|
Bekas Luka
by:
cicakgirl
Rating: PG-13
Rada aneh, ya?? Huhuhu..
______________________________________________
"AVADA KEDAVRAAA!!" seruku.
Tongkat sihirku yang teracung mantap meluncurkan seberkas
sinar hijau yang menghantam sosok berkerudung di depanku.
Sosok itu langsung roboh. Semuanya terjadi dengan cepat
sekali. Aku menurunkan tongkatku, agak merinding. Kutukan
inilah yang merenggut keluargaku dariku. Inilah kali pertama
aku membunuh orang dengan kutukan ini.
Aku mengusap darah di bibirku dengan lengan jubahku yang
kotor. Perlahan, aku mendekati sosok itu. Kerudungnya
tersingkap dan aku dapat melihat wajah orang yang kubunuh
dengan sangat jelas. Matanya yang berpelupuk tebal
menyiratkan kengerian. Namun, bibirnya menyunggingkan
senyuman culas yang menjijikkan. Darahku mendidih. Inilah
Bellatrix Lestrange, pelahap maut memuakkan yang membunuh
waliku. Menghancurkan impian indahku untuk hidup bersama
orang yang paling kusayangi. Bahkan ketika ia sudah jadi
mayat, ia tetap kelihatan menjengkelkan. Kuludahi wajahnya
yang beku itu. Tindakan yang tidak sopan bagi anak berumur
tujuh belas tahun. Tapi aku tak peduli.
Aku mengacungkan tongkatku dengan siaga dan berjalan keluar
dari kamar yang biasa kutempati bersama Ron, sebelum pelahap
maut menyerbu Grimmauld Place. Suara-suara pertempuran,
ledakan, dentuman, dan jeritan Mrs Black bercampur menjadi
satu. Aku menghela napas panjang. Membunuh orang bukanlah
pengalaman yang menyenangkan. Kepala-kepala peri rumah yang
tergantung di dinding koridor bercahaya tertimpa cahaya obor
yang redup. Perlahan, aku berjalan menyusuri koridor dan
bermaksud untuk turun. Aku harus membantu yang lainnya.
"Harry.."
Aku tersentak dan segera membalikkan badan dengan tongkat
teracung. Suara itu.. mungkinkah itu dia?
"Turunkan tongkatmu, Harry," kata suara tanpa sosok itu.
"Siapa? Siapa kau?" seruku. "Tunjukkan dirimu!"
Tiba-tiba dari keremangan koridor muncullah mata yang sudah
kukenal itu, yang dibingkai oleh kacamata bulan separo.
Jenggot keperakannya yang panjang juga ikut muncul, beserta
tubuhnya yang dibalut jubah ungu dengan bintang-bintang
keperakan yang berkelap-kelip. Jubah gaib yang tadi
membungkus tubuhnya disampirkannya di bahu.
Aku ternganga tidak percaya. Namun, aku buru-buru menguasai
diriku lagi. "Siapa kau sebenarnya? Dumbledore sudah
meninggal!"
Sosok Dumbledore itu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Terlalu
banyak prasangka. Prasangka dimana-mana. Tidak baik,"
katanya. "Tapi, aku tak menyalahkanmu. Situasi sedang sulit."
"Jangan banyak bicara! Menyerahlah, pelahap maut!" seruku.
"Harry, aku benar-benar Dumbledore. Memang sulit dipercaya,
sebenarnya. Namun aku benar-benar aku. Aku bukan pelahap
maut. Lihatlah, tongkatku saja tidak teracung," ia
mengangkat kedua tangannya. Tangannya yang kisut nampak. "Percayalah,
Harry. Apa aku harus sebutkan selai favoritku? Baiklah,
kalau kau minta. Aku sangat suka selai raspberry." Katanya
tenang sambil tersenyum.
"Oh, yeah," kataku dingin. "Kau pasti sudah mengadakan riset
tentang selai favorit Dumbledore, pelahap maut!"
Ia menghela napas. "Bagaimanakah caranya agar kau percaya?"
desah Dumbledore. "Begini saja, aku akan jalan di depanmu
dengan tangan terangkat, dan tanpa memegang tongkat.
Sementara kau berjalan di belakangku. Kita harus turun
kebawah dan membantu teman-teman kita. Jujur, aku tidak mau
kehilangan rekan-rekan yang sangat kusayangi."
Aku enggan diperintah oleh orang tidak jelas sepertinya.
Namun, teriakan pilu Ron membuatku berubah pikiran. "Baiklah.
Cepat, kau jalan duluan. Kalau kau macam-macam aku takkan
segan-segan membunuhmu. Asal kau tahu, aku sudah pernah
membunuh orang."
"Ya Bellatrix, kan? Aku takkan macam-macam." Ia berjalan
dengan patuh dan tangan terangkat di depanku.
"Aku punya rencana," katanya. "Aku akan muncul dan
mengalihkan perhatian. Sementara kau pakai jubah ini dan
menyelinaplah ke bawah. Bunuhlah Voldemort. Akhiri ini semua."
Ia menyerahkan jubah itu padaku.
Aku diam saja. Rencananya terdengar sangat masuk akal. Aku
harus mengakhirinya. Aku tak kuat mendengar
teriakan-teriakan dan ledakan-ledakan yang terus bergaung.
Aku memakai jubah itu dan tubuhku menghilang. Dumbledore
telah tiba di bibir tangga terlebih dahulu. Aku masih
mendengar suara-suara pertempuran.
"DUMBLEDORE!!" jerit seseorang. Dan suasana menjadi sunyi.
Semua terpana melihat sosok tua itu.
Dumbledore mengacungkan tongkatnya dengan kecepatan yang
luar biasa. Aku segera menyelinap ke tengah kerumunan yang
sedang tercengang. Pemandangan yang kulihat sungguh tidak
mengenakkan. Neville tergeletak di sudut ruangan,
kelihatannya hidungnya patah. Ada sepotong jari yang
tergeletak di lantai.
Aku melihat kilatan cahaya hijau. Dumbledore telah
meluncurkan kutukan ke pelahap maut yang berdiri dekat kaki
tangga. Pelahap maut itu langsung roboh. Dia Wormtail.
Mataku tertumbuk pada sosok berjubah yang mengamati
Dumbledore. Tongkatnya teracung, siap mengutuk.
"AVADA KEDAVRA!!" seruku tanpa pikir panjang.
Sosok itu menjerit dan roboh. Namun, tubuhnya masih bergerak.
Sejenak kemudian tubuhnya tidak bergerak lagi.
"Voldemort mati!" seru Dumbledore. "Ayo habisi semua pelahap
maut!!"
Semua orang mulai beraksi. Namun, aku tidak bisa apa-apa.
Segalanya terasa berputar. Aku roboh ke lantai. Perasaanku
lega. Segalanya terasa gelap. Akhirnya, aku berhasil
membunuh Voldemort, si pembunuh keluargaku. Orang yang telah
memberiku bekas luka ini.
END
Kembali |