logo SUARA MERDEKA
Line
 Internasional Sabtu, 26 September 1998  
Line
 

Media Massa Asing Jadi Sasaran Kemarahan

KUALA LUMPUR - Media massa di Malaysia kini barangkali tak beda dengan masa Orde Baru di Indonesia. Pemerintah Malaysia makin bersikap keras dan ketat terhadap media massa asing, memblokir beberapa pemancaran berita-berita dan menuduh wartawan-wartawan asing sengaja memanas-manasi ketegangan politik di negeri itu.

Pemerintahan PM Mahathir Mohamad mengeluh dan menganggap para wartawan asing sangat bias dan berkesan menunggu-nunggu kejatuhan Mahathir. Para wartawan asing ini berdatangan ke Malaysia sejak pekan lalu untuk meliput ketegangan politik ini.

Hubungan antara media massa dengan pemerintah makin tegang sejak penangkapan mantan menkeu/wakil PM Anwar Ibrahim Minggu lalu. Seperti diketahui, Anwar dipecat 2 September lalu dengan tuduhan melakukan tindak penyimpangan seksual dan pengkhianatan.

Kamis lalu saat konferensi pers misalnya, ketika ditanya wartawan perihal keberadaan Anwar sejak ditangkap Minggu lalu, Kepala Kepolisian Federal Abdul Rahim Noor minta kepada wartawan BBC itu agar "tutup mulut''. Seketika itu juga, seorang polisi langsung menggamit lengan si wartawan.

Keluhan Mahathir umumnya adalah, wartawan asing dengan liputannya soal kerusuhan dan gejolak ekonomi Malaysia, sengaja membuat negeri ini seolah-olah dalam kondisi sangat buruk.

Saat konferensi pers Kamis lalu, Mahathir mengecam pedas wartawan CNBC Asia, sebuah jaringan televisi regional, karena mengiarkan rekaman video Anwar yang dibuat sebelum penangkapannya.

``Anda bebas menayangkan berita itu setiap satu setengah jam karena anda memiliki media ini dan bisa memberitakan kebohongan kepada seluruh dunia, serta mempengaruhi seluruh dunia agar menentang kami,'' kata Mahathir.

Kipasi Oposisi

Keluhan lain adalah, para wartawan dianggap mengipasi sepak terjang oposisi yang ingin menggulingkan Mahathir. Setelah Soeharto jatuh Mei lalu, Mahathir kini menjadi satu-satunya pemimpin di Asia Tenggara dengan kekuasaan terlama (17 tahun).

``Anda ingin mengulangi peristiwa Jakarta di sini,'' kata Rahim Noor kepada wartawan. "Oke, media asing bakal menghadapi situasi pertempuran.''

Sebelum ditangkap Minggu lalu, Anwar memimpin dua pawai akbar menentang kekuasaan Mahathir. Anwar bahkan dengan terang-terangan menuntut Mahathir mundur.

Para pejabat tentu saja cemas ketika media massa elektronik dan cetak ramai-ramai memberitakan protes Anwar, dan bukannya menyiarkan peristiwa-peristiwa positif seperti misalnya kunjungan Ratu Elizabeth II ke Kuala Lumpur.

Sejak pawai protes Anwar itulah, pemancar-pemancar asing dilarang menggunakan pemancar milik pemerintah untuk menyiarkan berita negatif tentang Malaysia.(AP-gn-52) 


Berita Utama | Semarang | Sala & DIY | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Opini | Ekonomi | Suplemen | Fokus | English | Menu Utama 
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA
Hosted by www.Geocities.ws

1