APAKAH             FESTIVAL           OWLERY

 

Marauders Gank:
Jangan Sentuh Evans-ku!
by: cicakgirl

 

One-shoot
Setting: MArauders Era, sesaat setelah kejadian di Pensieve Snape di buku ke 5.



“Ada yang mau melihat aku membuka celananya?” teriak James lantang sambil mengacungkan tongkat sihirnya. Tangannya yang bebas mengacak rambut hitamnya, membuat tambah berantakan.

Seorang anak laki-laki yang tergantung terbalik di udara dengan jubah menutupi wajahnya—menampakkan celana dalam kumal dan sepasang kaki kurus—meronta-ronta dan meneriakkan sumpah serapah.

“Tu—turunkan aku!” teriaknya. “Ka—kau orang sombong tidak berguna!”

“Bilang lagi, coba Snivellus.” Kata James dingin.

“Turunkan aku, tukang pamer!” jerit Snape meronta. “Seharusnya kau dengar kata-kata si Ev—Evans tadi! So—mbong! Kep—ala besar!”

“Diam!” raung James. Ia menyentakkan tongkat sihirnya, membuat Snape jatuh berdebam.

Snape buru-buru membebaskan dirinya dari belitan jubahnya. Ia mencengkeram tongkat sihirnya.

“Petrificus totalus!” teriak Sirius, membuat Snape kembali kaku seperti papan. Tubuhnya berdebam jatuh.

Kerumunan murid yang menonton mereka makin ramai.

“Bersiaplah menerima ini, Snivellus..” James mengacungkan tongkatnya, bersiap meneriakkan sebuah mantera. Snape memejamkan matanya. Kerumunan pentonton terdiam, tegang. Mata Peter Pettigrew membulat bergairah. Sirius menyeringai..

“Berhenti, James atau aku terpaksa mengurangi angka dari asrama kita sendiri.” Remus berkata tenang. Ia sudah menutup bukunya dan berhenti berpura-pura membaca.

Sirius dan Peter menatap Remus tidak percaya. Murid-murid yang menonton mulai berbisik-bisik seru.

“Dengar, si Potter dilarang temannya sendiri!”
“Wah, wah.. kupikir Lupin hanya bisa jadi pengikut.”
“Berani juga Lupin mengancam Potter.”

James terperangah kaget. Ia terbelalak, tidak mempercayai telinganya sendiri. Tongkat sihirnya masih menggantung di udara. “Maaf, Moony? Kau bilang apa?” tanya James dengan suara tercekat yang menyiratkan kekagetan luar biasa.

“Hentikan, atau aku terpaksa mengurangi angka darimu.” Ujar Remus masih dengan suara tenang.

James masih terbelalak. Kerumunan penonton makin seru berbisik-bisik. Baru kali ini ada yang berani melarang seorang James Potter—kecuali Lily, tentu saja—berbuat onar. Apalagi, yang melarang ialah sahabatnya sendiri. James menurunkan tongkat sihirnya. Dia telah dipermalukan dua kali dalam sehari. Pertama, dibentak wanita. Kedua, diancam dikurangi angka oleh sahabatnya sendiri.

Snape sudah hampir sadar. Ia memanfaatkan situasi ini untuk merangkak bangun. “Tidak secepat itu, Snivellus..” ujar Sirius muram sambil mengayunkan tongkat sihirnya dan membuat Snape sekaku papan lagi.

“Kau juga, Padfoot. Berhenti mengutuknya. Hentikan kekacauan ini, sudah cukup senang-senangnya.” Kata Remus tegas.

“Oh, ya? Kalau kami tak mau berhenti bagaimana?” tantang James.

“Detensi.” Kata Remus pendek dengan nada mengakhiri percakapan.

James memandang Remus tajam. Remus balas memandangnya. “Tolong hargailah aku sebagai prefek. Aku tak bisa terus-terusan membiarkan kekacauan terjadi di depan mataku.” James melirik Sirius dan Sirius mengangguk, dengan wajah yang amat muram.

James mengerang dan ia berpaling kepada Snape yang terbujur kaku di rerumputan. “Kali ini kau beruntung. Lain kali, kubuka celana kumalmu itu!” serunya. Ia menerobos kerumunan penonton dan kembali ke ruang rekreasi. Sirius mengerling Remus, namun segera mengikuti James. Peter bangun dari duduknya dan mengikuti mereka berdua.

Remus menghela napas. “Bubar. Tontonan sudah usai.” Serunya kepada kerumunan penonton yang segera bubar sambil mengobrol seru. Remus berpaling kepada Snape yang sedang berusaha bangun. Remus mengulurkan tangannya, ingin membantu. Namun, Snape tidak mengacuhkannya. “Jangan kau pikir aku akan berlutut berterima kasih padamu. Kau sama buruknya dengan teman-temanmu itu.” Ia berdiri, mengemasi tasnya, dan berjalan menuju ke kastil.

***

“Veritaserum!” James berteriak kepada si Nyonya Gemuk.

Nyonya Gemuk yang sedang mengamati bunga mawar pink mendongak menatap James dengan pandangan mencela. “Tidak perlu menjerit-jerit begitu, Nak. Aku tidak tuli.” Katanya. “Nah, kau bilang apa tadi?”

“Katanya kau tidak tuli!” seru James berang. “Nyatanya, kau tidak dengar apa yang kuteriakkan tadi. Aku bilang VERITASERUM, kata sandinya. Aku mau masuk! VERITASERUM!!!”

Nyonya Gemuk nampak sangat terluka. “Maaf.. aku sedang kacau..” kata James menyesal. Dengan cemberut, Nyonya Gemuk mengayun terbuka dan James segera memanjat masuk ke dalam ruang rekreasi Gryffindor yang ramai. James menghempaskan tubuhnya diatas sebuah kursi berlengan di dekat jendela. Pikirannya kacau. Meskipun ia berusaha kelihatan tidak peduli, perkataan Lily membuat dirinya galau. Sejelek itukah pandangan Lily terhadapku? batin James. Belum lagi, Remus tiba-tiba mengancam dirinya.

Lubang lukisan terbuka. Sirius dan Peter melangkah masuk dan mereka menghampiri James. Mereka berusaha menghibur James.

“Kawan, aku ingin sendirian.” Kata James pendek.

Sirius dan Peter berpandangan. Mereka lalu naik ke kamar anak laki-laki tanpa banyak bicara, mengerti kemauan sahabatnya.

Lubang lukisan kembali terbuka. Kali ini, Remus yang melangkah masuk. Remus lalu duduk di kursi di sebelah James.

“Prongs, sobatku maafkan aku.” Ucap Remus lirih. “Aku sama sekali tidak bermaksud mempermalukanmu dan Sirius.”

James menghela napasnya. “Kukira kau senang mempunyai teman seperti kami.”

Remus terperanjat. “Tentu! Tentu saja aku sangat senang, aku bersyukur malah.”

“Kupikir kau bersenang-senang bersama kami setiap kami melaksanakan hobi kami—kau tahu—berbuat keonaran dan melanggar peraturan sekolah yang suci.”

Remus menatap sahabatnya itu. “Prongs, kuakui bahwa aku sangat menikmati keonaran dan kegiatan melawan peraturan sekolah yang kalian lakukan, meskipun aku sangat jarang ambil bagian,” kata Remus. “Percayalah, aku sangat menikmati menjahili Snivellus. Tapi, aku ini prefek. Sangat janggal jika ada keonaran di depan mataku—seorang prefek—dan aku diam saja. Aku terpaksa melarang kalian jika kalian agak keterlaluan. Membuka celana Snivellus..” Remus tergelak. “.. adalah ide brilian. Namun, sepertinya aku harus melihatnya secara sembunyi-sembunyi. Tidak bisa terang-terangan. Kau tahu, yang seperti itu haram bagi prefek.” Kata Remus jenaka.

James menatap Remus dan terbahak. “Oke Moony, prefek suci kami.” James menyeringai. Mereka berdua tertawa bersama.

Seorang gadis berambut merah tua dan bermata hijau cemerlang menghampiri mereka dan berkata, “Lupin, aku dengar kau menghentikan keonaran tadi.” James dan Remus menengok siapa yang bicara. Lily Evans.

“Eh—yeah..” jawab Remus sambil melirik James.

“Kau keren!” kata Lily pada Remus, sambil melirik sinis kepada James.

“Tidak—eh, maksudku yah, itu sudah tugasku sebagai prefek.” Remus menjawab takut-takut.

“Bagus!” Lily tersenyum cerah. “Kupikir, kau sama saja dengan teman-temanmu,” ujar Lily ketus. “Tukang cari perhatian dan sombong,” Lily mengerling James yang terperangah.

“Aku—“

“Ternyata, kau berbeda dari mereka,” Lily meneruskan sambil tersenyum manis. “Aku salut. Nah, bagaimana kalau kita pergi bersama ke Hogsmeade akhir pekan besok?”

Remus terbelalak kaget, terlebih lagi James. Ia terkejut, marah, kecewa, cemburu..

“Evans, kau tidak bisa begitu!” sanggah James.

“Ya, aku bisa.” Tukas Lily.

“Kau tidak pernah mau kuajak kencan,” kata James panik. “Sekarang, kau malah mengajak sahabatku!”

“Memangnya kenapa?” ujar Lily dingin pada James dan berpaling kepada Remus. “Bagaimana, Lupin? Kau mau, kan?”

Remus bimbang. Di satu sisi, dia tidak mau menyakiti James. Di sisi lainnya, dia tidak mau menolak Lily dan membuat Lily malu. Dia harus memilih!

“Eh.. yeah..” jawabnya pelan. Remus melirik James dengan pandangan meminta maaf.

“Bagus! Besok kutunggu kau di gerbang.” Lily berkata ceria dan naik ke kamar anak perempuan.

“Apa saja boleh, Moony. Apa saja. Asal jangan Evans!” raung James kesal.

“Aku—aku tidak ada perasaan kepadanya!” Remus berusaha menjelaskan. “Aku hanya tidak tega menolak seorang wanita..”

“Jangan sentuh Evans-ku!” raung James. “Kau akan menyesal, Remus Lupin!” James menghambur naik ke kamar anak laki-laki.

***

“Ada yang mau melihat aku membuka celananya?” teriak James lantang.

Seorang anak laki-laki yang tergantung terbalik di udara dengan jubah menutupi wajahnya—menampakkan celana dalam warna biru tua dan sepasang kaki kurus pucat—meronta-ronta.

Seluruh anak menontonnya. Mereka tertawa dan berbisik-bisik seru.

“James! Hentikan! Aku serius! Bukan salahku kalau Evans mengajakku—JAMES!”

“Ayo kita buka celana biru tua prefek Remus Lupin ini sekarang..” James menyeringai.

“JAMEEEEEESSSSSSS!!!!!!!! JAANGAAAAAANNNN!!!!”

FIN

 

Kembali

Hosted by www.Geocities.ws

1