|
Surat Untuk
Petunia
Hujan terus saja menghantam keras Privet Drive terlebih
rumah nomor empat yang masih terang malam itu. Dari sisi
jendela atas lampu yang menyala dan meredup tertutupi lampu
yang dipasang pria gemuk tepat dibawah terali besi tua.
Meski Vernon sudah berulang kali memperingatkan penghuni
kamar itu, tetap saja ia mendapati komentar-komentar tak
mengenakkan dari tetangga mulaidari letusan-letusan kecil
hingga bulu-bulu putih burung hantu yang sedikit terbakar.
Tentu saja bagi muggle semua itu hanya merupakan hal biasa.
Terlepas dari itu Harry Potter tahu apa yang tengah terjadi
dalam bangsa penyihir saat itu. Meski burung hantu sudah
jarang ia lihat membawa surat, ia tetap menjaga jendela
kamar tetep terbuka. Walau malu ia tetap berharap setidaknya
Ron dan Hermione mengirimkan surat balasan.
Hedwig terkapar lemah dalam bulu-bulunya yang putih di bawah
cahaya rembulan. Terus teranag Harry hanya sekali-kali
melihatnya. Buku mantra tingkat 5 di tangannya sendiri sudah
tinggal dalam pegangan yang lemah. Ia juga hanya sedikit
sadar ketika suara letusan keras terdengar dari kejauhan.
Matanya hanya melihat cahaya hijau pudar dari jendela kaca
sebelum matanya benar-benar menutup dan tongkatnya terlepas.
***
Apa yang terjadi semalam tentu saja Harry juga tidak begitu
mengerti. Ia juga tidak menyadari bagaimana ia lebih memilih
tidur daripada mencari masalah yang terjadi yang siapa tahu
berkaitan dengan Voldemort.
Suara Dursley yang menjerit lebih dahulu ia dengar sebelum
diikuti paman Vernon dan Bibi Petunia.
Harry tahu koran muggle jauh lebih menarik dibanding
Daily Prophet bagi
mereka. "er, apa yang terjadi?"Harry memulai
"Kau tidak perlu tahu, anak gila" Bibi Petunia menjawab
lebih cepat dari Paman Vernon."Lebih baik kau urus bangsa
giamu itu. Atau kau urus burung hantumu yang konyol itu."
Harry tidak terkejut akan jawaban itu. Dan Harry tidak perlu
menanyai siapapun apa yang terjadi sebab mobil-mobil polisi
sudah berlalu lalang di jalan. Dan Bibi Petunia tentu saja
sudah hadir dalam rapat masal ibu rumah tangga di ujung
jalan.
Seorang polisi melintas dengan kecepatan tinggi membelok ke
tikungan. Sementara Dudley justru memanfaatkan keramaian
untuk mencari es krim sisa. Seandainya paman Vernon tahu itu
semua..
Harry kembali berjalan pelan mengikuti arus keramaian ke
tikungan Privet Drive. Beberapa orang mengeluarkan kata-kata
kasar saat kembali berjalan pulang.
"Sir,apa yang telah terjadi?"tanya Harry pada laki-laki yang
berjalan cepat di sisi kanan. Mukanya tetap berpasang
ekspresi menakutkan. Ia justru berjalan tanpa mendengar
Harry bertanya padanya.
Sekelompok petugas memasukkan kantong-kantong berisi
bungkusan putih ke dalam ambulans di sisi toko es krim.
Semua mayat di bawa keluar dari toko antik Priderqwe.
Bangunannya juga hancur menyisakan puing-puing putih seperti
habis kebakaran, namun lebih parah.
Harry menyelinap diantara kerumunan dan mendapati puluhan
mayat telah diam dengan ekspresi mata dan mulut terbuka
dalam kebekuan.
"Tidak..tidak..ia datang.."seorang wanita tua berbisik pelan
"tidak mungkin"
Harry mencari sumber suara dalam kesibukan itu.
"Aku harus ikuti dia..akan
kuberitahu..terpaksa..semuanya.."kali ini terdengar
keras."Kalau dia sudah menunjukkan..aku tak berdaya lagi...aku
akan hidup...dia sudah mengirim Dementor datang ke
sini.."kali ini dia seperti menangis.
Harry terus mencari wanita itu. Dalam kerumunan, sebuah
cahaya hijau diikuti suara "Avadra Kedavra" mendekat ke
arahnya. Sosok hitam langsung menghilang seketika. Harry
menolak ke belakang dan terjatuh keras ke aspal hitam. Entah
mengapa ia yakin sosok Bibi Petunia menangis, menghapus air
mata, dengan isakan tertahan...dan ia mengenggam sesuatu
yang kelihatan berharga.
Sedetik kemudian darah merah mulai mengalir di kepala
belakangnya dan kembali histeris di Privet Drive terjadi
Harry begitu canggung saat itu. Setiap mata memusatkan
perhatiannya saat itu padanya. Darahnya mulai berhenti
mengalir beberapa saat kemudian. Jauh lebih sakit daripada
ulah Lockhart yang membuat tulangnya hilang.
Apa yang terjadi saat itu bukan hal yang aneh bagi Harry.
Daily Prophet sudah sering memuat berita demikian yang
terjadi dimana-mana. Namun ia tetap harus berpikir lebih
mengingat ia bukan penyihir biasa.
Dan apa yang terjadi pada bibi Petunia juga di luar
kewajaran baginya. Menangisi orang yang kecelakaan merupakan
hal terindah yang dilihat Harry di samping memberinya
pakaian bekas Dudley.
Harry memasuki rumah sebelum beberapa mobil lewat dengan
kencangnya.
Malam di Privet Drive pun seperti biasa. Harry menghabiskan
kebosanannya dengan membaca berulang kali buku pertahanan
terhadap ilmu hitamnya. Ia yakin ia akan berhadapan dengan
Voldemort secepatnya. Tapi ia pun harus menemukan beberapa
Horcrux lagi untuk melawan Voldemort.
Ia mulai menganggap Ron dan Hermione telah meninggalkannya
sekarang. Harry membayangkan Hermione kembali ke dunia
Muggle dan sekolah seperti biasa. Sementara Ron sedikit
tidak beruntung berdiam di The Burrow sambil memberi makan
ayam-ayam. Tapi dirinyalah yang paling sial berhadapan
dengan kematian.
Hedwig mulai memecahkan pikiran Harry. Burung itu terlihat
terbang dari kejauhan mendekat. Mungkin ia membawa surat
dari Hagrid
Harry berbalik bersiap membuka jendela ketika seekor burung
hantu batuk pelan.
"Hedwig..kau.."
Harry mengamati burung hantu di luar terbang semakin
merendah, berbelok ke arah kanan rumah. Kakinya menggengam
kencang sebuah surat.
Bibi petunia dan paman Vernon berhubungan dengan penyihir?
pikir Harry. Hal itu semakin membuatnya penasaran.
Harry mengambil jubah gaib dari lemari di sebelah meja. Dan
ia tak percaya masih ada telinga terjulur di sana. Ia
bergegas menuruni anak tangga dengan sedikit mungkin membuat
bunyi.
Tidak ada suara. Sama sekali tidak ada. Burung hantu tadi
terbang sudah semakin jauh terlihat dari kaca jendela.
Harry bergegas pergi dengan kecewa. Tiba-tiba suara
laki-laki yang ia tahu terdengar agak kuat.
"Petunia,surat apa itu?"
Terdengar sedikit perkelahian kecil dan Harry tahu Paman
Vernon berhasil menjadi pemenang.
"Siapa ini?"Vernon agak membentak. Bibi Petunia hanya diam
saja.
"Siapa Snape dan Bellatrix? Apa maksud mereka menulis ini"
Paman Vernon membuat Harry tak percaya.
"sst!!" Bibi Petunia cuma terdengar berkata itu sebelum
Harry bergegas ke atas menjauhi pemeriksaan Petunia.
Kembali
Next |