APAKAH             FESTIVAL           OWLERY

 

Bekas Luka, Penjelasan dan Jembatan

by: cassanova

 

Teori orisinil gw... Gw sebenarnya pgn bikin keseluruhan cerita.. Tapi malesss.. kekekekekek.. Oia.. Gw ngembangin tentang 'bekas luka'.. dan mungkin agak ngaco.. Plus, tambahan ending yang sedikit jayuss.. heheheheheh.. >_<

Komentar sangat dihargai!!!! Tengkyu....

----------------------------------------------
Rating : PG-13
Genre : General
Bahasa : Indonesia




"Ha ha ha ha!!!! Betapa aku sangat menikmati ini.." Voldemort tertawa bengis di depan Harry. Dengus nafas laki-laki paling jahat sedunia itu terasa panas di wajah Harry..

'Tuk..' Ujung tongkat Voldemort menyentuh kening Harry. Bekas lukanya sontak menyala seakan terbakar..

Harry berteriak kesakitan. Rasa panas dan pedih merasuki wajahnya.. Otot dan syarafnya berkedut mengeras. Pucat pasi, dia merasa seakan sebuah tangan gaib mencerabut paksa aliran darah dari wajahnya. Air mata Harry mengalir tanpa terbendung..

"Setelah sekian tahun.." desah Voldemort, "... akhirnya.. Avada Kedav--"



----------------


"TI-DAAAAAAAK!!!!!!!!!"

Harry tergeragap bangun!!! Segalanya putih, pandangannya kabur. Ratusan sosok mengelilinginya.. Suara ribut entah dari mana terdengar bersahutan. Nama Harry disebut-sebut dari kejauhan.

"Tidak apa-apa Harry.. Tidak apa-apa.." suara lembut yang dikenalnya mendekat. "Semuanya sudah berakhir.."

"Her-mi-one.. Ka-ca.. ma-ta.." kata Harry parau.

"Ron!!! Kacamata!!!"

Ron menyambar kacamata dari sakunya, dan langsung memakaikannya kepada sahabatnya. Harry memfokuskan pandangannya.. Suara-suara ribut makin menjadi-jadi.. Sepertinya dari luar ruangan..

"Dia sudah bangun?!"
"Bangun!! Harry Potter telah bangun!!!"
"Harry!!!"
"Harap tenang.."
"Harry!!!!!!"
"Potter Potter!!!"
"Tolong semua tenang!"
"Harry Potter!!!"
"Mr. Potter telah sadar!!!!"
"Luar biasa!!"
"Mr Potter.."
"HARAP TENANG!!!!!"

Harry sudah mulai bisa melihat jelas. Hermione dan Ron tersenyum hangat. Selain mereka berdua, Harry melihat wajah-wajah yang dikenalnya..

Saat Harry bergerak, Mr Weasley melemparkan Daily Prophet dan istrinya meletakkan cangkir di meja; Rufus Scrimgeour langsung menghentikan obrolannya dengan Remus Lupin; Alastor Moody tertatih berdiri; Nymphadora Tonks yang sedang memelintir ujung rambut-hijaunya menoleh dengan semangat..

Beberapa orang yang Harry pernah lihat di Kementrian berdiri menjaga di pintu..

"Harry.. Syukurlah.." kata Mrs Weasley penuh kasih sayang. Mereka mendekat ke arah ranjang..

"Di ma-na i-ni?" suara Harry masih sangat parau.. Heran kenapa dia tidak bisa berbicara dengan lancar, secara refleks, Harry memegang lehernya. Ada semacam daun berserat halus yang melekat..

"Leher kamu dioperasi.." kata Ron, di sebelahnya, "..dan ini St. Mungo."

"Dasar penyihir.." kata Hermione dengan aneh, memandang ke arah jendela berbentuk tulang paru-paru, "meski sudah dilarang, mereka tetap saja berdatangan hanya untuk menemuimu.."

"Sudah baikan, Harry?" Lupin memandangnya hangat..

"Er, lumayan, Sir.."

Harry masih belum percaya dia masih hidup setelah melewati malam paling mengerikan di abad ini... Dia memandang tubuhnya.. Ramuan obat-obatan memenuhi sekujur badannya.. Beberapa perban yang sepertinya selalu melilit sendiri terdapat di lengan, paha dan perutnya..

Yang paling dia rasakan aneh adalah bagian atas kepalanya.. Ada perban warna hijau lumut yang berkedut-kedut hidup dan mengeluarkan aroma aneh seperti campuran jahe dan teh..

Dia berusaha memegang bekas lukanya..

"Jangan disentuh dulu, Harry.." Mr Scrimgeour yang selalu terlihat seperti singa di emblem Gryffindor berkata dengan suara tegas.. Dg susah payah dia berusaha lebih lembut, "tanaman khusus dari rawa Skotlandia.."

"Sulur Bluskertaingsten" kata Hermione, "parasit pemakan ampas sihir di kulit.."

"Ya.. Sulur-Buster-entah-apa-itu.." tanya Ron sarkastik, "Oh.. Kenapa kamu nggak tahu tentang hal itu Harry?!"

Hermione langsung memandang pemuda berambut merah itu. Harry tersenyum. Di dunia ini.. ada hal yang tidak berubah..

Seorang perawat memberi Harry makan siang yang cukup lezat. Harry makan dengan pelan..

Tiba-tiba Tujuh belas perawat masuk dengan susah payah, dan masing-masing membawa troli penuh dengan bungkusan kado setinggi langit-langit. Di belakangnya.. para penyihir saling berebut untuk bisa masuk ke dalam ruangan. Petugas Kementrian kerepotan menahan mereka..

"Siapa mengijinkan kalian masuk!?!" bentak Mr Weasley.

Ron membelalak melihat timbunan hadiah-hadiah itu.

"Hfffaahh..." kata salah seorang pembawa-hadiah menahan nafas, "untuk Lord Harry Potter.. Dari Asosiasi Quidditch Cina.."

"KELUAR!! KELUAR!!"

"Untuk Lord Harry Potter.." kata salah seorang lagi, ".. dari sekolah Drumstrang.."

"AKU BILANG KELUAR!!!"

"Lord 'Arry Potter.. Dari Komunitas Pedagang Diagon Alley..."

"KELUA-"

"Maaf, Sir.. Tapi dari ruangan resepsionis sampai Ruang Minum Teh St. Mungo telah penuh dengan bingkisan-bingkisan yang datang dari penjuru dunia... Tapi.. Banyak perawat dan pasien senang karena beberapa bingkisan tidak sengaja terbuka... dan mereka mendapatkan isinya.."

Harry ternganga..

"Tonks.. Ikut aku.." kata Menteri Sihir.., "Kita bereskan masalah hadiah untuk Potter ini, sebelum semua hadiah meledakkan rumah sakit.."

"Siap, Sir!!"

Sepuluh detik setelah Tonks mengucapkan, 'Sir!', pintu ruangan terbuka lembut dan sosok yang datang membuat semua orang di dalam ruangan melonjak..

Ditemani Prof McGonagall dan Hagrid, Albus Dumbledore berjalan riang ke arah Harry.

"Profesor.." Hermione dan Ron terburu-buru berdiri.. Mereka tentu saja merasa ganjil melihat pria berjenggot putih itu berdiri dengan sehat, sementara di tahun yang lalu mereka menghadiri pemakamannya..

Albus Dumbledore tersenyum. Sangat cerah..

"Harry.." katanya lembut, kemudian menjentikkan jarinya di depan Sulur Bluskertaingsten. Tanaman obat itu tiba-tiba meloncat dan terbakar --yang membuat semua orang (kecuali Hermione) kaget.

"Bagaimana keadaanmu?!" tanya Dumbledore, duduk di sebelah Harry.

Harry melirik ke atas, berharap tidak ada selembar rambut-nya yang hilang terbakar.

"Er-- B-baik, Sir.." kata Harry gugup. Dumbledore.. Seperti apa yang dia harapkan datang di bulan-bulan sebelumnya... Sungguh menakjubkan...

Hagrid tersenyum.. "Tidak usah gelisah, Harry.. Dia masih tetap Kepala Sekolah yang dulu.. Yerr.."

"Tapi dia belum diberi penjelasan Albus.." kata Mr Scrimgeour, ".. kamu memang gila Dumbledore.."

Ron dan Hermione terkikik. Dumbledore tersenyum lagi, "Untuk itulah aku di sini, Tuan Menteri.."

Harry beranjak untuk duduk. Hagrid menaruh kue besar di atas meja, yang diyakini Ron sebagai versi gagal dari Kue Naga.. Remus Lupin, Mr dan Mrs Weasley serta beberapa orang sedikit menyingkir untuk memberikan tempat bagi Dumbledore..

"Oh ya.. Harry.." kata Dumbledore, "dalam perjalanan.. Tadi ada bungkusan sebesar Troll berisi permen lemon terbang melayang di koridor rumah-sakit.. dan aku tidak tahan untuk tidak mengambilnya.."

Saat, Dumbledore membuka bungkus permen itu.. Harry tersenyum.

"Baiklah.. Sekarang penjelasan.. Kamu sudah cukup sehat untuk dapat mendengarnya kan Harry?!" Dumbledore menglum permennya, "Aku sadar.. Voldemort bukan orang bodoh.. " (Sekarang, tidak ada yang berjengit saat nama itu disebutkan) ".. sejak dua tahun di Hogwarts aku terus memikirkan cara untuk mengalahkan dia.. tepatnya, membantu kamu untuk mengalahkan dia.. Karena, walau bagaimanapun juga.. Tidak ada yang bisa mengalahkan Pangeran Kegelapan kecuali kamu, Harry...

Tidak mudah.. Voldemort adalah seorang Legilimens.. Apalagi, ada beberapa hal di antara kalian berdua yang saling berhubungan... Tongkat.. Darah.. dan beberapa hal.. Yang menjadikan Voldemort bisa 'merasakan' kamu, Harry.. Dan kadang juga sebaliknya..

"Voldemort penyihir hebat.. Aku yakin dia sudah berkali-kali memasuki pikiranmu.. dan kamu juga penyihir hebat.. Kadang, ada saatnya kamu merasakan apa yang dirasakan Voldemort.. Kemarahan misalnya.. Omong-omong, permen ini enak sekali.. Kau mau, Harry?! Oh salah.. seharusnya kau yang menawari aku ya?!"

Harry dan dua sahabatnya tertawa. Pertanyaan yang Harry ingin ketahui jawabannya terlontar dari mulutnya, "Bagaimana cara Voldemort merasakan saya, Sir..?!"

"Bekas luka.." jawab Dumbledore singkat. Harry menyentuh keningnya..

"Itu bukan sekedar bekas luka akibat sihir biasa, Harry.. Kamu tahu, seperti apakah bentuk lukamu?!"

"Er.. sambaran petir?!"

Harry terkejut saat Dumbledore menggeleng, "Salah, Harry.."

"Memang bentuknya mirip petir, atau halilintar menyambar.. Tapi bentuk sebenarnya adalah... ular.. "

"APA?!?"

Voldemort sangat identik dengan ular dan Harry bergidik mendengar penjelasan ini. Hermione mendekatkan matanya ke arah bekas luka yang sekarang hampir menghilang itu...

"Memang kalau dilihat dari sudut yang berbeda.. seperti merayap..."

"Ular, Harry.. " kata Dumbledore lagi, "Ular yang sedang bergerak merayap.. Bukan ke bawah.. melainkan ke atas, kepalanya tersembunyi di balik rambutmu --orang-orang keliru melihatnya sebagai petir yang menyambar ke bawah, padahal itu sebenarnya adalah ekor ular... Dan percaya atau tidak, aku sendiri kagum dengan kehebatan Voldemort.. Ular sihir di bawah kulitmu yang membentuk luka ini hidup.. bergerak, mengkerut, atau mengeras dan bereaksi sesuai kondisi Voldemort saat itu.. Itulah, mengapa kau sering mengalami sakit di bagian itu... Untunglah, beberapa kawanku yang berpengalaman di bidang pengobatan memberiku informasi tentang Sulur Bluskertaingsten.. Yang tidak hanya menghilangkan bekas luka dalam beberapa jam, namun juga mengisap ampas sihirnya.."

Harry menyentuh bekas lukanya kembali. Tidak ada perasaan apa-apa.. Sulur Buster atau apalah namanya tadi pasti sudah mengisap ular bekas luka itu...

Dumbledore, membelai rambut Harry. "Hmmm.. sampai di mana tadi?! Oh ya.. Karena Voldemort bisa merasakan-'mu', --dengan menganalisa pikiran dan perasaanmu-- dia bisa mengetahui apa yang ada di sekitarmu.. Tentang teman-temanmu.. Tentang situasi sekolah dan macam-macam. Ini menjelaskan kenapa aku 'menyuruh' Snape membunuhku.."

Ron dan Hermione berpandangan.

Harry bingung, "Anda tidak menjelaskan apa-apa, Profesor.. Apa hubungannya dengan... ?!"

Tapi Dumbledore memotong, ".. Sadarkah kau, kami.. para guru.. teman-teman kami sangat menyayangimu?! Kami sangat mendukungmu.. terlebih aku.. Dan seperti Lily, rasa sayang itu melindungimu, Harry...

Voldemort tidak bisa mendekatimu karena aku tahu kelemahannya.. Dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang, Harry.. Untuk itulah, dia menebarkan kebencian..

Voldemort tidak mengenal kasih sayang.. Tapi dia bisa merasakan 'kasih sayang' yang kami berikan untukmu, lewat dirimu.. Dan ini membuat Voldemort merasa kebenciannya semakin meluap.. Dan saat dia marah, Voldemort menjadi seribu kali lebih berbahaya.. Dia bahkan membunuh para pengikutnya sendiri.. Lucius misalnya.."

Tapi kelemahannya bukanlah kemarahan.. Kelemahannya justru adalah rasa gembira.. Saat Voldemort sedang bergembira adalah saat dia lengah... Kenapa?! Karena saat dia bergembira.. dia merasakan sedikit kebahagiaan, yang tanpa dia sadari menghapus kekuatan jahat dan sihir hitamnya..

Dan apa hubungannya dengan sandiwara kematianku ini?!?"

Harry menggeleng. Dumbledore lagi-lagi tersenyum..

"Sekarang aku ingin bertanya Harry... Menurutmu, siapakah orang yang paling Voldemort takuti?! Siapakah orang yang bisa mengancam dia?! Siapakah penyihir dari dunia baik yang berwibawa dan disegani?!?" Dumbledore mengatakan itu dengan lembut dan tanpa rasa jumawa..

"Anda, Sir.."

"Nah..." Dumbledore mengerling, "Kalau aku tidak ada?! Kalau aku mati.. Siapa yang paling merasa bergembira?!?

Ron dan Hermione mengucap 'Voldemort' dengan bisikan, dan Harry langsung paham..

"Tapi profesor?!" tanya Harry, ".. tapi kenapa Anda juga...?!?"

"Aku tahu Harry..." potong Dumbledore, "Kau pasti ingin bertanya? Kenapa aku juga harus bersandiwara di depan masyarakat sihir?! Kenapa aku harus mati.. bahkan sampai menjadikan Snape jadi orang yang paling dibenci?!?"

Harry mengangguk..

"Ada 2 alasan... Pertama, sudah kukatakan Harry, Voldemort bisa merasakanmu dan keadaan di sekitarmu. Kalau aku memberi tahumu tentang sandiwara kematianku padamu, Voldemort juga akan merasakannya. Saat dia merasakan bahwa kamu merasa sedih karena aku mati, bukankah itu menjadikan dia lebih yakin bahwa aku memang sudah mati?!

"Dan kenapa masyarakat sihir --well, kecuali beberapa orang khusus-- juga musti ikut jadi korban sandiwara-ku?!?-- Itu karena sifat kamu yang seperti James.. Selalu ingin mencari tahu.. Kamu pasti akan mencari tahu apakah aku ini masih hidup atau tidak, dan akhirnya pasti akan menemukan orang yang membuka rahasia ini..

Dan ini menjadikan kamu gembira bahwa aku masih hidup, dan menjadikan Voldemort menjadi lebih waspada...

"Kedua.. Severus... Aku percaya kepadanya.. Orang yang benar-benar berbakat.. Hebat dan sangat tangguh dalam keadaan yang berat.. Dia bersedia menjadi pelaku pembunuhanku dan menjadi sasaran kebencian seluruh dunia sihir demi membantumu, Harry.. Dia juga satu-satunya orang yang dapat membuat ramuan Suri, yang membuat kita benar-benar mati secara fisik --tapi tidak secara nyawa...

Tentu saja.. Untuk kembali hidup aku juga butuh bantuan Snape.. Dia bahkan mempertaruhkan nyawanya untuk kembali ke lingkungan kegelapan Voldemort.. bergaul kembali bersama para Pelahap Maut... memberikan keuntungan dengan menjadi mata-mata...

"Paham Harry?!"

Ketiga remaja itu mengangguk.. Merasa malu setelah beberapa tahun terakhir ini merasa sangat membenci Snape.

Dumbledore memang luar biasa. Dia 'membunuh-diri'-nya sendiri untuk mengelabui Voldemort --dan untuk itu, dia juga harus mengelabui seluruh masyarakat sihir.. Kementrian.. Hogwarts.. Dan juga Harry sendiri..

Harry menerawang ke arah jendela.. Orang-orang itu masih juga ribut..

Hagrid menggerung. "Profesor.. Kalau Anda tidak keberatan, boleh saya ajak Harry dan teman-temannya keluar sebentar.."

Mentri Sihir, Mrs Weasley dan seorang perawat langsung berteriak tidak setuju. Dumbledore malah tertawa.. "Itu tergantung Harry, Hagrid.."

"Yer, Harry!? Ayo kugendong di pundakku!!! Di sini membosankan..."

Harry memandang Ron dan Hermione, kemudian mendongak ke arah Hagrid. "Aku coba dulu, apakah aku bisa berjalan.."

"TIDAK BOLEH!!!" bentak Mrs Weasley

Harry beranjak berdiri.. Dia tidak merasakan sakit di kakinya, padahal dia ingat, Antonin Dolohov, salah seorang Pelahap Maut menusuk kakinya dengan pecahan nisan.

Tahu Harry tidak merasakan sakit, Hagrid langsung mengangkat remaja itu ke atas pundaknya.. Harry berteriak ngeri, dan langsung teringat saat kelas satu dia bergelantungan di lengan Troll, di kamar mandi perempuan..

"Ayo.. kita jalan-jalan..." kata Hagrid, "Ayo kalian di sampingku.. Ron, Hermione..."

"AKU BILANG TIDAK BOLEH.."

"Nanti kita naik Buckbeak"

"HAGRID!!!!!"

Dumbledore sudah berhenti tertawa. "Kalau kalian memang ingin jalan-jalan, biar aku bantu sedikit.."

Dumbledore meraih tongkat dari jubahnya, kemudian melambaikan ke arah jendela rumah sakit. "Itinerus" Sebuah tangga sihir berwarna emas tiba-tiba muncul dan membentuk jalan, dari jendela rumah sakit di lantai 4 melingkar turun ke arah danau di bawah..

"Jangan khawatir.. Tangga ini dijamin kuat menahan 3 troll.. Jadi, tidak akan runtuh oleh Hagrid.."

Harry tertawa, merasa bahagia..

"Jangan sampai orang-orang itu melihatmu Hagrid.."

Ron tersedak, tidak bisa membayangkan Hagrid yang tidak terlihat..

"Ayo, Hermione!!!" kata Hagrid, mulai mendaki tangga sihir Dumbledore. Mrs Weasley masih saja was-was dengan kondisi Harry.

Pandangan penyihir-penyihir dewasa di ruangan itu mengikuti Harry Potter di pundak Hagrid yang berjalan bersama Ron Weasley dan Hermione Granger ke arah jendela ruangan yang kemilau diterangi cahaya senja...

Tak ada lagi kegelapan.. Tak ada lagi bekas luka..

Kembali

Hosted by www.Geocities.ws

1