Chapter 1: The Boy
-------------------------
Saat itu tengah malam. Seorang pemuda yang kelihatan seperti
squire* tergopoh-gopoh
menghampiri kandang kuda yang besar di sebelah sebuah mansion
yang megah. Dengan tergesa ia memasang sebuah pelana ke seekor
kuda yang ada di kandang itu. Secepat ia mulai, iapun menuntun
kuda itu ke halaman.
“Plowterr! Mana kudaku?! Aku sudah menunggu lima putaran jam
pasir, kemana saja kau!” seru sebuah suara dari depan pintu
utama kastil itu. Tampaknya seorang ksatria dalam balutan
chain mail dan
“A- aku datang, paman...” jawab sang pemuda itu sedikit
gemetar. Belum tiga langkah didepan sang ksatria, gagang
pedang bersarang ke ulu hatinya dan membuatnya jatuh terduduk.
“Berapa kali aku katakan, untuk mengalas sadel, jangan memakai
karung! Aku tak ingin punggung Impressia terluka oleh karung
yang kasar! Kau ini bodoh atau bagaimana, sih!” omel sang
ksatria sambil mengelap gagang pedangnya yang mengkilat, “Dan
jangan panggil aku paman lagi!”
“Ba- baik... Sir Hurstley...” balas sang pemuda, lemah menahan
sakit, bara api menyala di matanya.
“Sekarang kau tidurlah! Aku butuh kau besok pagi untuk
mengawal Hudley ke sekolahnya besok!” seru sang ksatria,
bersiap menunggangi kudanya menuju kota terdekat.
Esoknya...
Hari itu merupakan hari yang telah lama ditunggu oleh Hudley.
Ia mengendarai Lancia, kuda kebanggannya, menuju ke alun-alun
sekolah prestisius Oxwold. Sepanjang perjalanan, mata para
pejalan kaki selalu menyempatkan memandang putra Sir Valworn
Hurstley itu, bersama kudanya yang menawan.
“Heiry, kau mungkin tak harus menuntun Lancia sedemikian
cepat. Biarkan para penduduk ini menikmati keberadaanku,
Hudley Hurstley ini,” anjur Hurstley dari atas kuda kepada
pemuda bernama Plowter yang sedang menuntun kudanya menyusuri
jalan-jalan kota yang cukup ramai dan agak sempit itu.
“Baik, Sire...” jawab
Heiry sambil memperlambat jalannya.
Cih, nikmatilah kekaguman
akan kekayaanmu itu selagi bisa, Hudley keparat,
pikirnya diam-diam.
Tiba-tiba, seorang tua berjubah tersungkur (walau lebih mirip
melemparkan diri) tiba-tiba ke tengah jalan yang sedang
dilewati Lancia, membuat Lancia panik dan melonjak. Heiry
langsung sibuk menenangkannya.
“Hei, orang tua kotor! Apa maksudmu membuat kudaku kaget? Kau
ingin membunuhku ya?” teriak Hudley marah sambil turun dari
kudanya. Sang orang tua berkacamata bulan-separuh itu hanya
tersenyum penuh arti.
“Phantasma,” ucapnya pendek.
Dengan segera mata Hudley dipenuhi cahaya warna-warni yang
cukup menyilaukan. Ia langsung berteriak dan jatuh
terguling-guling.
“Tu-tuan... apa yang anda perbuat terhadap tuan Hudley...?
Ia... ia...” tanya Heiry sambil berusaha menenangkan Hudley
yang berguling-guling sambil menjerit-jerit kesakitan.
“Hanya mengajari seorang bangsawan muda kerendah-hatian, anak
muda... atau mungkin lebih tepat kupanggil Heironymus Plowter,
Dia yang Hidup?” jawab sang orang tua sambil tersenyum.
“Tuan... tahu dari mana namaku...? Jangan-jangan kau
penyihir...!” seru Heiry sambil berusaha mencabut pedang
pendek yang bertengger di pinggangnya.
“Ohohoho... kau cukup terkenal di kalangan kami, Heironymus,
atau mungkin lebih baik kupanggil Heiry? Oh, dan jangan
mencabut senjatamu sembarangan,” jawab sang orang tua itu
sambil merentangkan tangan ke arah pedang Heiry. Ajaib, pedang
Heiry tak mau tercabut dari sarungnya, seolah mengerti
perintah sang penyihir.
“Kau...?” geram Heiry bingung.
“Yah, suatu keberuntungan aku menemuimu di sini. Setelah kita
mengantar Tuan Hudley ke sekolahnya, dimana kita akan yakin
bahwa ia aman dari jangkauan penyihir sepertiku, maukah kau
membawaku menemui pamanmu?”
-----------------------------
*: Squire = semacam pembantu. para calon knight abad
pertengahan dahulu biasanya terlebih dahulu bekerja sebagai
squire knight lain yang lebih senior.
Kembali
Next |