|
Nyaris
by:
ambudaff
Tipe: One shot
Rating: PG
Genre: Drama
Pasangan: Remus/Tonks
Bahasa: Indonesia
Disclaimer: As
usual..
Summary: Valentine
Night pada malam purnama
~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~
“Remus..? Ayolah..”
“Aku tidak tahu. Terlalu riskan..”
“Tapi menurut ramalan Badan
Meteorologi dan Geofisika Penyihir, malam ini akan
turun hujan lebat. Dan BMGP biasanya selalu benar.. Ayolah…”
Remus mengeluh pelan. “Baiklah. Yang jelas, aku tidak ada
pekerjaan malam ini, seperti biasanya, sekali tiap bulan.”
Tonks tersenyum ceria, rambutnya berubah kuning berkilauan
ditimpa sinar matahari. “Aku ke pasar dulu, ya.. membeli
persiapan untuk nanti malam.”
Remus mengangguk.
*****
Hujan turun lebat sepanjang sore dan saat ini sudah malam.
Nampaknya memang sepanjang malam akan turun hujan. Berarti
Remus tidak harus bertransformasi malam ini.
Tonks ceria terus. Ia bernyanyi-nyanyi saat memasak, dan
sekarang meja sudah hampir siap. Remus tidak diperbolehkan
membantu, maka ia hanya mengawasi saja kesibukan Tonks.
“Oke, semua sudah siap,” Tonks mengambil lilin dari laci
meja di sudut. Remus mematikan lampu.
Candle light dinner…
Remus memegang kedua tangan Tonks, membawanya ke dada,
“Happy Valentine,” bisiknya ke telinganya.
Tonks bersemu merah, yang tidak kelihatan karena suasana
remang-remang. Remus memberikan botol
mead untuk mereka
nikmati setelah desert.
Suasana yang nyaris tidak dapat mereka nikmati. Malam ini
bulan penuh. Seharusnya Remus melingkar di kamar bawah
tanahnya, sendiri.
Mereka menikmati hidangan. Menikmati mead. Lalu Tonks
menyetel radio, mencari gelombang lagu-lagu romantis.
Remus tersenyum mendengar Celestine Warbeck. Ia berdiri, dan
menawarkan tangan kanannya, “Will
you dance with me?”
Tersenyum Tonks menerima uluran tangan Remus, dan mereka
berdansa bersama. Hanya ada suara Celestine Warbeck. Tapi
mereka mengerti apa kata hati masing-masing.
*****
Remus tersentak. Mereka berdua tadi duduk di sofa. Di depan
perapian. Menikmati mead
tersisa. Dan Tonks bersandar ke badannya, menutup mata.
Nampaknya mereka terlelap sejenak.
Dan Remus terbangun.
Dia memang harus terbangun.
Hujan sudah berhenti.
Remus merasakan apa yang ia selalu rasakan setiap bulan.
Kuku-kuku memanjang. Bulu-bulu bermunculan dari setiap segi
kulitnya. Badannya memanas. Kerongkongannya terasa kering.
Dan bertambah kering ketika sadar ia sedang berada di mana.
Tonks!
Dia tidak boleh berada di sini. Remus seharusnya ada di
ruang bawah tanah yang kokoh, menghindarkan siapa saja yang
mungkin akan terkena bahaya.
Remus mengutuk dirinya sendiri yang mau saja menerima ajakan
makan malam di malam bulan penuh ini. Resikonya. Seharusnya
ia sadar resikonya.
Dan ia bertambah panik ketika sadar bahwa Tonks tertidur
lelap bersandar di atas dadanya. Bagaimana ini?
Perlahan agar tidak membangunkan Tonks, ia bergeser. Sulit.
Karena ia sudah mulai bertransformasi. Gerakannya menjadi
kaku. Ditambah dengan panik yang bertambah lama bertambah
besar.
Tangannya digeser. Berat. Kepala Tonks tepat berada di atas
lengannya. Dengan hati-hati, agar Tonks tidak terbangun,
akhirnya lengan itu terlepas dari sandaran kepala Tonks.
Keringat bercucuran.
Sekarang tubuhnya.
Meski sulit, akhirnya tubuhnya bisa digeserkan. Tonks
akhirnya disandarkan di sofa.
Tetapi sebagian jubahnya masih ada di bawah tubuh Tonks.
Dan dia semakin sulit untuk bergerak sebagai manusia.
Bulu-bulu di seluruh tubuhnya sudah mulai keluar. Suara yang
keluar dari kerongkongannya sudah mulai berupa geraman.
Kuku-kuku sudah tajam.
Dan dia menyadari bahwa dia sudah tidak bisa merapal mantra.
Remus menutup matanya sejenak. Menahan napas –meski udara
yang kemudian keluar dari hidungnya sudah berbunyi lain.
Dan mengambil keputusan cepat. Dengan kuku tajamnya, disobek
perlahan jubahnya. Perlahan. Perlahan. Akhirnya dia
melepaskan dirinya. Phew!
Dengan cepat dia berguling, dan berlari. Yang ditujunya
ruang bawah tanah. Dengan tangan—sekarang menjadi kaki depan—dibukanya
pintu tingkap ke arah bawah tanah. Menyelinap ke dalam ruang,
pintu itu menutup sendiri.
Remus menghela napas.
Dan melingkar dengan diam. Meski jantungnya berdegup sangat
cepat.
Memang seminggu sebelumnya dia meminum Wolfsbane, jadi
pikirannya seperti pikiran manusia. Tetapi dia tetap
serigala. Cakarnya. Giginya.
Nyaris saja.
*****
Tonks terbangun.
Di luar sudah tak hujan. Bulan purnama bersinar dengan penuh.
Dan ada cabikan jubah Remus.
FIN
~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~
Author’s Note:
1. Dipersembahkan untuk Wita Lupin dan Nina, Trinie Lupin,
rouge hamzah, pinguin_oren, Illyria Pffyffin, dan juga MSS.
2. Trinie, perhitungan kita salah ya? Ambu malah ngitung
Valentine Day itu Full Moon, hihi. Anggap aja begitu, supaya
cerita ini bisa berlangsung *maksa*
3. Remus menyobek jubahnya supaya bisa lari dari Tonks tanpa
membangunkannya, Ambu ambil dari adegan Prabu Salya yang
merobek kainnya yang ditiduri oleh istrinya Dewi Banowati,
saat ia harus berangkat perang ke Kurusetra tanpa
membangunkan istrinya (Bharatayuda) …
4. BMGP itu tidak selalu tepat, persis seperti BMG Muggle…
5. Ini bener-bener cerita ngarang, karena di Inggris bulan
Februari itu salju lagi tebel-tebelnya, mana bisa ada hujan
lebat? *maksa lagi* Memangnya di Bandung? Hihi..
Kembali |