APAKAH             FESTIVAL           OWLERY

 

One Fine Valentine

by: Ireth Halliwell

Tipe: One shot
Rating: G
Genre: Drama
Pasangan: The Potters
Bahasa: Indonesia
Disclaimer: Harry Potter and its universe are belong to J.K. Rowling
Summary: All about the Potters

~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

Seorang anak kecil kurus sedang berlari di tengah lapangan. Rambut hitamnya yang acak diterpa angin dan sinar matahari. Di wajahnya tersungging senyuman lebar. Ia sedang senang. Di pelukannya adalah sebuah bola berwarna-warni.

“Jangan cepat-cepat, Harry!” teriak seorang wanita, yang ternyata adalah ibunya Harry, Lily Potter. Di samping Mrs. Potter adalah James Potter, ayah Harry. Harry sempat menoleh sedikit dan menjawabnya.

“Kalian yang kurang cepat! Ayolah!” Harry yang saat itu berumur empat tahun terlihat bersemangat dan terus berlari. Hingga akhirnya ia berhenti di bawah sebuah pohon yang rindang.

“Mum! Dad! Di sini!” teriak Harry lagi pada kedua orangtuanya.

“Sebentar, sayang,” kali ini Mr. Potter yang menjawabnya. Mr. Potter dan Mrs. Potter pun tiba di bawah pohon tersebut.

Mrs. Potter membeber sebuah kain yang lebar agar ketiganya bisa duduk dan meletakkan keranjang piknik di atasnya. Mr. Potter tidak sempat duduk karena Harry sudah menyeretnya ke tengah lapangan lagi untuk bermain bola dengannya.

“Ayo, Dad. Kita main lempar bola!” seru Harry polos. Wajahnya riang sekali, karena inilah pertama kalinya ia dan orangtuanya berpiknik bersama.

“Baiklah, lempar ke Daddy, ya?” balas Mr. Potter. Dan mereka pun berlemparan bola, saling mengumpan.

“Ayo, makan dulu! Nanti bisa sakit kalau tidak makan,” panggil Mrs. Potter dari bawah pohon. Ia melambai-lambaikan sebuah sandwich isi.

“Yum. Makan dulu, Harry?” ajak Mr. Potter pada putranya. Harry menggeleng.

“Harry masih mau main,” katanya.

“Lima menit, sayang. Lima menit. Setelah itu kau harus makan. Oke?”

“Iya, Dad.” Dan Harry terus bermain. Hingga lima menit kemudian ia dipanggil lagi oleh Mrs. Potter.

“Harry! Sudah kan bermainnya?” sahut Mrs. Potter.

“Ayo kemarikan bolanya, nak!” timpal Mr. Potter.

Harry menurut. Ia melempar bolanya kepada ayahnya. Tiba-tiba, wajahnya yang cerah berubah muram. Bola itu tidak lagi berwarna-warni. Kini warnanya hijau terang dan berkilat-kilat. Mengarah cepat pada orangtuanya.

“Mummy? Daddy?” Harry memandang heran kepada keduanya. Lalu dalam sekejap Mr. dan Mrs. Potter sudah tidak ada di hadapan Harry lagi. Lenyap.

Mata Harry membelalak. Keringat membanjiri dahi dan seluruh wajahnya. Ia membasuhnya dengan lengan piamanya. Sinar matahari menerobos melewati jendela dan menyinari pipi Harry.

“Mimpi. Cuma mimpi,” ucap Harry pelan. Tangannya menyentuh sesuatu di samping badannya. Sebuah kotak kecil berwarna merah hati dengan sebuah kartu di atasnya. Harry mengambil kartu itu dan membacanya.

Dear Harry,
Happy Valentine Day. I love you.


Love, Ginny.


Sebuah kartu valentine dari Ginny. Harry membacanya dengan senyuman, lalu dengan tangisan. Air matanya mulai menetes ketika ia teringat mimpinya barusan. Seandainya saja kedua orangtuanya masih hidup, merekalah orang pertama yang akan Harry beri ungkapan ‘Selamat Valentine’.

Seandainya.

“Happy Valentine, Mum dan Dad.”



*Original title was One Mellow Valentine. Tapi karena penulis nggak mau spoiler, diganti deh. XD~*

Kembali

Hosted by www.Geocities.ws

1