CHAPTER
VI: FIGHT FOR AZKABAN PART I
Grimmauld Place
“Memalukan. Benar-benar memalukan.” Ron menggeleng-gelengkan
kepalanya.
“Jangan bilang begitu lagi.” Hermione dan Ron kini berdua
berada di depan pintu utama markas orde phoenix.
“Hermione! Apa kau pernah dengar ada orang yang kabur dari
rumah, lalu kembali lagi setelah hanya beberapa jam?” Ron
mulai membuka pintunya.
“Mau bagaimana lagi? Kita tidak punya cukup uang untuk
mencari tempat tinggal ataupun untuk menginap di Leaky
Cauldron.”
“Kita kan bisa pergi ke rumah orangtuamu di Manchester.”
“Orangtuaku sedang ada konferensi dokter gigi di Paris.
Mereka tidak akan kembali lagi setelah dua minggu.” Hermione
mengikuti Ron masuk ke dalam. “Terima saja, Ron. Kita tidak
bisa kemana-mana lagi, kecuali kalau kita menemukan Harry.”
“Oh, jadi kau harapkan Harry untuk membayar semua keperluan
kita? Kita harusnya membantu dia Hermione, bukannya menguras
uang dia.”
“Bukan itu maksudku, Ron. Aku hanya...”
“Aku tahu jelas apa maksudmu.” Ron membanting pintu dengan
marah tanpa sadar apa yang akan dia bangunkan.
“DARAH KOTOR! PENGKHIANAT! BERANI SEKALI KALIAN MENGOTORI
RUMAH LELUHURKU DENGAN KEHADIRAN KALIAN! RUMAH TERHORMAT INI....”
Ron mengerang. “Aku benar-benar benci tempat ini. Kalau saja
The Burrow tidak penuh oleh keluarganya Fleur, kita lebih
baik ke sana saja.”
“Apa!? Siapa!?” Molly Weasley datang ke arah Ron dan
Hermione dengan tongkat terangkat. Dia lalu tahu siapa yang
telah membangunkan lukisan Mrs. Black.
“RONALD WEASLEY! DARI MANA SAJA KAU!” Mrs Weasley
mengibas-ngibaskan tongkatnya kearah Ron seakan-akan ingin
menyerangnya.
“Bloody hell. Mum. Turunkan dulu tongkatnya.” Ron sejak dulu
memang takut pada ibunya. Apalagi kini ibunya memegang
tongkat. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan Ron kecuali
bersembunyi di balik Hermione.
“Dari mana saja kalian!? Aku menemukan surat ini di kamarku
tadi pagi.” Mrs Weasley mengeluarkan surat yang ditinggalkan
oleh Ron kepada ibunya.
“M-Mrs Weasley, tenang dulu.” Hermione cukup takut juga
melihat kemarahan Mrs Weasley.
Setelah beberapa kibasan tongkat yang mampu membuat Ron dan
Hermione menundukkan kepala mereka, Mrs Weasley menurunkan
tongkatnya dan meminta penjelasan dengan sikap yang lebih
tenang.
“K-kami berusaha untuk menyusul Harry, mum.” Ron berkata
masih dari balik Hermione.
“Dan kalian berhasil menemukan dia?”
“Tidak Mrs Weasley. Kami pergi ke tempat di mana Harry
pernah bilang bahwa dia akan ke sana, tapi ternyata Harry
tidak ada. J-jadi kami kembali lagi ke sini.”
Mrs Weasley menyingkirkan Hermione dan langsung memeluk anak
laki-laki termudanya dengan sebuah pelukan maut yang membuat
Ron merasa seluruh tulang di tubuhnya retak.
“Jangan pernah melakukan itu lagi, Ronald. Aku hampir saja
kehilangan Bill. Dan kini kedua kakak kembarmu juga sedang
mempertaruhkan nyawa mereka di Azkaban. Aku tidak ingin
kehilangan anakku seorangpun.”
Ron melepaskan pelukan ibunya secepat mungkin. “Azkaban? Apa
yang terjadi di Azkaban? Apa hubungannya dengan Fred dan
George?”
Setelah menenangkan dirinya, Mrs Weasley akhirnya berkata,
“Azkaban diserang oleh Death Eater. Semua anggota order
sedang ke sana membantu para auror.”
,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,.....................................................................
Penjara Azkaban
“Oh, tidak. Mereka telah berhasil masuk.”
Perasaan panik Tonks ikut menular kepada Harry. Tetapi Harry
lebih panik lagi karena ini merupakan pertama kalinya bagi
dia melihat penjara Azkaban yang sangat ditakuti itu.
Dugaan Harry benar bahwa Azkaban adalah sebuah kastil. Tapi
dia sama sekali tidak menduga ukuran dari kastil tersebut.
Ukuran kastil Azkaban kira-kira setengahnya dari Hogwarts
dan sepertinya menyelimuti keseluruhan pulau. Terlihat dua
menara tinggi di depannya yang sepertinya digunakan untuk
mengawasi kastil tersebut.
“Bagaimana gerbang itu bisa bobol? Seharusnya gerbang
Azkaban itu kebal terhadap sihir.” Tonks bertanya tidak
kepada siapapun.
Hanya sedetik setelah pertanyaan Tonks, Harry merasakan ada
yang tidak beres dari belakangnya. Dia menoleh kebelakang.
“Awas!!” Harry berteriak dan langsung berguling ke samping
sambil menarik lengan Tonks sehingga mereka berdua
berjungkirbalik ke arah kanan. Suara dentuman keras
terdengar.
Harry berdiri melihat ke tempat dimana tadi dia berdiri kini
terdapat sebuah batu besar seukuran mobil muggle telah
menempatinya. Dari balik batu itu, Harry dapat melihat auror
Willcox berdiri. Dia tampaknya berhasil menghindar ke arah
yang berlawanan dengan Harry dan Tonks. Kemudian Harry
melihat ke arah dari datangya batu tersebut.
“Itu jawabanmu, Tonks.” Tonks masih terbaring di tanah.
“Gerbang ini mungkin kebal terhadap sihir. Tapi tidak
terhadap serangan fisik.” Harry melanjutkan.
Tonks lalu berdiri dan ikut melihat apa yang Harry lihat.
Mereka melihat seorang raksasa berdiri di hadapan mereka.
Raksasa itu amat tinggi. Lebih tinggi daripada adiknya
Hagrid, Grawp. Bukan hanya tinggi, raksasa itu juga
mempunyai otot-otot kekar yang dengan melihatnya saja kau
tahu kau bisa remuk apabila raksasa itu memegangmu. Berbagai
bekas luka pada wajah raksasa itu menandakan bahwa dia
sangat berpengalaman dalam berkelahi.
Raksasa itu hendak mengambil sebuah batu besar lagi ketika
auror Willcox menyerang kepalanya dengan kutukan yang
sepertinya merupakan Kutukan Conjunctivitus. Sang raksasa
mengerang kesakitan tapi masih tegar berdiri. Dia memandang
marah kepada Willcox.
“Serahkan ini padaku! Kalian masuk saja bantu yang lain!”
Willcox berseru kepada Harry dan Tonks.
“Tapi...” Tonks hendak protes tapi Harry menggenggam
tangannya dan menarik dia untuk masuk.
“Cepatlah!” Willcox mengeluarkan kutukan lagi.
“Ayo, Tonks.” Harry kembali mencoba menarik Tonks untuk
masuk.
“Tapi dia partnerku!”
“Dengar! Yang penting adalah apa yang terjadi di dalam. Kau
boleh tinggal di sini kalau kau mau. Tapi aku akan tetap
masuk.” Harry melepaskan tangan Tonks dan melangkah sendiri
ke arah pintu masuk.
Tonks akhirnya mengalah dan mengikuti Harry dengan setengah
berlari.
Harry masuk pertama ke dalam kastil. Apa yang dia temukan di
lantai dasar ini mengejutkan dia. Di dalam ruangan kastil
yang lembab dan gelap ini, berserakan sejumlah penyihir di
lantai, baik itu para auror maupun Death Eater. Tidak ada
satupun yang masih berdiri, hanya ada beberapa orang yang
mengerang di lantai.
“Tampaknya pertempuran sudah pindah ke lantai dua.” Ucap
Tonks. Dari atas memang terdengar suara orang-orang yang
sedang berduel. “Tangganya di ujung sana. Ayo!”
Kali ini Tonks yang memimpin jalan melewati koridor kastil
dengan orang-orang tergeletak di antaranya. Harry merasa
bersalah karena tidak membantu beberapa orang yang
kelihatannya masih hidup dan mengerang kesakitan.
“Tonks, bagaimana dengan yang terluka?” Tanya Harry dari
belakang Tonks.
“Kita tak bisa membantu mereka sekarang. Tim Healer akan
datang setelah keadaan terkendali.” Tonks tidak menghentikan
langkahnya.
Mereka sampai di tangga naik dan dengan segera menaiki
tangga tersebut. Perjalanan naik di tangga itu cukup panjang.
Hal ini membuat Harry sedikit terengah-engah.
Ketika sampai di lantai kedua, yang pertama Harry lihat
adalah kilatan-kilatan cahaya berbagai warna berterbangan di
dalam ruangan. Dan Harry harus menghindari sebuah kutukan
dengan memutar badannya. Kutukan itu membuat lubang di
tembok di belakang Harry.
Lantai dua benar-benar membingungkan. Karena banyaknya
penyihir yang berduel di sini, Harry hampir tidak bisa
membedakan antara pihak yang baik dengan yang jahat. Tapi
hal itu tidak membuat Tonks bingung karena auror wanita itu
langsung terjun ke pertarungan dengan melontarkan berbagai
macam mantra dan kutukan.
“Tunggu, Tonks!” Harry berteriak, tetapi insting auror Tonks
tidak mempedulikannya. Dan mau tidak mau Harry juga ikut
melibatkan diri dalam pertarungan dimana tampaknya para
auror terlihat terdesak karena jumlah mereka kalah dari para
Death Eater.
Dia langsung membius seorang Death Eater yang sedang
memojokkan seorang auror yang sudah terluka cukup parah.
Harry kemudian dengan hampir bersamaan membius dua orang
Death Eater. Para anak buah Voldemort sepertinya belum
menyadari kehadiran Harry dan Tonks sehingga mereka berdua
bisa melumpuhkan beberapa Death Eater dengan cepat.
Seorang Death Eater berambut pirang kemudian menyerang Harry
dengan mantra cruciatus dan Harry menghindarinya dengan
melompat. Harry membalasnya dengan mantra pelucut yang
dengan mudahnya diblok.
Si pirang menyerang Harry dengan sebuah mantra yang berwarna
ungu. Harry ingat bahwa ini adalah mantra yang digunakan
Dolohov di Departemen Misteri kepada Hermione. Refleksnya
langsung mengeluarkan sebuah mantra penangkal yang belum
pernah dia kuasai sebelumnya. “Bakatcha!” Sebuah cermin
besar tercipta dari tongkatnya dan memantulkan kutukan yang
datang kepada si pirang yang langsung jatuh pingsan.
Harry semakin bergerak mendekati tangga naik. Dari kejauhan,
Harry melihat seorang auror terdesak oleh dua orang auror.
Harry menyerang mereka berdua dengan mantra dari bukunya si
Half Blood Prince.
‘Levicorpus.’ Kedua Death Eater itu langsung melayang
terbalik dengan satu kaki mereka tertarik ke atas. Tongkat
merekapun terjatuh. Auror yang mereka desak sebelumnya
sempat bingung sebentar sebelum membius mereka. Harry merasa
jijik karena menggunakan mantra yang diciptakan oleh Snape.
Keadaan yang sebelumnya berbalik dengan yang sekarang. Jika
sebelumnya jumlah antara Death Eater dan auror yang ada di
lantai dua ini dua berbanding satu, maka kini dengan
kehadiran Harry dan Tonks, jumlah mereka kini sama kuat.
Melihat kini keadaan sudah agak seimbang, Harry semakin
berusaha untuk mendekati tangga naik. Ketika tangganya sudah
mulai terlihat, Harry merasakan ada sebuah serangan dari
arah kirinya. Dugaan Harry benar, tapi dia benar-benar tidak
menyangka serangan macam apa yang datang karena belum sempat
dia bertindak apa-apa, seorang Death Eater bertubuh besar
mencengkeram leher Harry dengan tangan kanannya dan tangan
kirinya menggenggam tangan kanan Harry dengan amat keras.
Death Eater itu kemudian menyeret Harry sampai punggungnya
menghantam tembok di belakangnya. Harry tidak bisa
mengeluarkan suara kesakitan karena lehernya dicekik dengan
keras.
“Mati kau.” Suara Death Eater itu begitu kasar dan
menyeramkan.
Harry merasa ini adalah akhir hidupnya. Lehernya ditekan
begitu kuat sehingga beberapa detik lagi saja, dia pasti
sudah mati. Tangan kanannya yang memegang tongkatpun tidak
bisa dia apa-apakan karena cengkeraman yang begitu kuat dari
si death Eater. Pergelangan tangannya serasa mau patah.
Ketika kesadarannya sudah mulai hilang, tiba-tiba tangan
kedua tangan yang mencengkeramnya melepaskan genggamannya
dan Harry terjatuh di atas Death Eater itu yang tampaknya
telah tak sadarkan diri.
“Harry, kau tak apa-apa?” Ternyata Tonks-lah yang telah
menolongnya. Dia mencoba membuat Harry berdiri. Tapi Harry
yang hampir kehilangan kesadarannya masih butuh waktu untuk
memulihkan diri. Dia hanya mengangguk-anggukan kepalanya
tanda dia baik-baik saja, hal ini saja sudah membuat dia
terbatuk-batuk.
Tetapi Harry tahu tidak ada waktu untuk bersantai. Dia
melihat ke sekitarnya dan terlihat para auror sudah berhasil
mendesak Death Eater yang tersisa menuju tangga turun
sehingga kini Harry dan Tonks tidak sedang dalam bahaya
karena terdapat rombongan auror yang menghalangi mereka dari
para Death Eater.
“Ayo, Tonks. Kita harus terus bergerak.” Ucap Harry dengan
badan yang masih agak lemas.
“Kau yakin, Harry? Sebaiknya kau istirahat sebentar.”
“Tidak. Tidak. Sepertinya Death Eater sudah berhasil naik ke
lantai tiga. Lihat itu.” Harry menunjuk ke arah tangga naik.
“Itu penghalang yang sama dengan yang mereka gunakan di
Hogwarts ketika ... Dumbledore tewas.” Tonks berkata dengan
berat hati.
Harry mengangguk. “Benar. Itu kutukan penghalang yang hanya
bisa dilewati oleh mereka yang mempunyai tanda kegelapan.”
“Bagaimana ini? Kita tidak mungkin bisa melewatinya. Mereka
pasti tidak ingin para auror di atas mendapatkan bantuan.”
Harry melihat ke dari lantai dua tersebut dan ada sesuatu
yang mengganjalnya. “Aku heran kenapa para Death Eater tidak
berusaha membebaskan para tahanan di lantai ini. Padahal
semestinya para tahanan bisa membantu mereka.”
Ekspresi di wajah Tonks menandakan bahwa dia juga memikirkan
hal yang sama. “Mungkin tujuan utama mereka bukan untuk
membebaskan para tahanan. Tapi untuk mengambil alih kastil
ini.”
“Kita pikirkan saja itu nanti. Kita harus segera naik.”
Harry mulai mendekati tangga naik yang dihalangi oleh
kutukan penghalang tersebut.
“Tapi bagaimana caranya kita naik? Kita tidak punya tanda
kegelapan.” Tetapi Harry tampak tidak mendengarkan. “Tonks.
Kau tahu Lucius Malfoy ditahan di mana?”
“Tahanan seperti dia kemungkinan besar ditahan di level
tertinggi. Lantai empat, di ujung koridor. Apa sebenarnya
rencanamu dengan dia?”
“Aku tidak bisa memberitahumu. Sekarang lebih baik kita
cepat-cepat naik.” Harry berkata.
“Sudah kubilang. Kita tidak mungkin bisa naik.”
“Mungkin kita bisa melakukan ini...” Harry mengangkat Death
Eater terdekat yang pingsan dan berusaha membawanya menuju
tangga dengan susah payah.
“Apa yang kau lakukan?”
“Ini...” Harry meloncat sambil menarik membawa Death Eater
pingsan itu dalam pelukannya. Dan ternyata berhasil, dia
kini sudah melewati penghalang tersebut.
“Lakukan apa yang kulakukan, Tonks. Dan cepat!” Harry
langsung naik tangga sendirian.
Ketika sampai, Harry seperti melihat deja vu. Keadaan di
lantai tiga ini sama persis dengan yang terjadi di lantai
sebelumnya. Tanpa menunggu Tonks, dia langsung terjun lagi
ke dalam pertempuran.
Harry melumpuhkan tiga orang Death Eater yang masing-masing
sedang sibuk melawan sejumlah auror. Harry kini berada di
tengah-tengah pertempuran. Dari dekatnya, Harry mendengar
kutukan paling berbahaya sedang dirapalkan.
“Avada...” Seorang Death Eater hendak mengeluarkan kutukan
pembunuh kepada seorang auror wanita yang sudah tersungkur
di lantai dan pasrah menerima kematiannya. Harry harus
melakukan sesuatu.
“Accio!” Auror tersebut terbang dari posisinya di lantai dan
melayang ke arah Harry. Sementara itu kutukan pembunuh hanya
membuat lubang di lantai.
“Oh-uh.” Auror wanita yang diselamatkan Harry itu terbang
dengan cepat dan bertubrukan dengan Harry dan mereka berdua
terjatuh dengan Harry berada pada posisi tertindih.
“Berani sekali kau!” Death Eater yang tadi hendak membunuh
si auror, mendekati Harry.
“Crucio!” Hanya satu yang bisa dilakukan Harry sekarang.
Korbankan si auror pada mantra cruciatus.
Tubuh auror yang berada di atas Harry menggeliat kesakitan.
Teriakan dari si auror membuat sakit telinganya. Tanpa
melihat kepada sang Death Eater, dari balik tubuh auror,
Harry menyerang dengan kutukan penusuk. Dia tidak merasa
puas apabila hanya menggunakan mantra pembius.
“Maherius.” Teriakan kesakitan dan berhentinya teriakan dari
si auror menandakan bahwa Harry berhasil mengenai tergetnya.
Harry segera menyingkirkan badan si auror dan berdiri. Dia
melihat Death Eater yang tadi menyerangnya sedang mengerang
kesakitan dengan memegang dadanya.
“Stupefy.” Death Eater itu pingsan. Tapi Harry tidak punya
waktu untuk santai karena dari belakangnya, Dia merasakan
sebuah bahaya. Ketika berbalik, dua orang Death Eater
menyerang Harry dengan kutukan yang belum pernah dilihatnya.
“Protego!” Walaupun mantra pelindungnya berhasil menahan
kutukan tersebut, Harry terlempar ke belakang dan mendarat
beberapa meter kemudian.
Dua orang Death Eater itu kembali menyerang dengan mantra
yang sama, kali ini Harry menggunakan mantra pelindung untuk
melemparkan kembali kutukan tersebut.
“Bakatcha!” Tetapi cermin yang dihasilkan tidak memantulkan
kembali kutukan yang datang dan hancur berkeping-keping.
Sisa-sisa dari kutukan tersebut memberikan rasa sakit yang
luar biasa di tangan kiri dan kaki kanannya. Dia terjatuh ke
tanah.
“Avada Kedavra.” Salah satu dari Death Eater itu
mengeluarkan kutukan pembunuh kepada Harry.
Harry hanya terpaku saja melihat kutukan yang berwarna hijau
itu datang. Tiba-tiba sebuah tubuh melayang di depannya dan
menerima efek penuh dari kutukan tersebut. Ketika tubuh itu
jatuh ke tanah, Harry melihat itu adalah tubuh dari seorang
Death Eater.
Kedua Death Eater tampak kaget melihat apa yang terjadi
sehingga satu di antara mereka tidak mampu memblok mantra
pembius yang datang dan pingsan di lantai.
Seseorang kemudian berdiri di depan Harry dan berduel dengan
Death Eater yang satu lagi.
“Tonks.” Harry menyadari ternyata Tonks-lah yang tadi telah
menolongnya dari kutukan pembunuh.
Harry berdiri dengan susah payah dan melihat keadaan
pertempuran. Kelihatannya para Death Eater sedikit lebih
unggul dari para auror. Sementara itu Tonks masih berduel
dengan keras dengan Death Eater yang tadi menyerang Harry
dengan Kutukan pembunuh.
Tiba-tiba Harry mendapatkan ide untuk membantu pertempuran
ini. “Serpensortia, serpensortia, serpensortia...”
Total Harry mengeluarkan tujuh ekor ular hitam besar dari
tongkatnya. Mereka mendesis-desis melihat ke arah
orang-orang yang berada di sekitar mereka.
“Serang mereka yang menggunakan topeng. Mereka sangat lezat.
Sumpah.”
Ular-ular itu bergerak dengan semangat. Dan karena mereka
bergerak di lantai, hampir tidak ada yang memperhatikan
mereka. Ular yang paling besar menggigit kaki Death Eater
yang sedang bertarung dengan Tonks dan berteriak kesakitan
dan langsung dilumpuhkan oleh Tonks.
Tonks melihat ke arah Harry. “Harry. Kau yang mengeluarkan
ular-ular itu? Itu sangat berbahaya. Bagaimana kalau mereka
menyerang kita juga?”
“Tenang Tonks. Aku sudah menyuruh mereka untuk hanya
menyerang Death Eater.” Ekspresi Tonks menandakan dia tidak
mengerti apa maksud Harry sebelum dia menyadarinya. “Oh,
benar. Aku baru ingat kau parselmouth.”
“Ayo, Tonks. Aku harus segera naik ke lantai empat. Kau
lindungi aku ya.” Harry mulai berjalan dengan cepat.
Para Death Eater berada pada kondisi yang kacau karena
tiba-tiba banyak sekali ular yang menyerang mereka. Hal ini
memudahkan para auror untuk melumpuhkan mereka.
Harry berjalan cepat dengan Tonks di belakangnya. Tonks
mengeluarkan kutukan ke sana sini untuk memudahkan jalan
Harry yang hanya sesekali menghindari kutukan yang datang
dan membalasnya.
Seorang Death Eater menghalangi mereka berdua dan menyerang
Harry. Tiba-tiba Tonks menjatuhkan Harry dan berduel dengan
Death Eater itu.
“Lari Harry. Biar kutangani dia.” Tangan Tonks dan Death
Eater itu bergerak cepat sehingga hampir tidak terlihat.
Harry berdiri dan menuju tangga naik ke lantai empat yang
sudah di depan mata. Ketika sampai, dia melihat tangga itu
tidak dihalangi oleh kutukan penghalang seperti di lantai
sebelumnya. ‘Bagus, berarti belum ada Death Eater yang
berhasil naik.’
Dia menaiki tangga dengan cepat dengan masih menahan rasa
sakit dari tangan dan kakinya. Harry tidak tahu darimana dia
bisa dapat tenaga untuk bergerak secepat ini. Tapi, dengan
semua yang terjadi pada dirinya hari ini, dia tidak merasa
terkejut lagi. Setelah kejadian di Godric’s Hollow, dia
seperti merasa ada kekuatan baru yang merasuki tubuhnya yang
bisa membuatnya melakukan semua hal yang sebelumnya tidak
bisa dia lakukan.
Ketika sampai di lantai empat, Harry melihat keadaan yang
berbanding terbalik dengan dua lantai sebelumnya. Lantai ini
amatlah sepi. Hanya ada dua orang auror yang tergeletak di
lantai. Salah seorang di antara auror itu sepertinya masih
sadar.
Harry mendekati auror yang masih sadar itu. Ketika sudah
dekat, Auror itu hanya menunjuk kebelakangnya dan
mengucapkan, “Death....Eater....sana.” Auror itu langsng
kehilangan kesadarannya setelah kata-kata itu.
Harry melihat ke arah yang ditunjuk oleh auror itu dan mulai
berlari ke arahnya. Auror itu menunjuk kepada salah satu
koridor yang berada di lantai itu.
Koridor yang dilalui Harry ini amatlah panjang dan dia tidak
melihat tanda-tanda si Death Eater. Di kanan dan kiri
koridor itu berjejer sel-sel tahanan yang hanya terdapat
lubang kecil pada pintunya yang kelihatannya hanya cukup
untuk satu nampan makanan. ‘Sepertinya ini sel-sel untuk
tahanan-tahanan paling berbahaya.’
Harry sampai di ujung koridor yang buntu dan melihat salah
satu sel tahanan setengah terbuka. Dia mendekati sel
tersebut dengan hati-hati dan mendengar ada suara
orang-orang yang berbincang. Tidak, tepatnya orang-orang
yang berargumen.
Dia menendang pintu sel tersebut, dan masuk sambil
mengacungkan tongkatnya. Dia melihat ada dua orang di sel
tersebut.
Lucius Malfoy berdiri di ujung sel. Kondisinya terlihat
mengkhawatirkan dengan pakaian yang lusuh dan tubuh kurus
kering dan rambut kotor yang berantakan. Hilang sudah segala
kebanggaan keluarga Malfoy yang ada pada dirinya.
Satu orang lagi, adalah seorang Death Eater dengan
tongkatnya yang terarah kepada Harry. Death Eater tersebut
berambut pirang mengkilat.
“Potter?!” Death Eater itu berkata.
Harry kenal suara itu. Tidak diragukan lagi, dengan rambut
pirang yang sama dengan ayahnya dan suara menyebalkannya itu.
“Draco.”
Kembali
Next
Previous |