APAKAH             FESTIVAL           OWLERY

 

Marauders Gank:
Moony’s Help
by: cicakgirl

 

Setting: Marauder's Era
Disclaimer: Semuanya milik JK Rowling


Announcement: Ini adalah lanjutan Marauders Gank: Jangan Sentuh Evans-ku! Biar lebih nyambung, baca FF itu dulu ya.. jangan lupa kasih comment, dunk.. makasi.. Smile

Remus Lupin mengamati bayangan dirinya di depan cermin di kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Ia sudah memakai jubahnya yang terbaik. Jubahnya berwarna kelabu dengan sebuah bolong kecil yang tidak terlalu terlihat di lengan kanannya. Warna kelabu jubahnya membuat wajah cekungnya yang kelihatan pucat dan tidak sehat kelihatan suram. Hari ini adalah akhir pekan Hogsmeade pertama setelah ujian OWL yang cukup membuat lelah. Dan hari ini dia punya janji dengan Lily Evans.

Tidak, Remus dan Lily pergi bersama hanya sebagai teman. Dia hanya menganggap Lily teman dan dia yakin Lily juga begitu. Sirius dan Peter juga yakin mereka hanya teman. Tapi, tidak begitu halnya dengan James. Sahabatnya itu marah kepadanya. James menganggap Remus mengkhianati James, merebut Lily, menusuknya dari belakang, dan serangkaian tuduhan lainnya.

Remus menghela napasnya. Terbayang lagi di ingatannya James mempermalukannya di depan seluruh sekolah dua hari yang lalu..

FLASHBACK:

“Ada yang mau melihat aku membuka celananya?” teriak James lantang.

Seorang anak laki-laki yang tergantung terbalik di udara dengan jubah menutupi wajahnya—menampakkan celana dalam warna biru tua dan sepasang kaki kurus pucat—meronta-ronta.

Seluruh anak menontonnya. Mereka tertawa dan berbisik-bisik seru.

“James! Hentikan! Aku serius! Bukan salahku kalau Evans mengajakku—JAMES!”

“Ayo kita buka celana biru tua prefek Remus Lupin ini sekarang..” James menyeringai.

“JAMEEEEEESSSSSSS!!!!!!!! JAANGAAAAAANNNN!!!!”

“Dengan sedikit lambaian anggun tongkat sihirku,” James berkata keras, tidak mempedulikan teriakan pilu Remus. “Whuuss! Celananya akan terangkat dan kita akan lihat apa yang ada di dalamnya..”

Kerumunan murid-murid yang menonton riuh tertawa. Beberapa cewek yang tadi ada di barisan depan mundur dengan wajah merah padam.

“James, kumohon hentikan kekonyolan ini,” Sirius berkata pelan. “Lihatlah dia,” Sirius menatap iba kepada Remus. Ia sudah berhasil menyingkirkan jubahnya dari kepalanya dan ia berusaha menutupi celana dalamnya. Wajahnya memerah dan napasnya tersengal. “Dia sahabatmu. Sahabatku. Sahabat kita. Dia tidak sepenuhnya salah, Prongs. Dia hanya menganggap Lily sebagai teman biasa.”

“Tenang Padfoot,” bisik James. “Aku hanya ingin membuatnya sedikit merasa malu.”

“Sepertinya dia sudah cukup merasa malu.” Sirius menatap muram Remus yang masih berusaha keras membuat jubahnya menutupi celana dalamnya. Anak-anak tertawa melihat tingkahnya, ada juga yang menatap iba.

“Sedikit lagi, Padfoot. Sedikit lagi dan aku akan—BERHENTI SNIVELLUS!!” James meraung dan kembali mengacungkan tongkat sihirnya. Snape telah maju dari kerumunan dan mengucapkan penangkal mantra Levicorpus terhadap Remus sehingga dia jatuh. Remus segera meraih tongkat sihirnya yang tergeletak di tanah.

“SNIVELLUS!” James meraung mengerikan. “BERANINYA KAU!!!”

“Bukannya aku bermaksud mencampuri urusanmu,” Snape berkata dingin, tongkatnya teracung siaga. “Aku hanya tidak mau punya hutang budi kepadanya.” Snape menatap Remus. “Sekarang teruskanlah. Kau menolongku sekali dan aku telah membalasnya.”

Snape berbalik. Wajah James merah padam karena marah. Ia mengacungkan tongkatnya ke punggung Snape, sangat ingin melontarkan kutukan kepada orang yang paling ia benci itu.

“Berhenti James!!” Kata Remus. Kepalanya agak pusing. “Jangan mengutuk lagi!”

“Oh, ya?” James berpaling kepada Remus. “Bagaimana kalau aku tak mau? Detensi lagi? Hah?! Jawab!!”

Namun, Remus tidak perlu menjawabnya karena Profesor McGonagall menyeruak kerumunan, menghampiri mereka. “Ada apa ini ribut-ribut?” wajah galaknya menegang melihat James. “Sudah kuduga kau lagi, Mr Potter!” serunya. Bibirnya membentuk garis yang sangat tipis. “Semuanya kembali ke kastil!!” dia berseru kepada kerumunan penonton. Mereka bubar dengan gumam-gumam kecewa.

“Nah, bisa kau jelaskan ada apa ini, Lupin?” McGonagall menatap galak mereka dari kacamata perseginya.

Remus baru akan membuka mulut untuk menjawab, namun James menyambar. “Aku hanya membuat keonaran yang biasa, Profesor.”

“Dan kau tidak menghentikannya, Lupin?” kata McGonagall galak. “Kau prefek! Meskipun mereka sahabatmu, kau harus bertindak tegas! Kau harus bisa mengendalikan mereka!! Potong sepuluh angka karena ketidak tegasanmu, Lupin. Dan kau,” ia berpaling kepada James. “Potong lima puluh angka karena hobi anehmu itu, Potter. Membuat onar terus!”

“Tapi, Profesor—”

“Tidak ada alasan, Potter. Hentikan kelakuan burukmu atau kau akan kudetensi lagi.” Profesor McGonagall kembali ke kastil.

James melempar tatapan marah kepada Remus dan ia kembali ke ruang rekreasi.

FLASHBACK END

Remus keluar dari kamar mandi, bersiap turun kebawah dan pergi ke Hogsmeade bersama Lily.

“Wah, Moony kau kelihatan tampan.” Goda Sirius.

“Keren sekali kau, dengan jubahmu itu.” Kata Peter.

“Yeah,” kata James sinis. “Dia kan ada KENCAN.” James keluar kamar sambil membanting pintu. Sirius dan Peter melempar pandang penuh simpati kepada Remus. Remus tersenyum suram. Ia melirik ke arah foto mereka berempat yang terpajang di atas meja belajar. Dalam foto itu, James merengut kearahnya, sementara Sirius dan Peter minggir jauh-jauh ke sisi pojok pigura.

 

Rumah minum Three Broomsticks yang nyaman dan hangat sangat ramai oleh murid-murid dan guru-guru Hogwarts yang singgah untuk minum. Aroma minuman-minuman yang harum menguar di udara. Madam Rosmerta, pemilik Three Broomsticks, yang cantik sedang sibuk melayani para pembeli.

“Tidak, Nak,” katanya tidak sabar kepada seorang anak kelas tiga. “Kau belum boleh membeli wiski api.”

Di sebuah meja dekat jendela, dua orang remaja duduk berhadapan. Yang satu berkulit pucat dan kelihatan kurang sehat. Yang satu lagi berambut merah tua dan bermata hijau cemerlang. Mereka mengobrol santai dengan sebotol Butterbeer dihadapan mereka masing-masing.

“Remus, kudengar si seeker sombong itu mempermalukanmu di depan seluruh sekolah,” kata Lily. “Aku tidak melihatnya—aku selalu ada di perpustakaan—tapi anak-anak perempuan sibuk membicarakan tentang itu. Apa dia benar-benar memantraimu?”

Wajah Remus merona merah. Ia berjanji suatu hari nanti, ia akan menaruh kenangan buruk tentang dipermalukan James di dalam pensieve. “Umm.. yeah..”

“Ya ampun! Teganya dia memantrai sahabatnya sendiri!” kata Lily geram. “Dia memang keterlaluan! Hanya karena kau melarangnya memantrai Snape, dia malah tidak terima, marah, dan mempermalukanmu di depan seluruh sekolah! Orang gila, dia itu! Sangat sombong! Memantrai semua orang yang membuatnya kesal! Mengutuki siapa saja untuk lelucon!”

“Sebenarnya Lily, dia mempermalukanku bukan karena aku melarangnya memantrai Snape.” Kata Remus.

Mata Lily membulat. “Eh? Jadi karena apa?”

Remus meneguk Butterbeer-nya, berusaha mencari kata yang tepat. “Erm.. sebetulnya, alasan dia mempermalukanku adalah err.. karena—yah, karena dia cemburu.”

“Cemburu?” Lily masih tidak menangkap maksud Remus.

“Dia cemburu karena kau mengajakku ke Hogsmeade,” jelas Remus. “Kau tahu, kan dia sangat menyukaimu.”

Wajah Lily merona merah, hampir semerah rambutnya. “Anak bodoh, dia itu!” ucapnya. Tangannya memutar-mutar botol Butterbeer. “Aku.. Remus, kau harus tahu aku mengajakmu hanya sebagai teman.”

“Aku paham, Lily.” Remus mengangguk. “Sayangnya, James dibutakan oleh cemburu. Aku takkan menyalahkannya,” tambah Remus, melihat Lily membuka mulut. “Dia sudah menyukaimu sejak kita kelas satu, kau tahu kan? Dan dia hampir lima tahun berusaha mendekatimu. Mengajakmu kencan, berusaha membuatmu terkesan. Tapi, kau tak pernah meresponnya. Kau selalu dingin. Jadi, aku takkan menyalahkannya kalau dia sangat cemburu.”

Lily kelihatan sekali sangat malu dan gugup. “Aku hanya tidak suka sikapnya yang sok cari perhatian begitu. Dia selalu ingin menjadi pusat perhatian semua orang. Selalu ingin kelihatan keren. Dan menggodai cewek-cewek..”

DUG!! Meja mereka bergetar.

“Apa itu?” tanya Lily heran.

“Eh? Err—kakiku.” Remus melirik ke bawah meja. “Kau bilang James menggoda cewek-cewek?”

“Yah,” jawab Lily. “Aku dengar cewek-cewek membicarakan dia. Katanya dia menggoda Narcissa Black.”

“Tidak, dia ditantang Sirius. Sirius sebal dengan sepupunya itu karena dia amat angkuh. Jadi, Sirius menantang James untuk mengganggunya. Itu saja.” Kata Remus geli. “Dan ia selalu ingin mendapat perhatian darimu. Kenapa kau tidak memberinya kesempatan? Siapa tahu kau bisa mengendalikan kelakuannya.”

Lily tampak ragu. “Jadi, menurutmu dia harus diberi kesempatan?”

“Lily, tak ada ruginya, kan menyenangkan hati James. Dia telah menunggumu lama sekali.” Kata Remus, sekarang dia tersenyum. “Siapa tahu kau bisa membuatnya lebih terkendali.

“Oh, baiklah. Aku akan memberinya kesempatan. Sekali saja—dan hanya sebagai teman, tentu saja.” Lily buru-buru menambahkan melihat seringai Remus.

“Bagus kalau begitu,” kata Remus. “Lily, aku permisi ke toilet sebentar, setelah itu kita kembali ke Hogwarts.” Remus berdiri.

“Oke, cepatlah.”

Remus berjalan memasuki toilet laki-laki di Three Broomsticks. Toilet itu kosong. “James, keluarlah.” Kata Remus. “Aku tahu kau mengikuti kami. Tadi kepalamu terbentur meja kami, kan? Lain kali jangan bersembunyi di bawah meja, ya.”

Kepala James muncul di depan Remus. Kelihatan agak mengerikan karena badannya tak terlihat, tertutup jubah gaib. Ia menggaruk-garuk kepalanya, kelihatan agak salah tingkah. “Moony, aku jadi sangat malu pada diriku sendiri. Kau bisa membalasku kalau kau mau.” Kata James malu.

“Tidak, aku tidak menyalahkanmu. Aku bisa mengerti perasaanmu, sobat. Yang penting kita berbaikan lagi.” Kata Remus bijak.

Kedua sahabat itu berpelukan. Erat. Masing-masing merasakan kelegaan di dalam hatinya

Perpustakaan Hogwarts sore itu agak sepi. Hanya ada beberapa murid yang membaca dan mengerjakan tugas mereka, diawasi mata elang Madam Pince. Seorang anak laki-laki berwajah tirus dengan rambut hitam pekat berantakan yang mencuat ke segala arah mengendap-endap diantara rak buku. Mata cokelatnya mengawasi gadis berambut merah tua yang duduk di salah satu meja, sibuk membaca.
James menarik napas panjang. Mengumpulkan keberaniannya. Ia menghampiri gadis itu dan duduk di seberangnya. Lily mengangkat wajahnya dari buku tebal yang ia baca. Dan—James sangat kaget melihatnya—tersenyum manis kepada James. Biasanya, Lily selalu memasang wajah galak jika berhadapan dengan James.

“Hai, Evans,” sapa James gugup. “Apa aku mengganggu?”

“Oh, tidak. Ada apa, Potter?” tanya Lily ramah.

“Er.. besok ada.. emm.. akhir pekan ke Hogsmeade.” Kata James. “Yah.. apa kau mau pergi denganku?”

Dalam hati James harap-harap cemas. Ratusan kali ia telah gagal. Ia agak takut ini akan gagal juga.

“Aku tidak bisa..” hati James mencelos. Harapannya langsung runtuh.

“Baiklah, tak apa.” Kata James lemah.

“Aku belum selesai, Potter.” Kata Lily agak geli. “Maksudku, aku tidak bisa menolak, kali ini.”

Senyum cerah selebar lapangan Quidditch mengembang di wajah James. “Tunggu, jangan berpikir macam-macam. Kita pergi hanya sebagai teman, Potter.” Lily buru-buru menambahkan.

“Tidak masalah!” seru James gembira, hampir naik ke atas kursi. “Akhirnya, selama lima tahun aku berusaha ada hasilnya juga. Terima kasih Evans! Aku bahagia! Ini adalah hari yang paling indah dalam hidupku! Akhirnya kau mau juga kuajak keluar!!”

Madam Pince mengeluarkan geram mengerikan. “Mr Potter, keluar sekarang juga dari perpustakaan ini kalau tidak, kupastikan hari ini akan jadi hari yang paling buruk untukmu!” seru Madam Pince marah.

James menurut. Ia bersalto keluar perpustakaan dengan senyum selebar lapangan Quidditch berstandar internasional.

FIN

Kembali

Hosted by www.Geocities.ws

1