SEPENGGAL KISAH DARI JALANAN

 

author : Soraya
 

Berbagai kisah berada di balik setiap anak yang terdampar di jalanan ibukota. Salah satunya adalah Rama. Bocah berusia 10 tahun ini, mengarungi kerasnya hidup di berbagai stasiun dan jalanan ibukota, demi melampiaskan rasa rindunya terhadap sang ibu yang pergi meninggalkannya. Bagaimana sepenggal kisah yang dituturkan Rama?

Namaku Rama… umurku sekarang 10 tahun. Sudah tiga tahun ini menghabiskan waktuku dari stasiun ke stasiun…dari Jakarta hingga Bogor kujelajahi… Setiap kali kereta berenti, aku bergegas masuk ke dalam gerbong. Aku biasa mengejar gerbong demi gerbong. Membersihkan sampah diantara kaki para penumpang kereta….Debu dan keringat tak kuhiraukan lag.

Sambil memunguti sampah yang berserakan di dalam gerbong, aku meminta upah kepada para penumpang. Tapi tak semuanya memberi. Seringkali mereka tak menghiraukan aku, bahkan ada yang memarahiku. Selain menyapu gerbong, aku juga suka mengamen…. Pokoknya apa saja yang bisa aku lakukan, demi mendapatkan uang. Dalam sehari, aku bisa memperoleh hingga dua puluh ribu rupiah.

Sebenarnya aku punya keluarga. Ibuku bekerja menjadi tkw di Arab Saudi. Tapi tak cukup untuk menghidupi ayah dan ketiga abangku yang pengangguran. Ayah sering minta uang padaku. Sejak ibu pergi, aku harus berhenti sekolah karena waktuku habis untuk mencari uang. Apalagi di sekolah aku juga sering dihina teman-temanku karena aku mengamen. Kini… hari-hari kuhabiskan di stasiun dan jalanan…. Aku tidur dimana saja aku suka.

Ya, memang sulit untuk mandi atau ganti baju. Kehujanan atau merasakan sengatan terik matahari, sudah biasa kualami. Apalagi aku tak mengenakan alas kaki, seringkali aku merasakan kaki ku panas dan perih. Inilah hidupku…Di luar sini, memang terasa bebas…Aku tidak pusing pada apapun juga, dan aku tidak peduli…yang penting aku senang.

Tapi, aku rindu pada ibu….
Seringkali saat bangun tidur…, aku naik ke atas gerbong dan melamun. Aku ingat saat ada ibu di tengah-tengah kami yang mengurusku… Saat-saat itu aku bisa dapat ranking di sekolah, bahkan aku juara menggambar. Aku ingin ibu cepat pulang. Aku janji, kalau ibu sudah kembali, aku akan bersekolah lagi. Aku mau jadi pegawai bank!.

Sekarang, aku berusaha menikmati hari-hariku. Aku punya banyak teman di luar sini… Kami sudah bertahun-tahun saling mengenal. Sama seperti diriku, teman-temanku juga lebih memilih hidup di stasiun dan jalanan, karena ingin mencari uang. Ada yang memiliki harapan yang sama seperti aku, yaitu kelak bisa berkumpul lagi bersama keluarga, tapi ada juga yang memang kabur dari rumah mereka karena sering dipukuli.

Seperti cerita teman baruku bernama Herik.  Herik tidak betah di rumahnya karena sering diomeli oleh ibu dan ayah tirinya. Herik memilih hidup di jalan, meski kehidupan di jalanan juga tak ramah pada dirinya. Ya, kami memang sering terlibat perkelahian, tapi kami saling menjaga dan melindungi. Aku suka menangis jika melihat temanku dipukuli. Kami juga harus hati-hati menyimpan uang hasil jerih payah kami. Banyak yang kehilangan uang, karena memang kami tidur di sembarang tempat. Bajuku saja pernah hilang, padahal aku baru mencucinya di empang. Beberapa temanku juga pernah terjaring razia. Untung aku dan yang lainnya berhasil meloloskan diri. Seperti temanku, Jupri. Jupri sudah 5 tahun hidup di jalan seperti diriku. Ia sudah sangat gesit menghindari kejaran petugas.

Hasil dari kami membersihkan gerbong dan mengamen, untuk makan dan membeli rokok. Semua teman-teman aku merokok.
Kadang kami juga suka berjudi kecil-kecilan. Sebagian ada yang suka menghirup lem di dalam kaleng. Biasanya kami sebut dengan ngelem. Bisa bikin melayang….Ya, seolah sejenak dapat melepaskan semua beban. Dulu aku dan jupri juga sempat minum minuman keras dan ngelem. Awalnya ikut-ikutan teman. Tapi aku takut karena banyak temanku yang meninggal.

Nah, sambil menunggu kereta datang atau jika lelah mengamen, aku dan teman-temanku biasa bermain di atas gerbong atau di peron. Kami bermain….bercanda….atau sekadar iseng memukuli gerbong yang melintas… Memang bahaya, tapi hanya itu lah keceriaan yang kami miliki. Atau sekadar bernyanyi, karena hanya itu lah hiburan yang kami punya……
Terdampar di jalanan…, inilah keluarga kami…


Tayang di Global Siang, 24 Januari 2010
Memenangkan Aji-Unicef Award 2010: AJI – UNICEF unveils awards for best media reporting on children’s issues

 
 
Back
 
 
COMMENT
 
 

 

 
 

copyright Soraya