FEMINISME & GENDER DALAM MEDIA

   
    Author : Soraya    
         
   

Gerakan feminisme ini, lebih melihat dari sisi keberagaman budaya dan kultur yang ada. Multikultural didefinisikan sebagai gerakan sosial intelektual yang mempromosikan nilai-nilai keberagaman sebagai suatu prinsip dasar, multikulturalisme menuntut bahwa semua kelompok kebudayaan harus diperlakukan dengan penuh penghargaan dan sebagai orang yang setara. (Rosemarie Putnam Tong, Feminist Thought, Jalasutra, Yogjakarta.).


Apa yang dirasakan seorang wanita jawa jaman dahulu yang menjadi seorang selir, dimana dengan statusnya itu dia merasa terhormat, maka disitu tidak bisa dikatakan penindasan terhadap perempuan. Demikian pula Geisha sebagai profesi terhormat di Jepang. Begitu juga dengan contoh seorang penari ronggeng, dimana dia berusaha mengeksploitasi uang laki-laki dengan mengajaknya menari dan juga sesekali menggoda supaya disawer, tapi disisi lain laki-lakinya merasa mampu mengekspoitasi penari tersebut dengan mengajak dia menari dan juga sesekali memegangnya.


Maka dari contoh ini, sudah tidak jelas lagi siapa yang diekspoitasi dan siapa yang dirugikan. Maka gerakan ini lebih menekankan adanya peninjauan ulang terhadap kemajemukan kultur dan budaya yang ada untuk menentukan ada atau tidaknya penindasan yang akhirnya perlu dibela.
Apakah budaya patriaki ? Menurut Dra Fee Sondak Manumpil “Patriarki berasal dari kata patri-arkat berarti struktur yang menempatkan peran laki-laki sebagai penguasa tunggal, dan sentral. Jadi budaya patriarki adalah budaya yang dibangun atas dasar struktur dominasi dan sub ordinasi yang mengharuskan suatu hirarki dimana laki-laki menjadi suatu norma”. Salah satu contoh budaya patriarki adalah budaya priyayi.


EKSPLOITASI MEDIA


Kaum feminis mengkritik bahwa pornografi merupakan bentuk eksploitasi perempuan, di mana produksinya secara umum ditujukan untuk konsumsi laki-laki.
Di sini industri film porno merupakan komoditas luar biasa dalam industri budaya (Adorno and Horkheimer 1979), dimana Sex menjadi barang yang dikomodifikasi.
Organisasi dalam industri pornografi secara umum juga didominasi para laki-laki. Laki-laki seringkali (tidak bermaksud mengeneralisasi) menempati posisi direktur, pemilik modal, distributor, sutradara, editor, produser, penulis naskah, kameramen, fotografer, koreografer, sementara perempuan hanya terlibat dalam akting, modeling, dan pendukung.


Eksploitasi yang telah dilakukan industri pornografi telah semakin jauh. Pornografi sudah menginfiltrasi budaya pop mainstream. Ia  merambah ke berbagai media sperti media cetak, TV, film maupun internet.


Namun kritik Feminisme juga tidak hanya sebatas industri pornografi dalam arti harafiah film atau gambar porno saja seperti di majalah Playboy.
Kritik feminis juga banyak membahas konten dari media dari berbagai aspek serta alat media. Media massa dianggap masih memberi tempat bagi proses legitimasi bias gender, terutama dalam menampilkan representasi perempuan. Kenyataan ini dapat dilihat dari berbagai citra dan teks pemberitaan, iklan, film, sinetron dan produk media massa lainnya. Yang ditampilkan adalah kondisi perempuan sebagai objek, dengan visualisasi dan identifikasi tubuh seperti molek, seronok, seksi, dan sejenisnya.


Dalam pemberitaan kasus kriminal seperti pemerkosaan misalnya, perempuan juga sering digambarkan sebagai sosok yang seolah ikut andil sehingga meyebabkan kasus itu terjadi, bukan murni sebagai korban kejahatan kaum laki-laki. Atau jika ada kasus pelecehan maka seolah perempuan berpakaian mini lah yang salah. Jika ditilik dalam beberapa narasi berita, penggunaan kosa kata masih berorientasi seksual, seperti “dipaksa melayani nafsu”, “bertubuh molek”, dan sebagainya. Dominasi pekerja media dan journalis yang juga laki-laki dianggap membuat media dan pers sering terjebak membuat berita atau produk dari kaca mata laki-laki.

Bucy, Erik P. 2002. Living in the information age: A new media reader. USA: Wadsworth.: Perempuan dan segala stereotipe-nya dalam pandangan media massa adalah komoditas yang laku dijual. Media massa, di Indonesia, sebagai bagian dari lingkaran produksi yang berorientasi pasar menyadari adanya nilai jual yang dimiliki perempuan.


Sejak awalnya kegiatan jurnalistik baik cetak maupun elektronik selalu didominasi pria. Beberapa pakar menyebut jurnalistik ini sebagai jurnalistik maskulin yang menggunakan pandangan dan subjektivitas pria untuk meneropong perempuan. Lihat saja cover majalah didominasi gambar perempuan. Banyak produk atau jasa yang diiklankan seperti, motor, mobil, dan celana jins dalam majalah dan surat kabar juga dihiasai dengan sosok wanita cantik yang berpenampilan minim. Menurut perkiraan, 90 persen periklanan memanfaatkan wanita sebagai model iklannya (Deddy Mulyana, 2008).


Juga bila kita lihat presenter/host di televisi yang sudah pasti perempuan berparas cantik, termasuk untuk program berita sekalipun, terlepas dari kemampuannya. Beberapa rekan saya yang menjadi produser program berita sering bergunjing bahwa presenter/ancor mereka sebenarnya tidak mumpuni secara kemampuan jurnalis atau IQ, tapi orang di belakang layar lah yang membentuk mereka agar terlihat ‘smart’ di layar kaca. Tentu saja tidak semuanya. Berbeda dengan di Negara Barat jika kita lihat presenter berita ataupun jurnalis senior yang memberikan live report tidak selalu mereka yang berparas cantik atau ganteng. Bahkan banyak dari mereka yang telah berusia 40 tahun keatas, atau rambut yang telah banyak beruban.


Hal penting lain dalam argument feminis adalah, media telah berperan membuat tubuh perempuan sebagai obyek. Tak hanya unsure seronok atau memamerkan bentuk tubuh saja, tetapi segala hal yang menyebabkan pandangan tentang perempuan menjadi salah. Misalkan tubuh perempuan kurus digambarkan dan diterima sebagai bobot ideal seorang perempuan. Standar demikian dianggap mencerminkan penindasan atas kaum perempuan dengan menonjolkan citra yang tidak realistik tentang kecantikan.


Banyak feminis yang menganut pendapat mengenai adanya hubungan antara citra media tentang tubuh perempuan yang langsing dengan perkembangan kebiasaan buruk makan seperti anoreksia nervosa (Chermin, dkk dalam Alison Shaw, 2007). Saat industri semakin pesat dan iklan berlomba-lomba sebagai alat menjangkau konsumen, eksploitasi terhadap perempuan juga dianggap makin parah terjadi. Perempuan menjadi sangat potensial untuk dikomersialkan dan dieksploitasi, karena posisi perempuan menjadi sumber inspirasi dan juga tambang uang yang tak habis-habisnya. Ini karena iklan, bagaimanapun adalah sebuah produk industri yang berwajah kapitalis. Dan kapitalisme, dianggap tidak peduli dengan isu kesetaraan gender. (Astuti, 2004)


Lambat laun fenomena ini akan menjadi sebuah pembodohan ketika semua perempuan berpendapat bahwa gambar apapun yang dilihat melalui media memberi pesan/ membentuk pola pikir, bahwa seperti itulah seharusnya perempuan terlihat (Alison Shaw, 2007). Keadaan ini dapat pula dikategorikan sebagai aplikasi teori agenda setting. Media seolah dapat menentukan content apa saja yang akan disajikan kepada audience wanita sebagai penonton televisi terbanyak dan “merayu” nya untuk menjadi konsumen atas semua iklan yang ditayangkan.


Tetapi gerakan Feminisme dalam media sudah mulai terasa termasuk di Indonesia. Peraturan-peraturan yang lebih arif dalam melindungi perempuan, juga peran perempuan dalam media dalam menyuarakan kesetaraan gender. Di Indonesia, 2 orang seniman dalam bidang yang berbeda yakni musik dan film beberapa kali melahirkan karya dengan aroma feminisme yang kuat. Yakni Melly Goeslaw dan Nia Dinata. Lirik lagu karya Melly Goelaw yakni Terbujuk, Salah dan Takut Terlambat menggambarkan adanya upaya untuk mewujudkan kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan. Dimana perempuan di dalam lirik lagu tersebut sangat berlawanan dengan stereotype yang sudah melekat selama ini.

SALAH
By Potret
Slama ini kau masih merasa Aku slalu menantimu Dua minggu kau tak menghampiri Karna kau dengan yang lain
Ibanya hatiku sayang Karena pikiranmu salah slama ini Setiap kau tak datang sayang Padahal aku tak pernah ada di rumah
Slama ini aku pun mendua Tapi kau tak tahu sayang Pikirmu kau yang menyakitiku Bukan bukan kamu sayang
Ibanya hatiku sayang Karena pikiranmu salah slama ini Setiap kau tak datang sayang Padahal aku tak pernah ada di rumah
S’lalu ku bilang Aku tak sebaik kau pikir Tak pernah ku nantikan kamu Ku cinta kamu bukan berarti Ku tak mendua Sayang kau nilai aku salah
Sementara representasi feminisme terasa dalam film karya Nia Dinata seperti: Arisan 1 & 2, Berbagi Suami, Cau Bau Kan, Perempuan Punya Cerita


Perempuan Punya Cerita
Perempuan Punya Cerita memang sangat bersuara perempuan karena di kehidupan nyata, terjadi pula perempuan-perempuan yang menderita karena pihak lelaki.
Film dibagi ke dalam empat segmen yakni Cerita Pulau mengenai seorang ibu pengaborsi yang memiliki putri berkelainan mental yang diperkosa para pemuda di kampung, Cerita Cibinong menyambar isu eksploitasi anak dan traficking, Cerita Yogyakarta mengenai pergaulan bebas anak-anak SMA di Yogya, serta Cerita Jakarta mengenai perempuan yang terkena HIV yang diwariskan sang almarhum suami yang pemakai narkoba. Meski memiliki teknis yang kurang memukau, film ini menjadi film yang akan diingat sepanjang masa.


BERBAGI SUAMI

Berbagi Suami adalah salah satu film terbaik di era 2000-an. Menghamparkan kualitas akting yang cemerlang dari para aktor, juga ide cerita yang orisinil sekaligus komedis. Sama seperti judul film yang menggelitik dan menyentil kaum Adam yang beistri banyak. Kalangan perempuan yang dipoligami ini tidak menganggap diri di posisi minor, melainkan superior dengan menganggap sang suami sebagai ‘mainan’ yang harus di-‘share’.


CAU BAU KAN
Film pertama Nia Dinata ini berdasar novel berjudul sama karya Remy Silado. Mengambil latar zaman Kolonial Belanda tahun 1930-an sampai pasca kemerdekaan tahun 1960. Mengisahkan  tentang gadis betawi bernama Tinung yang sering ‘digunakan’ para Tionghoa. Kepopuleran membuat ia dipinang oleh seorang juragan. Namun ia kabur dalam keadaan hamil dan bekerja sebagai pelacur di Kalijodo. Ia kemudian menjalin asmara dengan seorang pengusaha Tionghoa dan menjadi pencari cokek. Keduanya terpisah karena sebuah konflik, namun kembali bertemu. Film ini tidak hanya menyinggung posisi yang dialami perempuan, serta isu-isu lokal lainnya.

 

 

   
   
BACK
   
    COMMENT    
   

   
   
copyright Soraya