APAKAH             FESTIVAL           OWLERY

 

Curious

by: Parker Halliwell

Tipe: One shot
Rating: PG
Genre: Drama, Angst
Karakter: Gilderoy Lockhart
Bahasa: Indonesia
Disclaimer: I don't own Gilderoy Lockhart or Kenneth Branagh!



Hari ini aku berulang tahun.

Tetapi siapakah aku?

Orang-orang bilang hari ini ulang tahunku yang keempatpuluhenam. Rambut pirangku semakin terang dan gigi putihku tetap bersinar. Mereka mengirimiku belasan kue, puluhan kado dan ratusan surat. Semuanya mengelu-elukan namaku.

Tetapi aku tetap saja tidak tahu siapakah diriku.

Kalian tahu siapa aku?

Beritahu aku, tolong. Aku mengalami kesulitan dalam membalas surat-surat ini. Mereka mengelukan nama yang tak pernah kusebut, buku yang tak pernah kubaca dan negara yang tak pernah kutinggali. Bagaimana cara aku menjawabnya?

“Gildy, waktunya minum obat.”

Sebuah suara tiba-tiba mengejutkanku. Aku berbalik dan melihat seorang wanita gemuk mendekatiku sambil membawa sebuah nampan berisikan botol-botol ramuan. Aku kurang suka ramuan di botol biru-dengan-bercak-bercak-oranye. Wanginya mengingatkanku pada sesuatu yang tidak enak—hanya saja aku tidak ingat apa itu.

“Sedang membaca surat-surat penggemar rupanya?”

“Martha—er, Martha kan—jam berapa sekarang?”

“Jam sembilan pagi, waktunya minum obat, Gildy.” Ia memberikanku beberapa botol ramuan untuk kuminum—termasuk botol biru-dengan-bercak-bercak-oranye itu. “Bagus. Habiskan semua dalam sekali teguk.” Ia mengambil kembali botol-botol itu dan menaruhnya lagi di atas nampan. “Sekarang waktunya kau tidur. Sudah cukup membaca surat-surat ini.” Ia menjentikkan jemarinya dan seketika semua surat dan bungkusan kadoku tersusun rapi di meja di sampingku.

Atau setidaknya itu yang kurasa aku lihat.

Rasanya penglihatanku jadi buram sekali setelah meminum ramuan itu—terutama setelah ramuan di botol-biru-dengan-bercak-bercak-oranye.

Ngantuk sekali..

Rasanya aku ingin tidur sebentar..


***


Sejak dulu aku penasaran.

Apa yang ada di luar gedung ini. Martha tidak membiarkanku keluar dan berjalan-jalan. Menurutnya akan lebih baik bagiku untuk tetap di dalam kamarku.

“Tidak ada apa-apa di luar gedung ini, Gildy. Akan tiba saatnya kau dapat keluar dari sini dan berjalan-jalan. Tetapi bukan sekarang.” Dan semenjak itu dosis ramuan yang diberikannya padaku tiba-tiba bertambah dan aku menjadi lebih sering mengantuk.

Entahlah.

Penny Clearwater menulis padaku tentang sekolahnya, tentang liburannya di suatu tempat bernama Perancis dan juga bagaimana dia merindukanku dan buku-bukuku. (Tentu saja aku tidak mengerti sama sekali apa yang dia bicarakan). Ia sangat sedih karena aku tidak bisa merayakan ulang tahunku di tempat yang semestinya.

Tempat yang semestinya?

Di mana?

Sepertinya di luar sana ada sesuatu yang menarik.


***


“Gildy, bangun. Waktunya minum obat.”

Aku membuka mataku dengan malas. “Sudah lagi? Rasanya baru tadi aku minum obat.”

“Waktu berlalu dengan cepat ketika kau tidur.” Ia mengambil beberapa botol ramuan dari nampannya dan memberikannya padaku.

Aku mengernyit ketika bau ramuan di botol-biru-dengan-bercak-bercak-oranya itu sampai di hidungku. “Aku selalu penasaran. Apa yang ada di dalam botol ini. Baunya sangat mengerikan.”

Martha tertawa kecil. “Minum saja. Itu baik untukmu, Gildy. Kau sudah bukan anak kecil lagi kan?”

Aku menenggaknya dengan sekali tegukan.

“Bagus.” Ia mengambil kembali botol-botol itu. “Sekarang tidurlah.”

Aku bersandar pada kasurku dan memejamkan mataku ketika Martha berjalan keluar dari ruangan. Dan ketika aku yakin pintu itu sudah tertutup kembali, aku meloncat dari atas tempat tidurku dan memuntahkan ramuan yang baru kutenggak tadi.

Dan seketika rasa kantukku menghilang.

Sekarang aku pasti bisa pergi keluar dari sini dan merayakan ulang tahunku dalam kebebasan.


***


Entah bagaimana aku keluar di depan sebuah bangunan kuno dan kotor bernama Purge dan Dowse. Orang-orang di luar sepertinya tidak menyadari sama sekali keberadaan bangunan ini atau kemunculanku di sana, karena mereka terus saja berjalan tanpa mengindahkan kami.

“Permisi.” Aku mendekati seorang pria. Ia berjalan mengacuhkanku begitu saja. “Maaf.” Aku mendekati seorang wanita dalam mantel. Ia nampak mempercepat langkahnya. Berulang kali aku mencoba menyapa seseorang tetapi nampaknya mereka menjauhiku.

Ya sudahlah. Aku akan berjalan-jalan sendirian saja.

Aku mulai berjalan menjauh dari gedung tak terawat tempatku keluar tadi dan melihat-lihat dunia sekelilingku. Aku melihat ratusan orang beraneka ragam bergerak di sisiku. Ada yang bundar. Ada yang kurus. Ada yang berwarna-warni. Ada yang bercorak-corak. Dunia yang sungguh tidak pernah kubayangkan.

BRAK!

Seseorang tiba-tiba menabrakku. Barang-barangnya berjatuhan ke tanah. Buru-buru aku membungkuk dan membantunya mengambilkan barang-barang itu. Tetapi ia justru berteriak kepadaku dan mendorongku. “Enyah kau. Mengganggu saja.” Dan ia pun berlalu dariku dengan kecepatan super.

Ada apa ini? Kenapa ia begitu dingin? Padahal aku kan hanya ingin membantu.

Aku melanjutkan perjalananku dalam kebingungan. Beberapa menit kemudian, sekumpulan anak remaja tiba-tiba tertawa terkikik-kikik sambil menunjuk-nunjuk ke arahku. “Lihat, pria aneh itu. Ia pasti tidak waras karena memakai gaun tidur keluar.”

Gaun tidur? Maksudnya jubah St Mungo-ku?

Apa yang salah dengan ini? Semua orang di sana—selain para Healer dan perawat—memakai ini.

Aku merona malu dan buru-buru berlari menjauh. Aku menyeberangi jalanan berwarna abu-abu, tanpa kusadari sesuatu melesat ke arahku dengan kecepatan tinggi.

Aku menutup mata.

CKIIIIIIIIIT.

Sebuah bunyi mengerikan tiba-tiba terdengar. Aku melihat ke depanku. Benda aneh itu hampir saja menabrakku. Entahlah. Aku tak pernah melihat benda seperti itu sebelumnya. Ia memiliki kaca, roda dan lampu di sisinya. Di dalamnya ada seorang pria yang memaki-maki ke arahku.

Orang-orang mulai berkerumun. Orang-orang banyak mulai melihat ke arahku dan menunjuk-nunjuk ke arahku. Seakan aku sesuatu yang aneh. Apa yang aneh dariku?

“Maaf, tuan, apa tuan mempunyai tanda pengenal?” Seorang pria berpakaian hitam-hitam tiba-tiba mendekatiku. Bola matanya menatapku dengan tatapan dingin.

“Tanda pengenal?” tanyaku.

“Maaf, tuan, siapa nama anda?”

“Nama? Aku.. tidak tahu,” jawabku jujur.

Suara-suara di sekelilingku semakin tidak jelas dan penuh dengan gumaman tiap orang.

Aku mulai merasa tidak nyaman dengan ini semua. Ini bukan perayaan ulang tahun yang aku inginkan.

“Maaf tuan, anda harus ikut saya ke kantor polisi.” Ia menarik lenganku. Aku melepas genggamannya dengan paksa.

“Aku tidak mau.”

“Kalau begitu kami terpaksa membawa anda ke sana.” Ia mengambil sesuatu dari dalam sakunya.

Aku tidak mau.

Aku berlari dari sana.

Orang-orang berteriak ketika aku mendekati mereka. Beberapa menjerit ketakutan. Jeritan histeris seolah aku akan menerkam mereka atau entah kenapa.

“JANGAN LARI!”

“MINGGIR!”

“ADA ORANG BERBAHAYA YANG MELARIKAN DIRI!”

“SEMUANYA AWAS!”

“DIA MENDEKATIKU!”

“MINGGIR!”

Sebuah suara keras tiba-tiba menghentakku. Benda aneh berkaca, beroda dan berlampu itu tiba-tiba melesat menujuku lagi. Kali ini ia mengeluarkan suara keras yang memekakkan telingaku. Benda itu mencoba memperlambat kecepatannya, tetapi terlambat. Aku sudah terlalu dekat.

Orang-orang berteriak dan menarik napas.

Aku mengangkat tanganku secara refleks—mencoba melindungi diriku dari terjangan benda misterius tersebut.

Dan seketika aku mendengar suara dentuman. Benda misterius itu terlempar begitu saja dariku dan jatuh terbalik. Pecahan kacanya bertebaran di tanah. Rodanya terlepas dari tempatnya dan menggelinding sebelum jatuh lagi.

Hening sejenak. Hanya ada bunyi “NGUING, NGUING” yang keras dari benda tersebut.

Dan kemudian orang-orang semakin berteriak.

“IA TERORIS!”

“IA MEMBAWA BOM DI BADANNYA!”

“IA MELEMPAR BOM KE MOBIL ITU!”

“SEMUANYA SELAMATKAN DIRI KALIAN!”

“IA AKAN MELEMPAR BOM ITU LAGI!”

Dan kemudian aku mendengar suara letusan.

Dan kakiku terasa sakit sekali.

Suara letusan itu terdengar lagi.

Dan itu suara terakhir yang kudengar sebelum aku jatuh.

Sekarang aku mengerti kenapa Martha tidak mengijinkanku keluar. Selamat ulang tahun, entah-siapa-dirimu.


Jakarta, 10 Maret 2006
..sedang tidak ada kerjaan

Komentar ya. Karya come back ke HPI nih. Semoga tidak terlalu mengecewakan. Embarassed Judulnya masih sementara. Tolong berikan pendapat.

Kembali

Hosted by www.Geocities.ws

1