|
Petualangan Terakhir
by:
Ireth Halliwell &
ambudaff
Judul: Petualangan
Terakhir
Author: ambudaff dan
Ireth Halliwell
Panjang: Novel-length
Rating: PG
Genre: General
Tokoh Utama: Luna,
Hagrid
Summary: Bisakah
terjalin persahabatan antara mereka?
Disclaimer: Luna,
Hagrid, dan siapapun yang kau kenal, milik JKR. Everything
else, milik kami berdua
---------------
“Kelas satu! Kelas satu!” suara itu menggelegar begitu
Hogwarts Express berhenti. Si pemilik suara itu memegang
lentera di satu tangan. Posturnya tinggi besar. Otomatis
lentera itu berada di atas kepala anak-anak kelas satu.
[Author's note:
Mengapa selalu Hagrid yang
menjemput anak-anak kelas satu? Dan kalau dia berhalangan,
yang menggantikan adalah Profesor Grubbly-Plank. Apakah karena
anak-anak kelas satu dianggap sama dengan ... magical beast? *kabur*]
Anak-anak kelas satu memisahkan diri dari kumpulan anak lain.
Dan mengikuti Hagrid yang mengarahkan mereka untuk menaiki
perahu. Hagrid mengawasi mereka agar tidak ada yang tertinggal.
Dan ... eh, itu ada dua orang lagi!
Dua-duanya perempuan. Yang satu berambut merah. Hagrid
menebak-nebak, pastilah ini Weasley yang lain.
”Weasley, eh?” tanya Hagrid mendekat. Gadis kecil itu menoleh,
dan mengangguk. Matanya masih basah, seperti menangis.
”Ada apa? Salah satu dari si kembar? Menggodamu?”
Gadis itu menggeleng, ”Ron,” jawabnya pendek.
”Ohoho. Nanti Hagrid ’kan menyelesaikannya,” jawabnya mengusap
kepala gadis itu sambil mengarahkan jalannya ke arah perahu.
”Bukan. Dia tidak menggodaku,”
”Lalu?”
”Dia .. dia .. sama Harry ... tidak bisa masuk peron 9 ¾ ..dan
aku sedari tadi mengawasi apakah dia berhasil sampai sini,
tapi ...” gadis itu tampak benar-benar bingung.
Hagrid menghela napas. ”Siapa namamu?”
”Ginny.”
”Ginny, biarkan Dumbledore yang akan menyelesaikan. Ayo,
masuklah ke perahu,” Hagrid mendorongnya ke perahu terakhir.
Dan seorang gadis lagi masih termangu-mangu memperhatikan
kereta-kereta yang dinaiki oleh anak-anak yang lebih besar.
”Dan dia? Kau tahu dia?” Hagrid bertanya pada Ginny.
“Eh, … aku tidak tahu. Yang aku tahu dia anak keluarga
Lovegood, tinggalnya di Ottery St Catchpole juga. Tapi aku
tidak begitu kenal,” Ginny menghapus sisa-sisa airmatanya.
Hagrid mendekatinya.
“Hallo.. ayolah nak, yang lain sudah masuk ke perahu semua,”
Hagrid berdiri tepat di sampingnya.
“Indah sekali,” gadis itu masih terpesona.
Hagrid menggoyang-goyangkan telapak tangannya yang besar di
depan mata gadis itu.
”Apa yang kau lihat, Miss Lovegood?”
“Eh,” gadis itu menoleh terkejut, “i-iya, maaf, aku membuat
mereka jadi terlambat ya?”
Hagrid tak menjawab, tapi mengiringi jalannya ke atas perahu.
”Siapa namamu?” Hagrid membimbing gadis itu masuk ke perahu
terakhir, mendudukannya di sebelah Ginny.
”Luna. Luna Lovegood,” sahutnya, sambil memandang Ginny, ”Hei,
kau juga tinggal di Ottery St Catchpole ya?”
Ginny mengangguk. “Ginny. Ginny Weasley,” katanya.
Hagrid tertawa. “Kalian ini, tetangga tapi baru berkenalan di
sini. OK, aku Rubeus Hagrid, panggil saja Hagrid seperti semua
memanggilku. By the way, Luna, apa yang kau bilang indah?”
”Threstal,” katanya pendek.
”Oh. Siapa yang meninggal? Dalam keluargamu, maksudku?”
”Mum. Dua tahun yang lalu,”
”Ah. Sorry.”
Ginny membuka mulut untuk bertanya, tapi Hagrid memberi
isyarat agar diam. Mereka masuk ke perairan bawah tanah,
rupanya.
Hagrid mengarahkan perahu menuju tepian. Dan ada sebuah pintu
besar di sana. Seorang penyihir wanita berjubah kotak-kotak
menunggu di sana.
”Agak terlambat, Hagrid?” penyihir itu menyambut anak-anak
yang baru datang.
”Sorry, ma’am. Inilah mereka, anak-anak kelas satu,” ujar
Hagrid sambil menepikan perahu-perahu itu.
”Baiklah. Hagrid, kuambil alih dari sini,”
-------------
Penyihir wanita itu
memiliki raut wajah serius, rambutnya diikat membentuk konde,
dan ia memakai kacamata kecil. Murid-murid kelas satu masih
terus mengikutinya. Hingga akhirnya berhenti di depan sebuah
pintu yang besar.
“Selamat malam, kelas satu. Nama saya Minerva McGonnagall, dan
kalian akan memanggil saya Profesor McGonnagall. Nah, sekarang
kalian akan masuk ke dalam Aula Besar untuk seleksi asrama.
Penyeleksian asrama ini sangat penting, karena selama di
Hogwarts, asrama kalian akan menjadi semacam keluarga bagi
kalian. Mari ikut saya,” Profesor McGonnagall memberi isyarat
pada murid kelas satu dan membuka pintu aula.
Ketika pintu terbuka, seluruh ruangan telah dipenuhi semua
penghuni Hogwarts. Meja-meja dan kursi-kursi yang panjang
berderet membentuk empat kolom dan masing-masing mungkin telah
diisi dengan murid dari asrama-asrama Hogwarts. Langit-langit
yang terbuat dari sihir sedang menunjukkan malam yang cerah
dengan bintang-bintang bersinar, membuat para murid kelas satu
menganga terpana.
Profesor McGonnagall membawa para kelas satu ke depan aula
lalu berhenti di dekat sebuah podium. Seorang penyihir
laki-laki tua dan berambut putih panjang menaiki podium dan
menyambut murid baru Hogwarts.
“Selamat datang, murid baru. Selamat datang di Hogwarts,
Sekolah Ilmu Sihir. Ada empat asrama di Hogwarts, Gryffindor,
Hufflepuff, Ravenclaw, dan Slytherin. Saya harap kalian masuk
ke asrama yang tepat. Nah, saya tidak akan menghalangi kalian
untuk segera menempati asrama, jadi kita mulai saja,” Albus
Dumbledore—penyihir itu, mengedip pada Profesor McGonnagall,
seolah mengatakan pada Profesor McGonnagall untuk melanjutkan
tugasnya.
Profesor McGonnagall melangkah ke depan dan mendekati sebuah
meja kecil, di atasnya terdapat sebuah topi yang tampak usang.
Begitu usangnya, seolah-olah mereka baru saja memungut topi
itu dari lumpur. Bedanya topi ini tidak basah oleh lumpur.
Tiba-tiba topi itu memiliki wajah dan ia bergerak! Lalu pelan
topi itu mulai mengalunkan sebuah lagu yang tampaknya seperti
lagu tentang keempat asrama Hogwarts.
Saat topi seleksi selesai menyanyi, sebuah gulungan perkamen
terurai di tangan Profesor McGonnagall, “Saat saya bacakan
nama-nama, kalian harus maju ke depan, memakai Topi Seleksi,
dan duduk di bangku asrama yang terpilih.” Professor
McGonnagall pun mulai memanggil satu persatu murid baru.
“Sial, topi usang itu sudah tahu kalau aku seorang Weasley.
Padahal topi itu belum sepenuhnya kupakai,” keluh Ginny. Ia
diterima di Gryffindor dan kini sedang duduk di bangku bersama
murid Gryffindor yang lain sambil meyendoki kentang rebus ke
piringnya.
“Itu selalu terjadi pada keluarga kita,” timpal seorang bocah.
Rambutnya sama-sama merah seperti Ginny dan wajahnya penuh
dengan bintik-bintik merah.
"Rupanya keluarga kita sudah terlalu tenar," tambah seorang
lagi yang wajahnya sama persis. Ginny tidak melanjutkan
keluhannya dan kini ia malah menikmati makan malamnya dengan
ayam panggang dan kentang rebus tadi.
Sementara itu Luna Lovegood di bangku Ravenclaw yang sembari
menggigit sepotong paha ayam sedang melamun, memandang
langit-langit aula. Seorang anak laki-laki di sebelahnya yang
juga murid baru membuyarkannya dengan menyenggol gelas piala
milik Luna hingga isinya—jus labu—tumpah dan mengenai ujung
lengan jubah Luna.
“Maaf,” kata anak itu meringis. Herannya, Luna tidak bereaksi
sama sekali. Ia hanya menoleh dan menatap murid Ravenclaw itu
dengan matanya yang bulat dan menonjol.
“Euh... kau tak apa-apa?” ditanya begitu Luna malah tersenyum
dan membuat anak laki-laki itu terheran-heran.
“Tadi aku berpikir, langit-langit aula itu sungguh membosankan.
Biarpun disihir hingga berganti musim pun, kita tidak akan
merasakan musim itu di dalam ruangan. Apalagi bintang-bintang
itu, entahlah, aku pikir kurang bagus. Itu saja,” jawab Luna.
“Hah?” tanya Harris—belakangan diketahui kalau namanya Harris
karena temannya baru memanggilnya—bingung. “Aku tidak mengerti
apa maksudmu.”
“Harris!” pekik seorang teman Harris dengan suara berbisik,
“Dia seorang Lovegood. Apa kau tak pernah dengar reputasi
keluarga Lovegood? Mereka terkenal aneh. Lebih baik kau jangan
berbicara dengannya.”
Kini Harris pun semakin bingung. Akhirnya ia memutuskan untuk
makan saja daripada harus berbicara dengan Luna tentang topik
yang tidak ia mengerti. Luna sendiri tidak protes ketika tidak
ada lagi yang diajak bicara.
“Kelas satu! Kelas satu!” teriak seorang prefek Ravenclaw
ketika jamuan malam telah selesai. Sudah saatnya semua murid
kembali ke asrama masing-masing. Ketika semua murid kelas satu
telah terkumpul, seorang prefek laki-laki berambut coklat
pendek mengenalkan diri dan memberi penjelasan singkat.
“Halo, kelas satu. Namaku McScrange, aku adalah prefek kalian.
Sekarang aku akan mengantar kalian menuju asrama Ravenclaw.
Perlu kalian ketahui, untuk masuk ke
common room Ravenclaw,
kalian harus mengucapkan password. Password untuk kali ini
adalah Paravision. Password bisa berubah sewaktu-waktu, dan
aku yang akan memberi tahu kalian jika terjadi perubahan
tersebut. Oke, sekarang ayo ikut aku.” Seluruh murid kelas
satu Ravenclaw mengikuti McScrange menuju
common room Ravenclaw.
Luna berada di barisan paling akhir, ia memang sengaja untuk
mengakhirkan dirinya sendiri. Mereka berjalan melewati
koridor-koridor penuh lukisan dengan orang-orang yang
berjalan-jalan, menari, dan bahkan kadang menyapa mereka (“Ah,
musimnya kelas satu telah tiba”). Tangga marmer yang mereka
lewati membawa mereka ke sebuah menara di sudut Hogwarts.
“Sedikit lagi,” kata McScrange. Mereka melewati lorong sempit
yang terang karena di sisi-sisi dindingnya diberi lentera.
“Ini dia.”
McScrange dan para murid kelas satu tiba di depan sebuah
dinding batu. Tak ada lukisan, lentera, hiasan apa pun di sana.
Kosong.
McScrange mengutarakan kata sandi asrama Ravenclaw, “Paravision.”
Salah satu batu di dinding muncul dan memutar seperti kenob
pintu. Setelah batu itu berputar sembilan puluh derajat,
dinding batu itu pun mulai bergeser terbuka. “Common
room Ravenclaw, semuanya.”
=====
“Woow, woow,”
suara-suara kagum dan terheran-heran terdengar di antara
anak-anak kelas satu. Tapi Luna diam saja, hanya saja matanya
berputar mengelilingi common
room itu.
“Sudah, sudah, nanti kita akan mengagumi lagi. Sekarang, kita
masuk ke kamar masing-masing. Anak laki-laki ikut denganku,
sedang anak perempuan ikut dengan Penelope, ya?” McSrange
dengan sigap mengarahkan anak laki-laki ke arah pintu-pintu di
sebelah kanan sedang anak-anak perempuan masuk ke pintu-pintu
di sebelah kiri.
Luna ikut masuk. Mereka berlima, sesuai dengan jumlah ranjang
yang ada. Dia menghempaskan badannya ke ranjang, tapi langsung
tegak lagi berdiri.
“Ada apa?” Penelope Clearwater, Prefek kelas enam itu bertanya.
“Tidak. Cuma sepertinya ada kacang hijau di bawah kasurku.
Atau Billywig?” Luna mengebas-ngebaskan bajunya seakan ada
sesuatu di sana.
Penelope mendekatinya. Melihat bahunya, melihat sekitarnya.
“Ah, Luna, nggak ada apa-apa kok. Lagipula, malam-malam begini
mana ada Billywig di dalam kamar?”
Salah satu gadis anak baru cekikikan.
Luna mengangkat bahu. Dia mulai membuka bajunya (pssst!
Nggak boleh ngeres pikirannya) lalu menggantinya dengan
baju tidur.
Penelope tersenyum. “Nah, sekarang, selamat malam,” katanya
sambil keluar dari kamar anak-anak kelas satu.
Pintu kamar menutup. Gadis yang tadi cekikikan berbisik pada
gadis yang di dekatnya. “Namanya bukan Luna. Mestinya
Loony,”
Mereka berdua cekikikan bersama.
*****
Great Hall waktu pagi selalu diramaikan dengan pos burung
hantu. Kali ini juga ramai.
Dan ada seekor burung hantu membawa sesuatu. Luna langsung
tertarik. Burung itu mendarat di meja Gryffindor. Di depan
seorang anak laki-laki berambut merah. Kalau melihat wajah dan
rambutnya, mungkin dia kakaknya Ginny.
Langsung saja meja Gryffindor gempar. Ternyata burung itu
membawa Howler. Dan mulai terbakar saat akan mulai
mengeluarkan kata-katanya. Dengan cepat kakak Ginny itu
membawa Howler-nya keluar Great Hall, meski mereka sudah
terlanjur mendengar kata-katanya.
“Kenapa tidak disuruh makan saja lidah apinya oleh Salamander,
nanti Howler-nya nggak akan ribut,” Luna berbicara sendiri
melihat Howler sudah mulai menyala.
Kedua gadis sekamarnya saling berpandangan. Lalu tertawa
tertahan.
Ucapannya terdengar oleh Harris. Harris sudah akan berucap
ketika temannya menahannya dan berbisik, “Dia agak …eh, …
begini,” katanya sambil memposisikan jari telunjuknya di
kening.
Harris sudah akan memprotes ketika kedua gadis kelas satu itu
berbisik perlahan, setengah bersenandung, “Looony
Luuuna, Loooony Luuuna,” lalu tertawa cekikikan.
Kembali |