidur utama. Kamarku sendiri berdekorasi Gryffindor,
sedangkan kamar orangtuaku berdekorasi Ravenclaw.”
“Pintar sekali.” Sirius mulai membongkar peti kopernya.
“Kita akan bersenang-senang sekali musim panas ini Sirius.
Kita juga bisa mengundang Remus dan Peter. Kita bisa main
Quidditch di halaman, merencanakan trik-trik baru, dan juga
merencanakan bagaimana caranya membuat Evans mau pergi
kencan denganku.”
Sirius tertawa. “Sampai kapan kau mau mengejar si Evans?
Sudah, lupakan saja dia. Kepalamu ternyata lebih keras
daripada batu Gargoyle sekalipun. Biar, kukenalkan kau pada
teman-teman wanitaku.”
“Oh ya? Kau kira aku tidak akan bisa mengajak kencan Lily
Evans?” Ucap James tersinggung.
“Itu bukan perkiraan lagi. Itu fakta, James.”
“Baiklah. Bagaimana kalau kita taruhan. Aku yakin bisa
mengajaknya kencan ke Hogsmeade sebelum tahun baru.”
Sirius memikirkannya sebentar. “Baiklah. Yang menang dapat
apa?”
“Bagaimana kalau yang kalah harus menyatakan cinta mereka
kepada McGonagall di aula besar pada saat sarapan.” Ucap
James penuh keyakinan.
“Setuju.” Mereka berjabat tangan.
***
Harry membuka matanya. ‘Hah? Mimpi yang aneh.’
Berbaring di kamarnya yang jauh lebih luas daripada kamarnya
di Privet Drive, Harry membayangkan kembali kejadian yang
dialaminya kemarin.
Dia mempertanyakan perbuatan-perbuatannya sendiri. Dia sadar
membebaskan Lucius Malfoy akan membawa konsekuensi di masa
mendatang. Tapi, saat itu dia tidak punya pilihan. Tidak ada
yang lebih penting saat ini daripada menyingkirkan dunia
dari Voldemort.
Kemudian pikirannya memainkan kembali kejadian ketika dia
membunuh tiga orang Death Eater secara bersamaan. Hatinya
serasa diiris-iris ketika mengingat-ingat hal ini.
‘Lebih baik aku tidak punya semua kemampuan ini daripada
harus menanggung rasa bersalah ini.’ Harry menutup wajahnya
dengan tangannya. ‘Bagaimana kalau mereka Death Eater yang
berada dalam pengaruh imperius?’
Saat-saat seperti inilah Harry meragukan keputusannya tidak
mengajak Ron dan Hermione. Dia benar-benar butuh untuk
bicara dengan seseorang. ‘Apa aku telah membuat keputusan
yang salah?’
Harry bangkit dari tempat tidurnya. Dia melihat dirinya
sudah tidak memakai seragam auror lagi dan luka dibahunya
sudah dibalut. ‘Dobby.’
Crack
“Harry Potter sir. Harry Potter sudah bangun? Apa Harry
Potter ingin memakan sarapannya di tempat tidur?”
“Sarapan?” Harry melihat cahaya matahari pagi masuk ke
kamarnya. “Sudah berapa lama aku tertidur, Dobby?”
“Harry Potter tertidur lebih dari 15 jam. Dobby tiap jam
memeriksa keadaan Harry Potter. Dobby juga mengganti baju
kotor Harry Potter dan mengobati luka Harry Potter.”
“Apa kau tidak tidur semalaman, Dobby?”
“Dobby khawatir pada kondisi Harry Potter.” Dobby
menundukkan kepalanya. “Apa Harry Potter ingin memakan
sarapannya di sini. Dobby bisa membawanya kemari.”
Harry berdiri. “Tidak perlu Dobby. Aku makan saja di meja
makan. Kau istirahat saja, Dobby. Aku baik-baik saja.”
Dobby hendak protes tapi Harry menatapnya kalau ini bukanlah
negosiasi. Dobby menghilang dari kamarnya untuk tidur di
kamarnya sendiri.
‘Untuk 5 Galleon seminggu, pelayanan Dobby melebihi
standar.’ Harry terkesan.
Harry kemudian sarapan di meja makannya yang sudah dipenuhi
oleh makanan yang telah disiapkan oleh Dobby.
Setelah selesai sarapan, Harry hendak mengambil koran Daily
Prophet, tapi dia teringat tentang ingatan dari Lucius
Malfoy dan dia ingin segera melihatnya.
Harry membuka lemari penyimpanannya. Dia mengeluarkan botol
yang kemarin dia transfigurasi, dan juga sebuah pensieve.
Pensieve-nya Dumbledore.
***
Flashback. Grimmauld Place,
awal musim panas.
“Potter.” Harry mengangkat kepalanya dan melihat ternyata
McGonagall yang tadi memanggilnya.
“Ya, Professor?”
“Temui aku di perpustakaan keluarga setelah kau
menyelesaikan makan malammu.” Lalu kepala sekolah Hogwarts
yang baru itu melangkah pergi.
“Apa yang kira-kira diinginkan McGonagall?” Tanya Ron.
Harry mengangkat bahunya. “Mungkin dia ingin menanyakan lagi
tentang apa yang aku lakukan dengan Professor Dumbledore
sebelum kematiannya.”
Selesai makan, Harry masuk sendirian kedalam perpustakaan
Keluarga Black. Di dalam, McGonagall sudah menunggu di salah
satu meja sambil menulis pada di selembar perkamen.
“Anda ingin menemuiku, Professor?”
McGonagall mengangguk. “Silakan duduk, Potter.”
Harry duduk. Tatapan McGonagall membuatnya tidak nyaman.
Harry hendak menanyakan maksud McGonagall menyuruhnya
kemari, tapi gurunya tersebut memecah kesunyian.
“Albus meninggalkan beberapa benda untukmu, Potter.” Ucap
McGonagall.
“Benarkah? Benda apa?”
“Pertama, dia meninggalkan surat ini untukmu.” McGonagall
menyerahkan Harry sebuah amplop yang sekilas hampir sama
dengan surat resmi yang dikirimkan Hogwarts pada
murid-muridnya.
“Albus mengatur sedemikian rupa agar hanya kau yang bisa
membuka surat itu.”
Dengan segera Harry melepaskan perekat amplop tersebut dan
mengeluarkan surat yang ada di dalamnya.
Dear Harry,
Aku menulis surat ini tepat setelah kau pergi mengambil
jubah gaibmu sebelum kita pergi mencari horcrux yang
kuasumsikan adalah kalung Slytherin.
Begitu melihat sinar merah matahari dari kantorku yang rapih
ini, aku tahu ini merupakan terakhir kalinya aku akan
melihat matahari yang agung itu. Penyihir setua dan
sebijaksana sepertiku kadang-kadang bisa tahu akan hal ini.
Professor Trelawney pasti bangga.
Kurasa cukup cerocosan dari penyihir tua ini. Sekarang kita
masuk ke topik yang sebenarnya.
Harry, setelah aku pergi, boleh dibilang kau tidak punya
lagi tokoh orangtua dalam hidupmu. Tapi kita harus selalu
mengambil positifnya dari segala sesuatu. Dalam hal ini,
karena ketidakhadiranku, tidak ada lagi yang menghalangi
antara kau dan takdirmu.
Jujur saja, aku tidak yakin akan membiarkanmu menghadapi
Voldemort apabila aku masih bernapas. Seperti yang pernah
kubilang, aku terlalu menyayangimu. Kalau bisa aku ingin
menanggung semua beban di pundakmu.
Kau bisa memilih untuk berpaling dari takdirmu tentu saja.
Tapi kita berdua tahu apa yang akan kau lakukan. Karena itu
sepanjang tahun ini aku berusaha menempatkanmu di jalur yang
tepat dalam menghabisi riwayat Lord Voldemort.
Walaupun benar aku akan pergi malam ini, aku akan tetap
berusaha agar kau tetap berada di jalur tersebut dengan
meninggalkan beberapa benda padamu.
Yang pertama, tentu saja aku akan meninggalkanmu barang
paling berguna yang kita gunakan tahun ini. Tentunya kau
sudah bisa menduga yang kumaksud adalah Pensieve. Dalam
Pensieve ini terdapat ingatan-ingatan yang pernah kita lihat
bersama sepanjang tahun ini. Ada juga ingatan-ingatan yang
belum pernah kau lihat. Mungkin ini akan berguna untukmu.
Benda yang kedua adalah pedang Godric Gryffindor. Entah
kenapa semenjak kau menggunakan pedang tersebut di tahun
keduamu, aku selalu merasa tidak nyaman ketika melihat
pedang itu terpajang di kantorku. Seakan-akan pedang itu
tidak pantas berada di sana, tapi mungkin akan terlihat
pantas di genggaman seorang Gruffindor sejati sepertimu.
Aku punya keyakinan penuh kepadamu untuk melakukan apa yang
perlu dilakukan. Bila kau sedang merasa tersesat, ikuti
selalu hatimu. Karena hatimulah yang selama ini membentuk
dirimu sekarang yang sangat kukagumi.
Satu kata terakhir dariku, dungu! Gendut Aneh! Jewer!
Albus Dumbledore
End Flashback
***
“Mari kita lihat apa yang diingat oleh Malfoy senior.” Harry
berkata pada dirinya sendiri sambil menuangkan isi dari
botol yang berisi ingatan Lucius Malfoy tersebut.
Harry mencondongkan mukanya ke dalam zat perak Pensieve dan
kakinya terangkat membawa dia masuk.
Author’s notes: What do you think about the romance? Sorry
kalo si rambut merah dan si pintar rada-rada OOC. I think
it’s because I’m not very fond of both character. Anyway, on
to the next chapter.
Kembali
Next
Previous |